
️ Bijaklah dalam memilih bacaan, jika masih di bawah umur harap memilih baca bab yang lain
......................
Joon segera melepaskan Shaina, "aku minta maaf" ucapnya pada perempuan yang sedang meringis itu.
"Sudah! jangan pegang-pegang! Lakukan saja yang menjadi tugasmu!" Timpal Shaina, meski wajahnya sudah merah seperti tomat saat bertatap muka dengan Joon.
Joon tidak langsung kembali melanjutkan permainan serunya, ia malah betah berlama-lama menatap wajah Shaina yang sudah dibakar perasaan malu, menahan untuk tidak tertawa.
Shaina bersusah payah untuk tidak beradu pandang dengan lelaki itu tapi ia tidak bisa melakukannya karena Joon tepat di depannya, tanpa terduga Shaina berpegangan pada pundak Joon dan secepat kilat ia mengecup bibir Joon yang sontak mengejutkan Joon.
"Dasar penyihir nakal..." Timpal Joon.
Namun saat Joon ingin membalas ciumannya, Shaina menutup mulut Joon dengan tangannya.
"Kau tidak bercukur ya?" Kata Shaina mengalihkan pembicaraan mereka.
"Aku lupa melakukannya tadi pagi, tapi mulai besok aku akan rajin bercukur". "Masih nyeri?" Tanya Joon.
"Sudah mendingan tapi satu lagi masih sakit".
"Sebentar lagi tidak akan sakit lagi" Joon kembali tersenyum jahat pada Shaina.
"Iiihh... jangan di buka!" sergah Shaina pada Joon yang menyingkap selimut Shaina hingga memperlihatkan kedua gunung berharganya.
"Kenapa? lagian aku sudah melihatnya" balas Joon yang menyeringai.
"Tapi-" gumam Shaina.
Belum selesai Shaina berbicara Joon sudah mengulum sisi yang lain yang memaksa Shaina meringis nikmat, tangannya juga mengelus rambut Joon seperti mengelus bayi yang menyusui. Beberapa menit berselang, Joon terpaksa mengakhiri tugas menyenangkan itu. Tapi ia masih berada di atas Shaina dengan menopang kedua tangannya agar tidak menindih Shaina, matanya yang berbinar-binar memandangi wajah cantik Shaina yang malu-malu, selimutnya juga sudah kembali menutupi tubuhnya ke dadanya.
"Kau tidak berterima kasih seperti tadi?" Joon mendekatkan wajahnya pada Shaina.
"Tadi aku tidak sengaja melakukannya" sahut Shaina.
Joon semakin dekat, sehingga hidung mereka bertemu dan dapat merasa setiap hembusan nafas.
"Ayolah...! Atau aku yang memulainya?" Kata Joon.
__ADS_1
"Tidak mau! tidur sana! kamu kan belum tidur katanya tadi?" Shaina mendorong wajah Joon dengan manja sambil tertawa kecil.
Joon pun ikut tertawa, "aku sudah tidak ngantuk lagi itu karena kamu, jadi harus bagaimana sekarang?".
Spontan Shaina menutup mulut Joon dengan tangannya, "jangan... Kau sudah mendapatkan bayarannya kan? Jangan berpura-pura polos didepan ku" kata Shaina.
Joon tersungging lalu melayangkan kecupan mesra di leher Shaina. "Ternyata kau pintar juga, jangan-jangan ini akal-akalan mu saja tentang sakit itu agar kita bisa seperti ini, lalu kenapa tadi malam kau menangis dan terlihat sangat takut?" ujar Joon.
Shaina mencubit pipi Joon, "aku benar takut tahu! Hanya saja sekarang karena aku benar-benar sakit, jadi tidak punya pilihan lain selain melakukannya" jawab Shaina.
"Apa kau sudah sering melakukan hal semacam ini?" Tanya Joon.
Shaina menggelengkan kepalanya, "semua kelakuan ku disini adalah pertama kalinya aku bertindak sejauh ini, bahkan kau lelaki pertama yang ku pandangi matanya selain keluargaku apalagi untuk melakukan yang tadi yang tentunya belum pernah aku lakukan" ungkap Shaina.
"Benarkah?".
Shaina mengiyakan pertanyaan Joon dan menceritakan kehidupannya di masa lalu yang tidak pernah menyentuh laki-laki bahkan ia juga tidak pernah sekalipun berpacaran seperti orang kebanyakan, karena itu cara ia melindungi dirinya dari perbuatan yang tidak seharusnya terjadi. Joon terdiam dan merasa bersalah pada Shaina karena ia telah melakukan hal buruk pada gadis suci itu yang tidak seharusnya ia lakukan.
Joon beranjak dari Shaina dan turun dari ranjang, menuju ke kamar mandi. Di kamar mandi ia membersihkan diri yang terlanjur basah dari kegiatannya bersama Shaina, ia berdecak kesal pada dirinya, sesekali ia mengumpat pada dirinya sendiri.
Tidak berapa lama kemudian ia kembali dan melihat Shaina sudah tertidur pulas dan sudah mengenakan pakaiannya kembali. Lekat-lekat Joon memandangi wajah Shaina yang sudah terbuai dalam mimpinya.
****
Paginya Shaina segera bangun mengingat ia harus menyiapkan sarapan, apalagi ini hari pertama anak-anak kembali bersekolah. Tapi ia kaget saat melihat Joon yang tidur di lantai dengan hanya beralaskan karpet dan selimut. Ingatannya terulang pada kejadian semalam, itu membuatnya sangat malu dan ia bingung harus bersikap seperti apa nantinya dengan Joon.
