Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
kemarahan seorang ayah


__ADS_3

"Waahh! Disini terlalu gerah, aku keluar aja cari angin" Adnan mengipas-ngipas diri dengan tangannya, berpura-pura kepanasan sambil melirik Joon.


"Iya, panas sekali, aku juga mau ke luar" Jamal ikut keluar menyusul Abangnya.


Di halaman rumah, Adnan dan adik bungsunya duduk di dipan bawah pohon rambutan, akhirnya mereka bernafas lega setelah bebas dari Joon yang sejak tadi seperti sedang diamati terus-terusan.


"Akhirnya lega juga bisa keluar dari rumah" gumam Adnan.


"Iya, ternyata disini adem juga ya seperti di Wina" ucap Joon.


"Tidak juga, Wina itu banyak gedung-gedung tinggi dan sangat seru kalau di sini terlalu banyak pohon" tambah Jamal.


"Benarkah?" Tambah Joon.


Jamal mengangguk dan menoleh ke samping, sontak ia dan Adnan terkejut dengan kehadiran Joon yang tiba-tiba muncul di antara mereka. Refleks kedua bersaudara itu melompat dari dipan untuk menghindar Joon tapi dengan cepat Joon berjalan ke depan dan berdiri di depan mereka.


"Hai adik ipar, senang melihat kalian lagi" celetuk Joon yang tersenyum tipis khasnya.


"A-apa maksudmu?" Gumam Adnan.


"Ku rasa kita sudah pernah bertemu sebelumnya" Joon mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, " ku harap kalian kenal dengan mereka" tambah Joon memperlihatkan foto-foto yang tersimpan lama di galeri HP-nya.


Adnan dan Jamal terpaksa menelan salivanya saat melihat foto diri mereka di galeri tersebut, foto-foto tersebut menunjukkan mereka sedang berada di Wina bersama kakak mereka yang tentunya itu Helena ketika masih terjebak dalam tubuh Shaina. Kedua bersaudara itu sempat membantah bahwa itu hanya foto editan tapi Joon lebih cerdik dan pandai menyudutkan mereka hingga keduanya mengakui bahwa itu memang mereka.


"Ka-kamu?" Ucap Adnan terbata-bata.


"Iya, orang yang kalian temui di tempat perbelanjaan waktu itu adalah aku, dan perempuan hamil itu Shaina, pada saat itu Elif belum lahir, kedua anak kecil saat itu Alfan dan Alice yang masih kecil" jelas Joon pada dua adik Shaina itu.


Sahir yang baru kembali dari urusannya ikut nimbrung dalam pembicaraan Joon dengan adik-adiknya, tapi belum sempat Sahir bertanya sepatah katapun, mereka sudah di ajak masuk oleh Bu Yani untuk makan siang bersama.


Joon dan anak-anak kembali disuguhkan dengan perjamuan makan di lantai ala orang desa yang tidak duduk di meja makan saat menikmati makanan mereka, walau terkesan canggung tapi mereka membiasakan diri dengan kebiasaan orang-orang tersebut.


Namun tidak dengan Shaina, karakter introvert melekat kuat padanya jadi ia akan merasa tidak nyaman jika ada orang yang bertamu ke rumahnya apalagi sampai berlama-lamaan.


Elif kembali menghebohkan Joon, diamana ia tidak mau duduk bersamanya melainkan dengan lancangnya gadis kecil itu duduk di sebelah pak Rahmat dan tidak segan-segan memanggilnya dengan panggilan kakek.


"Kakek, Eliiss duduk dicini ya?" Ucap Elif pada pak Rahmat.


"Emmm... boleh enggak ya?" Goda Pak Rahmat mengerling Elif lalu ia terkekeh dengan aksi beraninya itu.


Elif memanyunkan bibirnya yang semakin terlihat menggemaskan bahkan aksinya itu membuat yang lain tidak bisa menahan tawa mereka.


"Baiklah, sini duduk dengan kakek" lanjut pak Rahmat.


Secepatnya Elif menjatuhkan diri di sebelah pak Rahmat bahkan menyandarkan tubuhnya padanya.


Sontak Joon melirik pak Rahmat dengan cemas, meski ia sering menghadapi orang-orang dengan berbagai karakter dari yang lembut hingga pemarah bahkan sangat kejam tapi dengan pak Rahmat ia sedikit segan karena pak Rahmat ayahnya Shaina.


Beda dengan Alfan lebih memilih tempat duduk diantara Adnan dan Jamal termasuk Alice yang bersebelahan dengan Sahir. Sedangkan Shaina hanya mendapatkan tempat di sebelah Joon.


