
Di samping ranjang terdapat sebuah jam digital yang dapat menyala dalam gelap tersebut menunjukkan angka 00 ; 16 waktu dini hari. Hawa dingin di malam hari semakin menusuk ke tulang apalagi Wina sangat dekat dengan gunung Alpen atau disebut juga dengan nama gunung putih (Mont Blanc) karena merujuk pada puncaknya yang ditutupi dengan salju.
Namun rasa penasaran kemana Joon pergi di tengah malam sekaligus mengkhawatirkannya karena hampir lima belas menit Shaina berlalu Joon tak kunjung kembali, maka dengan segenap kekuatan yang ia punya, Shaina bangun dari tidurnya, menuruni ranjang berjalan menuju kamar mandi, tapi tidak ada siapapun di dalamnya, jadi Shaina memantapkan langkahnya keluar dari kamar. Menyusuri ruang tamu yang juga kosong dan hal serupa juga terlihat di dapur bahkan Shaina juga mencoba mencari Joon di kamar Alice dan Alfan, dan Joon tak juga terlihat, karena semua tempat telah ia susur dan tidak ada dimanapun, kekhawatiran Shaina pun semakin bertambah. Akan tetapi saat ia hendak balik ke kamar terdengar suara seseorang di luar rumah, perlahan Shaina mendekat ke pintu keluar yang renggang karena seseorang telah membukanya.
Udara dingin masuk di sela-sela pintu yang renggang membuat Shaina bergidik ngeri hingga ia merapatkan dekapannya.
"Jangan takut... Jangan takut... Ini luar negeri mana ada hantu" gumam Shaina yang mensugesti pikirannya sendiri agar tidak takut.
Dibalik celah pintu yang terbuka tampak seseorang berdiri di halaman rumah sedang berbicara melalui smartphone, dan sosok itu semakin jelas terlihat di bawah remang-remang lampu.
"Joon?" Gumam Shaina, "kenapa malam-malam begini dia diluar?" Sambungnya.
Joon tampak gelisah saat berbicara dengan seseorang di telponnya.
"Terima kasih pak, besok saya akan membawanya, dan bapak bisa melihatnya sendiri" kata Joon pada orang di telponnya.
Tampak ia tersenyum namun senyuman itu seperti dipaksakannya.
Pembicaraan Joon tidak terdengar jelas sehingga Shaina tidak tahu apa yang dimaksud Joon dengan orang itu. Tidak lama kemudian Joon menutup teleponnya dan hendak masuk ke rumah, secepatnya Shaina pun masuk kamar sebelum Joon kembali, agar ia tidak ketahuan sedang menguping.
Sebelum langkah Joon benar-benar berada di dalam kamar, Shaina sudah terlebih dahulu menyelebungi diri dengan selimut dan berpura-pura tidur, namun dibalik selimut tersebut Shaina masih membuka matanya sembari memikirkan isi pembicaraan Joon tadi di luar.
Sampai di dalam kamar Joon berhenti di dekat ranjang Shaina tidur, tatapan sendunya menghiasi wajahnya dengan ada sesuatu yang ia coba sembunyikan seorang diri. Dengan cekatan Joon menarik selimut yang dikenakan Shaina untuk menutupi kaki perempuan itu yang tersingkap saat terburu-buru berselebung. Setelah itu Joon kembali membaringkan tubuhnya di atas karpet yang ia gerai di lantai sebagai alas tempat tidurnya. Dinginnya malam menjelang musim dingin sedikit dapat diredam berkat karpet yang tebal dan lembut tersebut jadi Joon bisa tidur nyenyak meski tidak tidur di ranjang yang empuk itu. Bukan karena ia tidak mau berbagi tempat tidur atau menjaga jarak dengan Shaina, hanya saja ia tidak mau lagi memperlakukan Shaina seperti sebelumnya ketika ia belum tahu kalau Shaina itu gadis baik-baik dan belum tersentuh oleh lelaki manapun.
