Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Tante berbahaya


__ADS_3

Suasana sekolah seperti biasanya dan berjalan normal, Alfan dan Alice tampak ceria apalagi ia dikerumuni banyak teman yang suka berteman dengan mereka. Saat bermain kejar-kejaran dengan teman-teman di kelas, tidak sengaja salah seorang menarik tas Alice hingga robek.


Alice sangat kaget mengetahui tas miliknya robek dan Alfan juga ikut menghampiri saudarinya untuk membantunya mengutip barang-barang milik Alice yang berhamburan keluar.


"Alice, aku minta maaf...." Ucap temannya.


"Tidak apa-apa kamu kan tidak sengaja melakukannya" Sahut Alice mencoba tersenyum meski ia tidak suka melihat tas kesayangannya robek.


"Tenang saja, Alice kan orang kaya, ibunya saja orang pintar pastinya punya banyak uang" sela temannya yang lain.


Alice dan Alfan saling berbagi pandang tanpa kata yang mereka ucapkan.


"Oh ya Alice, Mamamu pasti akan beli tas baru kan yang mahal seperti punyaku?" tambah yang lain.


"Iya..." Sahut Alice dengan senyuman manisnya.


Alfan diam sambil membantu saudarinya mengutip alat tulis yang terjatuh dan memasukkannya kembali ke dalam tas Alice.


KREEK! KREEKK! KREKK!


Semua alat tulis Alice kembali jatuh, mulai dari pulpen, buku hingga peralatan lainnya dikarenakan robekan tasnya cukup parah.


"Ini tidak bisa digunakan lagi" gumam Alice pada saudara kembarnya.


Alfan sempat terdiam tapi tidak lama kemudian ia segera ke bangkunya dan mengambil tasnya juga.


"Masukkan ke tas ku saja agar tidak jatuh lagi" ujar Alfan yang menarik resleting tasnya.


Alice ikut tersungging dan segera memasukkan alat tulis miliknya kedalam tas Alfan.


Sebelum jam pelajaran terakhir dimulai, Alfan menyempatkan membaca buku kegemarannya, disaat ia sedang asyik membaca buku, teman sebangkunya asyik bermain game di smartphone canggih dengan volume yang cukup tinggi hingga menarik perhatian yang lain.


Game yang di mainkan sangat seru dan membuat yang lain ikut menonton teman sebangku Alfan bermain game. Karena hampir seruangan mengerumuninya, teman Alfan itu semakin memamerkan kecanggihan teknologi tersebut pada yang lain, apalagi smartphone terbaru merek keluaran terbaru, jadi mereka saling mengunggulkan smartphone mereka satu dengan yang lain.


"Smartphone milikmu, Alfan merek apa?" Pertanyaan itu sampai pada Alfan.


"Hah?! A-aku tidak punya smartphone" sahut Alfan.


Sontak jawaban Alfan mengejutkan teman-temannya.


"Apa?! Kau tidak punya smartphone? Memangnya Mamamu tidak mampu membelinya? Tapi bukankah kamu itu orang kaya?".


"Bu-bukan begitu, Mama tidak memperbolehkan aku main hp karena bisa mengganggu belajarku" sahut Alfan.


"Mamamu kuno sekali beda dengan Mamaku yang memperbolehkanku main hp kapanpun, bahkan Mama dan Papaku selalu menghadiahi hp baru untukku setiap ada keluaran terbaru".


"Iya Alfan, Mamamu kuno sekali" tambah yang lain.

__ADS_1


Alfan terdiam sambil memikirkan perkataan teman-temannya, ia tidak bisa memiliki hp canggih seperti yang dimiliki teman-temannya karena Mamanya sekarang bukanlah Mama aslinya.


****


Alice dan Alfan keluar dari bis sekolah yang berhenti di depan rumah mereka.


"Apa Mama mau membelikan ku tas baru?" Bisik Alice pada saudaranya yang berjalan ke halaman rumah.


"Entahlah, nanti kita bilang sama Mama dan paman" sahut Alfan.


Alice melihat Alfan tampak tidak bersemangat seperti ada sesuatu yang dipikirkannya.


"Kamu masih memikirkan HP itu?" Tanya Alice untuk menjawab penasarannya.


"Ku rasa itu tidak ada gunanya, paman pasti tidak mau membelikannya, hp itu sangat mahal" kata Alfan dengan lesu.


"Ku rasa kau benar" sambung Alice.


Saat memasuki rumah mereka berdua berhenti membahas itu lagi.


"Kalian baru pulang?" Tanya Shaina yang sibuk dengan mesin penyedot debu.


"Iya Ma" sahut mereka serentak.


"Kalau gitu cepat ganti baju dan setelah itu makan".


Setelah menyuruh anak-anak ganti pakaian, Shaina melanjutkan pekerjaan bersih-bersihnya, mulai dari menggeser meja dan sofa agar ia dapat membersihkan dibawah karpet dan masih banyak lagi yang telah dibersihkannya hingga ia berkeringat, sengaja ia melakukan bersih-bersih meski dengan perut besarnya karena untuk mengusir kebosanannya sekaligus ia memang harus banyak bergerak demi kelancaran proses persalinan kelak seperti yang banyak diberitakan di artikel-artikel terpercaya.


Alice keluar dari kamar setelah berganti pakaian dan menemui Shaina.


"Ma, Alice lapar" ujar gadis kecil itu.


"Alice makan aja duluan sama Alfan, Mama ingin menyelesaikan ini dulu" sahut Shaina.


"Baik Ma" ucap Alice yang diikuti Alfan menuju dapur.