"Ternyata masakan mu masih tidak berubah" celetuk Joon dengan melirik Shaina, "kau masih kekurangan garam" lanjut Joon yang tersungging pada Shaina.


Tentu saja pernyataan Joon ditertawakan oleh adik-adiknya karena apa yang dikatakan Joon memang benar, masakan Shaina hambar atau terlalu pedas.


Namun tanpa di duga Joon malah di melototi oleh Shaina yang tidak suka dengan pernyataan lelaki itu.


"Ku rasa kau bisa mengurangi menatap orang seperti itu karena kau bisa menakuti orang lain" dengus Joon.


"Aku tidak nyangka kakak berani juga melototi orang lain, ku kira kakak cuma berani dengan kami saja" sela Jamal.

__ADS_1


"tahu tidak? kalau kakak mu ini tidak hanya berani melototi orang tapi dia lebih menyeramkan dari itu, dia bisa membuat orang lain serba salah padanya" tambah Joon.


"Itu benar sekali, aku sering jadi korbannya" sela Sahir.


Lama-lama Shaina bukannya deg-degan bersama Joon melainkan kesal sendiri bahkan ia tidak ragu-ragu kembali menatap ketus padanya seakan-akan Joon bukanlah orang baru baginya, sampai-sampai ia berani memindahkan air minum Joon saat ia kepedasan. Namun Joon dengan santainya meminum air minum Shaina sebagai gantinya.


Sikap mereka berdua kembali menarik perhatian semuanya dan berpura-pura tidak melihatnya.


Elif pun tidak lagi melulu harus diurus Joon, bahkan terkesan Elif yang mulai mengabaikan Joon, karena ia lebih tertarik dengan keluarga Shaina terutama dengan pak Rahmat, dari duduk dekat dengannya hingga minta disuapi oleh pak Rahmat.


Tiba-tiba Alice cekikikan melihat Joon dan Shaina yang tidak akur.


"Kenapa kamu nak Alice?" Tanya Bu Yani.


"Alice tertawa melihat Papa dan Mama yang tidak berubah, mereka kerap menjahili satu sama lain" sahut Alice


"Benarkah itu?" Sudi Bu Yani lagi.


"Iya Nek, kalau di rumah Mama agak bawel banget sama Papa, tapi kalau Papa lagi di tempat kerja, Mama suka cari alasan untuk menelpon Papa" ujar Alice.


"Benarkah? Kenapa aku baru tahu?" Sela Joon sembari tersenyum pada Shaina.


Tetapi Shaina tidak menanggapinya karena ia tidak tahu kalau mereka sedang membicarakan dirinya.


"Tahu nggak Nek? Meski Mama bawel sama Papa tapi mereka sangat romantis seperti di film-film, Papa juga suka bertingkah konyol seperti anak kecil, bahkan terkadang suka berbisik-bisik agar kami tidak mendengarnya" papar Alice.


"Sssttt...!" Joon melirik dengan ujung matanya pada Alice.


Refleks semua mata melempar pandangannya kearah Shaina yang mengerjap kaget karena mendapati tatapan seperti itu.


"Apa kalian sudah menikah saat itu?" Spontan Bu Yani mengajukan pertanyaan pada Joon.


"Belum, karena Papa menikahi Mama setelah Elif lahir" sela Alice.


Adnan dan Jamal memundurkan duduknya untuk menjauh dari Joon dan ayah mereka, sedangkan Shaina tampak celingak-celinguk kebingungan dengan sikap ayahnya yang mendadak memarahi Joon.


"Maaf Pak, aku khilaf tapi dia tidak sampai hamil kok" sahut Joon spontan dan ia segera mengkatup mulutnya dengan tangannya karena keceplosan.


Dengan cepat pak Rahmat meraih gagang sapu dan memukul Joon dengan penuh kemarahan, meski Bu Yani mencoba menenangkan suaminya, tapi pak Rahmat tidak bergeming dari aksinya.


"Ayah hentikan, jangan buat malu" sela Shaina, berusaha meraih tangan ayahnya.


"Malu katamu? Orang ini yang tidak tahu malu, main pegang-pegang anak orang sembarangan!" Pekik pak Rahmat.


"Sudahlah Yah, itu bukan urusan kita dia pegang siapa dan tidak ada hubungannya dengan kita" lanjut Shaina.


Bughh!


Gagang sapu itu tidak lagi mengenai tubuh Joon tapi beralih pada Shaina, karena ia ikut dipukuli oleh pak Rahmat.