Joon merasa bersalah atas perbuatannya beberapa waktu yang lalu, menggoda Shaina untuk dapat menyentuhnya lebih dari sekedar sentuhan biasa, dan tidak bisa dipungkiri jika diam-diam Joon juga ingin bersenang-senang di ranjang selayaknya pasangan suami istri yang sah bersama Shaina meski ia sedang hamil, sampai-sampai Joon menyampingkan tubuh Helena yang merupakan istri kakak kandungnya sendiri.
Tapi setelah mengetahui Shaina gadis yang masih suci dari tangan lelaki selain tangan jahilnya, Joon berjanji pada dirinya sendiri ia akan berusaha menjaga gadis itu dari lelaki manapun termasuk dirinya maka ia mulai menjaga jarak dengan Shaina walau itu terkesan sulit dilakukan karena setiap harinya Shaina terus bertambah manis dan menggemaskan meski agak cerewet dan manja.
Shaina yang bersembunyi dari Joon tidak menduga dirinya malah tertidur beneran, namun itu tidak berlangsung lama karena mendadak kakinya terasa pegal-pegal yang amat sangat. Berbalik badan dari satu sisi ke sisi lain tidak juga dapat meredakannya, memijat dengan tangannya malah membuat tangannya yang pegal-pegal, Shaina jadi bingung untuk menghadapinya.
Ia mengintip pada Joon yang sudah menutup mata bahkan ia mulai mendengkur dibawah selimut yang membungkus dirinya. Ragu-ragu Shaina mencoba memanggil lelaki yang selalu sigap itu dan berharap Joon sekarang juga mau membantunya seperti biasanya.
"Joon..." Panggil Shaina.
Beberapa kali di panggil tidak sekalipun Joon menyahutinya, jikapun ia bergerak Joon hanya membenarkan posisi tidurnya.
"Joon...". Shaina masih tidak berputus asa.
"Emm..." Gumam Joon.
Terdengar Joon menyahutinya sambil menggeliat di dalam selimutnya dengan mata masih terpejam.
__ADS_1
"Joon...!!".
"Iya-iya, ada apa?".
"Kakiku pegal-pegal tolong pijatin" pinta Shaina.
"Iya bentar, aku tidur dua menit lagi ya?" Gumamnya.
Shaina langsung menekuk wajahnya karena kesal pada Joon yang tidak mau menolongnya. Ia kembali meneruskan tidurnya walau tidak nyaman dengan kondisi tubuhnya, sesekali ia tampak memukul-mukul kakinya yang terasa pegal-pegal tersebut. Suara tepukan Shaina terdengar oleh Joon yang setengah sadar akibat dibangunin Shaina sebelumnya, dan menyadari kalau ia sedang di minta bantuan. Dengan gerak lemas dan malas karena sudah terlalu kantuk Joon bangkit dari tidurnya untuk naik ke tempat tidur Shaina.
"Yang mana?" Tanya Joon yang duduk di kaki Shaina, sembari sesekali menguap.
Shaina menjulur kakinya yang terselubung selimut itu, perlahan namun pasti Joon terus memijat kaki wanita itu sambil menahan kantuk, matanya pun sulit untuk dibuka.
TUK! TUK! TUK!.
"Mama!! Mama!"
Terdengar ketukan pintu kamar yang diikuti suara Alfan. Shaina dan Joon melihat ke arah pintu, karena tidak biasanya Alfan memanggil Shaina ditengah malam.
"Iya Fan! Masuklah!" Sahut Shaina.
"Ada apa? Tengah malam begini manggil-manggil?" Tanya Joon pada Alfan yang tampak berkeringat dingin.
"Alfan takut... Alfan mimpi mama mau pergi jauh dan ninggalin Alfan sama Alice..." Sungut Alfan yang baru selesai menangis.
"Oh sayang... Sini-sini!" Shaina membentangkan kedua tangannya sambil mengkaut Alfan.