Di meja makan sudah tersedia makanan yang telah disiapkan Shaina untuk mereka agar ia tidak kerepotan lagi saat mereka lapar pulang sekolah.


TUK! TUK!


Ketukan pintu terdengar yang diikuti suara bel pintu yang tekan oleh seseorang, Shaina segera membilas tangannya dari busa sabun karena ia sedang mencuci piring bekas makan. Ia berjalan terburu-buru untuk membuka pintu sembari berpikir Calvin atau Harris yang datang berkunjung seperti dulu, namun Shaina sangat kaget melihat orang yang bertamu bukanlah seperti yang ia sangka.


"Silahkan masuk" ucap Shaina pada tamu tersebut.


Sepasang high heels hitam memasuki ruang, Shaina yang dilanda kecemasan semakin tidak berkutik saat sepasang mata Tante Rossie menyorotinya seakan ia sedang menghadap guru BP di sekolah. Ketika manik mata Tante Rossie berkelana seisi ruangan barulah Shaina dapat menghela nafas panjang tapi itu tidak juga menyelesaikan masalahnya.


"Silahkan duduk" ucap Shaina sembari menyembunyikan kegugupannya di depan perempuan itu.

__ADS_1


Mungkin tidak akan berlebihan jika Shaina menganggap Tante Rossie adalah orang yang sombong, dari posisi duduknya saja sudah mencerminkan kepribadiannya yang tidak suka bila ada yang memerintahkannya.


"Joon belum pulang jika nyonya ada perlu katakan saja, nanti saya sampaikan padanya" celetuk Shaina, memecahkan kesenjangan diantara mereka.


"Aku kesini bukan untuk menemui Joon" sahut Tante Rossie dengan lirikan sinis.


Shaina tertawa kecil menyembunyikan kegugupannya dari perempuan itu, "Tante mau minum apa?" Tanya Shaina.


Perempuan itu mengangkat salah satu alisnya dan melihat kearah Shaina, "to the point saja aku tidak suka basa-basi mu itu! Ujarnya.


"Hah?! Maksud Tante?" Tanya Shaina yang kebingungan.


"Licik juga kau ini, dulu kau menghasut Ervian dengan cintamu itu sekarang kau mengincar adiknya setelah kakaknya mati".


"Ma-maksud Tante?".


Nyonya Rossie berjalan mendekati Shaina dan berbisik "Jangan sok polos seperti ini didepan ku, katakan saja apa rencana mu pada Joon, mungkin kita bisa bekerjasama, karena aku tahu orang sepertimu ini tidak punya cinta apalagi pada adik suamimu yang berandalan itu"


Shaina terdiam sekaligus terkejut, ia tidak menduga Nyonya Rossie berbicara seperti itu terhadap Joon dan dari cara ia berbicara, Shaina menangkap ada sesuatu dalam hubungan keluarga Joon.


Shaina menarik bibirnya dan sedikit melirik Nyonya Rossie dengan ujung matanya seperti adegan yang di lakukan pemeran antagonis di film-film.


"Apapun rencanaku tidak ada hubungannya dengan anda" balas Shaina.


"Hahaha!!! Sudah kuduga, kau itu licik seperti rubah, aku suka itu" ujar nyonya Rossie, "ayo kita bekerjasama dan kita bisa bagi dua hasilnya" Nyonya Rossie menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Shaina.


Namun Shaina hanya menatap tangan nyonya Rossie tanpa menyambutnya, bibirnya sedikit tersungging. Melihat respon Shaina seperti itu Nyonya Rossie segera menarik tangannya dan terlihat tersenyum sinis pada Shaina.


"Akhirnya topeng mu terbuka juga nona Helena yang terhormat, selama ini kau memanfaatkan kondisimu dan anak-anak mu agar lebih dekat dengan Joon, kalau bukan untuk mendapatkan uangnya apalagi karena kau sangat tidak menyukai adik iparmu itu bahkan sebelum suamimu meninggalkan" tambah Nyonya Rossie.


Shaina masih tidak percaya orang seperti Nyonya Rossie memiliki maksud lain terhadap keponakannya sendiri tapi Shaina tetap berpura-pura menjadi Helena yang jahat agar ia tahu lebih banyak tentang keluarga Joon apalagi Joon tidak mau menceritakan apapun tentang dirinya.


"Aku dengar kau amnesia tapi...." Kata Tante Rossie.


"Jika soal uang tidak ada yang terlupakan" sahut Shaina.


Sekali lagi Nyonya Rossie tertawa lepas apalagi postur tubuh Shaina sangat mendukung dari gayanya ia bicara menunjukkan sikap kejam.


"Cerdas juga idemu" Nyonya Rossie mengangguk-angguk sambil mengecutkan bibirnya, "ngomong-ngomong kau pantas jadi wanita rumahan" lanjutnya.


Shaina melihat ke tubuhnya yang masih menggunakan celemek dapur.


"Tapi jangan berpikir untuk menggagalkan pernikahan Joon dengan Marissa, karena aku tidak akan mendukungmu" sambung Nyonya Rossie.


Kalimat itu terdengar sangat getir, Shaina tidak sekalipun suka jika ada pembicaraan yang mengenai Marissa apalagi menikah dengan Joon, karena ia akan merasa terluka.


"Tenang saja, aku tidak butuh Joon setelah melahirkan" sahut Shaina untuk meyakinkan Nyonya Rossie.

__ADS_1


Dan dari mimik mukanya, Nyonya Rossie percaya setiap kata-kata yang diucapkan Shaina.


__ADS_2