Saat sibuk dengan pekerjaan rumah tangga, kejadian semalam masih terngiang-ngiang di pikirannya Shaina, dan berharap Joon tidak membicarakan hal itu lagi. Dan benar seperti yang diharapkannya, Joon tidak membicarakan hubungan mereka tadi malam, Joon terlihat seperti biasanya yang ikut membantunya menyiapkan sarapan dan membangunkan anak-anak, dimeja makan masih obrolan seputar sekolah anak-anak dan pekerjaannya yang dibahas tidak sekalipun menyinggung soal tadi malam. Itu membuatnya merasa heran dengan sikap Joon, yang berbeda jauh dengannya yang sering salah tingkah saat berhadapan dengannya.
****
Tiga hari berlalu sejak kejadian malam itu, Shaina maupun Joon terlihat tampak saling menghindari satu sama lain. Tidak ada lagi senda gurau seperti biasanya, hanya berbicara yang penting-penting saja. Seperti pagi ini, dimeja makan tampak hening dari pembicaraan orang dewasa itu hanya ada Alice dan Alfan yang mengobrol, walaupun sesekali orang dewasa itu ikut nimbrung tapi hanya sekedar basa-basi saja tidak lebih dari itu.
Suasana rumah kembali sepi setelah semua orang melakukan kegiatan rutinitas mereka, hanya tersisa Shaina seorang diri di rumah yang ditemani ponsel dan peralatan rumah.
"Aku benar-benar bodoh! Joon mana mungkin memikirkan tentang malam itu? Dia kan sudah terbiasa melakukannya sedangkan aku baru pertama kali pantes saja rada-rada gila seperti ini" timpal Shaina sambil mengepalkan tangan di sofa.
Jarum jam menunjukkan pukul sembilan pagi, Shaina kembali bekerja dengan pekerjaan rumah tangga, mengumpulkan pakaian kotor miliknya, milik Joon dan milik anak-anak untuk di cucinya, setelah itu ia memasak makan siang untuk nanti. Baru beberapa saat ia beristirahat dari rutinitasnya, sudah terdengar suara bus yang berhenti di depan rumah dan tidak lama kemudian sudah ada anak-anak yang masuk kedalam rumah.
Mereka segera duduk mengistirahatkan tubuh mereka setelah pulang sekolah.
__ADS_1
"Bagaimana di sekolah? Kalian baik-baik saja kan?" Tanya Shaina memulai percakapan dengan mereka.
"Lumayan Ma" sahut Alfan.
"Lumayan bagaimana?" Tanya Shaina
"Lumayan lelah Ma, kami harus mengejar pelajaran yang sempat tertinggal" sahut Alice.
"OOO... sayangku, kalian sangat lelah ya? Sini sama Mama peluk" ujar Shaina sambil membuka lengannya untuk menangkap kedua bocah itu.
Alice dan Alfan saling beradu pandang dan mereka segera memeluk Shaina sambil tertawa.
"Waaaahhh...! Kalian bau asem..." Shaina mengerutkan hidungnya, "Tapi Mama betah mencium kalian lama-lama" tambahnya dengan mendarat kecupan di sekujur tubuh kedua anak itu.
Alice dan Alfan tertawa lepas dengan aksi Shaina itu yang tidak henti-hentinya menjahili mereka, namun disaat gelak tawa mereka memenuhi ruang tamu, tiba-tiba pintu dibuka oleh seseorang yang tidak lain adalah Joon, ia sempat melihat kelakuan perempuan itu bernama keponakannya.
"A-apa yang terjadi? Kenapa kau pulang jam sekarang?" Tanya Shaina yang terkejut melihat Joon pulang.
"Kenapa kalian belum ganti pakaian?" Tanya Joon pada Alice dan Alfan.
"Mereka baru pulang sekolah dan aku biarkan istirahat sebentar, nanti mereka juga akan ganti pakaian setelah mandi" sela Shaina.
"Iya paman" sahut Alfan yang duduk di pangkuan Shaina bersama Alice di sisi lain.
Joon melihat kedua keponakannya yang bersenda gurau dengan Shaina bahkan berpelukan.
"Ku rasa istirahatnya sudah cukup, sekarang cepat ganti pakaian kalian!" Perintah Joon.
Alfan dan Alice bergegas pergi ke kamar dan tidak lupa membawa masuk tas mereka. Meninggalkan Shaina bersama Joon di ruang itu.
"Ini obat untukmu, jika gatal dan sakit kau bisa mengoleskannya, ini cocok untuk ibu hamil".
Joon memberikan sebungkus plastik berisi salap untuknya yang ia beli di apotik.
Shaina mengambilnya, "aku menyiapkan makan siang dulu" katanya yang berlalu ke dapur.
Saat Shaina kembali ia sudah tidak melihat Joon di ruang tamu lagi dan berpikir Joon sudah berangkat kerja. Shaina ke kamar untuk menyimpan obat yang di belikan Joon tadi di leci dan mengajak anak-anak untuk makan siang.
Akhirnya Shaina dapat bernafas lega karena Joon sudah kembali ke tempat kerjanya, jadi ia bisa leluasa mondar-mandir di rumah tanpa harus menghindari dari Joon karena malu yang tidak berkesudahan itu, Shaina juga tadi berbohong tentang mengatakan pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang soalnya ia tidak ingin berlama-lama di ruangan yang sama dengan Joon mengingat kelakuan mereka berdua malam itu.
__ADS_1