Shaina segera meraih tangan Alfan untuk berbaring di dekapannya "mana mungkin aku ninggalin Alfan sama Alice, Mama kan sayang sama kalian" kata Shaina sambil mengecup puncak kepalanya Alfan yang berponi itu.
"Tapi Ma, Alfan mimpi Mama mengatakan mau pergi jauh" ujar Alfan.
Shaina terdiam sambil memandang anak kecil berparas manis itu dengan wajah yang menggemaskan, ia mengelus-elus rambut ikal itu.
"Itu cuma mimpi sayang, Mama disini dan tidak kemana-mana" tambah Shaina.
"Mama janji, kan? Tidak akan kemana-mana?" Lanjut Alfan yang menatap mata Shaina.
Shaina pun terdiam membisu tanpa bisa mengucapkan janji tersebut meski ia tersenyum dan sikapnya itu juga di perhatikan oleh Joon yang duduk di kakinya sambil mengurut. Mereka berdua juga sempat beradu pandang dalam diam.
"Boleh kan malam ini Alfan tidur disini?" Tanya Shaina pada Joon.
__ADS_1
"Terserah kamu, asalkan tidak menggangu mu" sahut Joon.
Alfan langsung tersungging bahagia saat mengetahui ia diperbolehkan tidur bersama Shaina yang tidak ragu-ragu mendekapnya dalam dekapan hangat seorang ibu, karena Shaina sudah menganggap Alfan maupun Alice adalah anaknya sendiri meski tidak melahirkannya.
Joon hanya melihat perlakuan khusus Shaina kepada keponakannya, membuatnya ikut senang.
"Alfan, kalau tidur enggak boleh peluk Mama Shaina erat-erat ya, kasihan Mama dan adik bayinya yang terhimpit" titah Joon.
"Iya paman" sahut Alfan.
Belaian kasih Shaina menyeka di kepala Alfan yang berada dalam dekapannya, sembari menikmati pijatan lembut Joon di ujung kakinya. Tidak ada keluhan dari Joon meski ia kerap menguap karena ia masih sangat kantuk.
"Mama...!"
Panggilan lainnya terdengar di balik pintu kamar, dan itu tidak lain adalah Alice.
"Iya sayang, masuklah!" Sahut Shaina yang sudah tahu suara siapa itu.
Gadis berambut gelombang itu masuk ke kamar dan tidak lupa ia menutup kembali pintu, langkah perlahannya mendekat ke sisi ranjang Shaina.
"Alice di tinggalin sendiri, Alice juga mau tidur dengan Mama" gerutu gadis imut itu.
Joon berbagi pandangan dengan Shaina sambil tersenyum, Joon menghentikan dari kegiatan mengurut dan menghampiri Alice, ia menggendong gadis manis itu.
"Kau mau tidur dengan Mama juga?" Tanya Joon.
Alice mengangguk dengan wajah memelas.
"Baiklah! Bagaimana kalau Alice tidur dengan paman saja?" Tanya Joon.
Sontak Alice menekuk wajahnya sambil bergumam, "Alice cuma mau tidur dengan Mama".
Joon terkekeh melihat ekspresi Alice yang tidak suka dengan tawarannya.
"Jangan cemberut gitu, tidur dengan paman juga bisa, akan paman peluk" seloroh Joon tapi Alice tetap menekuk wajahnya sampai-sampai ia membuang muka saat di lihat Joon.
Sambil terkekeh bersama Shaina, Joon meminta Alfan bergeser untuk memberi ruang pada Alice agar ia bisa tidur di sebelah Shaina.
"Malam ini sangat dingin, paman tidur disini juga ya?" Kelip Joon yang ikut berbaring di samping Alfan.
Malam itu Joon dan Shaina tidur bersama dengan diantara mereka, masing-masing dari mereka memeluk si kembar dalam satu selimut, Joon maupun Shaina saling berbagi pandangan sambil tersenyum-senyum sendiri.
__ADS_1