
"Di sini saja, jangan cemaskan yang lain, aku tidak punya tenaga lagi bahkan untuk bergerak saja tidak mampu yang ku inginkan sekarang hanya tidur" kata Joon yang memegangi tangan Shaina.
Sekali lagi dari perkataan Joon menggoreskan luka di hatinya, walaupun begitu Shaina menuruti saja sarana Joon untuk tidur di sebelahnya selain tidak punya tenaga untuk kembali bergerak ke kamar Alice dan Alfan, dikarenakan nyeri tadi masih terasa di pinggulnya dan itu akan semakin sakit jika Shaina memaksa diri untuk berjalan. Di tariknya selimut tebal itu untuk menyelebunginya tubuhnya, namun sesekali ia tampak menyeka air matanya.
"Lelah? Lelah apanya? Bukankah ia bahagia baru mendapatkan pelayanan istimewa di hotel dengan perempuan itu?" Cicit Shaina yang tidur dengan membelakanginya Joon.
Shaina menoleh ke belakang dan melihat Joon sudah tertidur pulas dalam sekejap.
" Siapa suruh juga dia pulang setelah melakukan itu? seharusnya ia lanjutkan sampai puas!" Dengus Shaina yang kesal pada Joon.
Shaina mengganti posisi tidurnya dengan menghadap ke arah Joon, menatap wajah tampan itu yang tampak sangat tenang dalam tidurnya. Seketika kemarahannya tadi hilang tanpa membekas melihat Joon yang tertidur pulas seperti itu dimana membuat kaum hawa manapun akan jatuh hati padanya tidak terkecuali Shaina, kian hari kian meningkat perasaannya terhadap Joon, bunga-bunga seakan bertebaran disetiap bersama Joon, perasaan yang tidak pernah ia rasakan pada lelaki manapun.
Meski dulunya orang-orang dari keluarga, teman-temannya dan tetangganya hingga siapapun yang mengenalinya suka memperkenalkannya pada seseorang atau menjodoh-jodohkannya agar Shaina dapat mengubah status singlenya jadi berpasangan, tapi tetap saja tidak ada yang mampu membuka hatinya, tertarik pun tidak, meski orang yang diperkenalkan padanya cukup menarik mulai dari kehidupan sosialnya sampai latar belakangnya. Namun tidak dengan Joon, baginya dia lelaki yang sangat menawan tidak hanya dari parasnya saja tapi cara ia memperlakukannya dengan baik walaupun orang lain melihatnya seribu keburukan tapi ia bisa melihat satu kebaikan padanya, baginya itu sudah cukup dari pada orang melihatnya seribu kebaikan tapi ia menyembunyikan satu keburukan, karena Shaina lebih tertarik pada orang terlihat buruk tapi menyembunyikan kebaikannya daripada orang-orang ria yang sering ia temui, selalu bersikap baik namun dibaliknya melakukan sebaliknya.
Walaupun Shaina tahu pergaulan Joon tergolong sangat bebas, tapi tetap saja ia tidak bisa mengubah perasaannya. Baginya Joon, orang pertama yang memperkenalkannya pada namanya cinta, cinta yang selalu ia hindari dulu, cinta yang selalu di sepelenya, cinta yang dianggap sebuah kedustaan, cinta yang selalu dianggap ilusi, tapi sekarang Shaina merasa telah terjebak dalam perasaanya pada pemuda asing itu, perasaan takut di tinggalkan, perasaan cemburu, perasaan tidak di percayai dan perasaan-perasaan lainnya.
Senyuman manis Shaina terus menghiasi bibirnya seraya memandangi Joon, namun senyuman itu buyar ketika pikiran cemas menyertainya, ia bergegas duduk di samping Joon, perlahan-lahan menarik kerah kemeja yang dikenakan Joon, untuk memeriksa leher Joon dari bekas bercinta, namun ia tidak menemukannya, jadi sebuah ide gila muncul di kepalanya.
Tangannya cukup hati-hati bermain di kancing kemeja hitam yang dikenakan Joon, "Tolong jangan bangun dulu..." Cicit Shaina.
Sambil gigit bibir, satu persatu kancing baju Joon di tanggalnya oleh Shaina sembari berharap Joon tidak terjaga. Hingga semua kancing baju sudah terbuka namun tidak setitik pun Shaina menemukan bercak merah di tubuh Joon bahkan bekas lipstik pun tidak ada. Malahan Shaina merasa dirinya telah dikuasai bisikan setan untuk menikmati setiap inci dari tubuh Joon yang sangat menggoda, dengan otot-otot yang di selebungi kulit putih bersih dan mulus.
Shaina berinisiatif untuk mencium aroma parfum wanita yang mungkin tertinggal di tubuh Joon, perlahan-lahan ia mengendus bagian tubuh Joon hingga ke lehernya, tapi ia tidak menemukan aroma parfum lain selain milik Joon sendiri.
"Sedang apa kau?".
Shaina terperanjat kaget serta terpaku melihat Joon membuka matanya dengan tiba-tiba. Joon pun sama kagetnya mengetahui kancing kemejanya sudah terbuka semua apalagi wajah Shaina yang sangat dekat dengan wajahnya, ia segera menarik bajunya untuk menutupi tubuhnya kekarnya yang sudah bertelanjang dada. Shaina segera menjauh dan duduk di sampingnya sambil membuang muka bersamaan menahan rasa malu.
"Apa kau berencana untuk melakukan itu padaku?" Timpal Joon sambil menyilangkan tangannya di dadanya dengan ekspresi ketakutan seperti anak kecil.
"Apa maksudmu?" Dengus Shaina.
"Apa kau ingin memperk*saku?" Tambah Joon dengan ekspresinya yang semakin ketakutan.
Shaina berbalik badan dan memukul Joon dengan bantal, "siapa yang ingin melakukan itu padamu? tadi aku melihat ada serangga yang masuk ke pakaianmu!!" Timpal Shaina yang mendengus kesal.
Dengan cepat Joon menarik tubuh Shaina dan merebahkannya di atas ranjang dan di tindihnya lalu mendekatkan wajahnya pada Shaina, "jika ke pengen itu katakan saja, aku pasti akan memuaskan mu jangan seperti ini" bisik Joon pada Shaina.
__ADS_1
Shaina sangat terkejut dan seketika jantungnya hampir copot dengan aksi Joon yang tidak terduga itu.
"Joon! Lepaskan aku! Aku tidak mau!" Pekik Shaina yang ketakutan setengah mati.
"Jangan khawatir, ini tidak sakit kok, aku akan berhati-hati" bisik Joon, menyeringai dengan senyuman jahatnya yang membuat Shaina semakin takut.
Perlahan-lahan Joon mendekati wajah Shaina yang sudah pucat pasi, saking dekatnya wajah Joon, Shaina bisa merasakan hembusan nafas Joon di bibirnya dengan tatapan mata yang sulit diartikan.
Shaina meringis sambil memejamkan matanya, tubuhnya terasa telah mati rasa, apalagi Joon menindih dan memegangi kedua tangannya sehingga ia dalam posisi terlentang dibawah tubuh Joon, memaksa Shaina berpikir macam-macam apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Aku ngerti bukan kau yang menginginkannya melainkan hormon estrogen mu yang meningkat" ujar Joon.
"Joon..., Ku mohon... jangan lakukan itu... ini tidak seperti yang pikirkan hiks...hiks...!".
Kedua pipi Shaina sudah bergelimang air mata, takut jika Joon benar-benar merenggut kesuciannya. Tapi Joon hanya tersenyum melihat Shaina yang sudah menangis.
Terasa tangan Joon menyeka air mata Shaina, lalu ia menyingkir dari atas Shaina.
"Jangan nangis lagi, aku hanya bercanda" ucap Joon.
Karena tindakannya itu, Joon jadi merasa bersalah pada Shaina, "Shaina... Jangan nangis lagi, aku minta maaf" katanya.
"Bercanda mu tidak lucu! Aku kesal! kesal! kesal! Aku benci padamu!!" Sembur Shaina dan tidak mau melihat pada Joon bahkan ia menepis tangan Joon yang ingin menyentuhnya.
Joon terdiam sambil menatap Shaina yang menangis tersedu-sedu dalam balutan selimut, senyumannya tadi telah digantikan oleh ekspresi sendu, rasa bersalah telah menyelimutinya.
"Aku minta maaf, tidurlah..., Aku tidak akan mengganggumu lagi" ucap Joon, Lalu ia beranjak dari tempatnya dan keluar dari kamar sambil membawa selimutnya.
Shaina mengabaikan Joon, ia sudah tenggelam dalam tangisan.
Joon yang keluar dari kamar langsung merebahkan tubuhnya di sofa dalam dan menyelimuti dirinya, pikirannya masih tertuju pada Shaina yang dibuat menangis olehnya. Ia tidak menyangka Shaina setakut itu padahal akhir-akhir ini mereka kerap bersama bahkan tidur seranjang meski tidak melakukan apa-apa.
Paginya Shaina cukup terkejut mendapati Joon yang tidur di sofa ruang tamu, tapi mengingat kejadian sebelumnya membuat Shaina kembali jengkel dengannya, jadi ia tidak peduli dengan keberadaan Joon.
Aksi Shaina yang cuek pada Joon berlanjut hingga ke meja makan sampai Joon pergi bekerja, tidak sekalipun Shaina memulai percakapan kecuali menjawab pertanyaan Joon dengan singkat jika Joon bertanya.
Dicuekin Shaina seperti membuat Joon tidak tenang, beberapa kali ia membuat kesalahan saat bekerja, mulai ia lupa memberi gula dalam kopi pelanggannya hingga salah pesanan, terpaksa ia mendapat teguran dari atasannya yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam dunia kerjanya sebagai Barista di kafe tersebut.
__ADS_1
Harris mengamati gerak-gerik Joon yang agak aneh tidak seperti biasanya itu datang mendekat.
"Hei bro! Ada apa sih, kerajaanmu kacau sekali hari ini? Apa tadi malam Marissa tidak memberi mu vitamin?" Tanya Harris sambil menyeringai.
Joon mendengus kesal padanya, "vitamin-vitamin apanya? Tadi malam aku sebentar saja bertemu dengannya" ketus Joon.
"Kenapa bisa begitu?" Tanya Harris yang mulai penasaran dengan Joon tadi malam.
Joon menghela nafas panjang, berharap perasaan tertekannya ikut keluar bersama hembusan nafasnya. Ia berbalik badan menyandarkan tubuhnya di dinding toilet yang kebetulan saat hanya ada mereka berdua di dalamnya.
"Aku pulang ke rumahku" ucap Joon.
Harris terkekeh, "kau ini benar-benar sudah tidak bisa jauh-jauh dengan Helena ya? Berkencan dengan pacarmu saja bawaan pengen pulang aja" celetuk Harris.
Joon terdiam sambil tersenyum sinis pada sahabatnya itu yang menurutnya tidak mengerti maksudnya. Joon mendekat pada wastafel untuk mencuci mukanya.
Harris tersentak dan segera mengarahkan pandangannya pada Joon yang tampak lesu, "Joon! Maksudmu kau pulang itu, ke rumah...?" Kalimat Harris terputus.
Joon mengangguk, "di rumah itu semalam ada pertemuan keluarga, Tante memaksaku untuk hadir".
Harris diam sembari menatap Joon yang tampak tidak baik-baik saja.
"Rumah itu tempat aku dan kakakku tumbuh bersama orang tua kami, rasanya itu tempat terbaik yang ku miliki tapi sekarang semuanya tampak sepi meski banyak orang yang tinggal di rumah itu".
"Kau pasti sangat merindukan mereka" ujar Harris.
"Kau benar, aku merindukan mereka, suasana rumahku dulu, tapi anehnya saat aku di sana semalam aku malah tidak bisa tidur" kata Joon.
Harris terkekeh bahkan menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu, "hei kawan! tubuhmu ini sudah beradaptasi dengan hidup sederhana jadi saat berada di fasilitas orang kaya kau akan kesulitan" sindir Harris.
"Dasar kau! Bukan itu masalahnya, aku tidak bisa tidur karena mencemaskan Shaina dan anak-anak di rumah, oleh karena itu aku pulang menjelang pagi tapi bukannya di sambut dengan baik aku malah di cuekin, sejak tadi pagi sampai sekarang tidak sekalipun Shaina bicara denganki" ungkap Joon.
"Memangnya apa yang telah kau lakukan hingga Shaina jadi mengabaikan mu?" Tanya Harris.
"I...itu..." Joon meringis, "Oh ya! Aku harus kembali bekerja" kilah Joon bergegas keluar dari toilet meninggalkan Harris yang masih penasaran dengan jawaban Joon.
"Hampir saja aku mengatakannya" gumam Joon seraya mengatup mulut dengan tangannya, langkahnya semakin dipercepat saat Harris mengejarnya dan menanyakan pertanyaan yang sama.
__ADS_1