"Bukan urusan kita? Kau dipegang-pegang olehnya bukan urusanku? Kenapa kau ini terlalu bodoh sampai terkena rayuan lelaki ini?" Geram pak Rahmat.


Joon menarik Shaina ke belakang agar tidak terkena pukulan dan mengganti dirinya untuk di pukuli. menahan pukulan pak Rahmat agar tidak mengenai Shaina. Bu Yani terus meminta suaminya untuk tenang dan Shaina juga terus menyangkalnya bahwa ia tidak seperti itu namun itu semua tidak mempan bagi pak Rahmat.


"Alice, apa lagi yang dilakukan Papamu pada putriku?" Tanya pak Rahmat saat berhenti memukul.


"Ta-tapi Kek kenapa papa dan Mama di pukuli? Kasian mereka" gumam Alice.


"Katakan saja, ini hukuman buat mereka" sahut pak Rahmat.

__ADS_1


"Ta-tapi Papa dan Mama tidak ngelakuin yang salah, mereka tidak bertengkar malahan mereka selalu baik-baik saja bahkan Papa pengen punya bayi lagi setelah Elif lahir" ujar Alice.


Wajah pak Rahmat semakin merah padam dan mengangkat gagang sapu tinggi-tinggi untuk memukul Joon dan Shaina lagi, membuat yang lain semakin ngeri padanya karena pak Rahmat jarang sekali marah. Namun gagang sapu itu dijatuhnya dengan keras dan tidak jadi menghantam Joon.


Tapi Joon tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya, seakan ia mengakui kesalahannya bersama Shaina di masa lalu.


"Apa mereka anak-anak kandungmu?" Tanya pak Rahmat pada Joon.


"Bukan, mereka anak almarhum kakakku" sahut Joon.


"Lalu kenapa kau di panggil papa oleh mereka? Apa kau menikahi ibu mereka?" Lanjut pak Rahmat.


"Saat itu Shaina dan Helena bertukar tubuh dan kami memiliki ketertarikan satu sama lain, akhirnya kami memutuskan menikah, meski pada saat itu Shaina masih dalam bentuk Helena dan mereka anak Helena, istrinya almarhum kakakku, jadi kami menganggap mereka anak kami agar mereka tidak merasa kehilangan orang tua mereka" papar Joon dengan lugas.


"Kau ini!!" Geram pak Rahmat, "aku hargai niat baikmu itu, tapi cara mu buruk! Kau mengajari anak-anak ini yang salah, membenarkan perempuan dan laki-laki tinggal serumah tanpa ikatan halal bahkan kau juga melakukan hal yang tidak pantas kau lakukan pada putriku" ketus pak Rahmat.


Tiba-tiba Joon mengambil kembali gagang sapu di lantai lalu ia berlutut di depan pak Rahmat, sambil menyerahkan kayu itu lagi, "tolong pukul aku lagi karena maaf tidak akan cukup untuk menebus kesalahanku" ucap Joon mengejutkan yang lain.


Pak Rahmat mendengus kesal pada Joon, ibu Shaina di buat gugup dengan ekspresi suaminya dan adik-adiknya Shaina juga tidak berani menghela ayah mereka.


"Aku tahu kami salah tapi aku benar-benar tidak bisa mengontrol diri saat bersama Shaina, apalagi kami serumah dan itu bukan sesuatu yang mudah menjaga jarak, membuat lambat-laun kami saling menyukai dengan kepribadian masing-masing, selain itu cuma Shaina yang mampu membuat aku berubah dari seorang pemabuk yang kehilangan arah" ujar Joon.


Semua terdiam dengan pengakuan Joon yang mengaku sebagai pemabuk.


"Pemabuk?" Sela Shaina, tersirat kekecewaan dari raut wajahnya.


"Iya, aku pemabuk bahkan diusia remaja aku sudah mengenal hal semacam itu atau lebih dari itu, jika kau sedikit dapat mengingat masa awal-awal kita bersama kau pasti akan sangat benci padaku" Joon menundukkan wajahnya.


"Papa" gumam Elif yang menghampiri Joon dan memeluknya.


Gadis kecil itu menciumi Joon dan menyeka wajah Joon hingga membuat Joon kembali tersenyum.


"Ya Tuhan... Apa yang terjadi? Kenapa putriku menyukai pemabuk?" Lirih Bu Yani yang terduduk.


Shaina yang menyimpan rasa untuk Joon juga ikut bertanya-tanya di benaknya mengenai maksud pengakuan Joon yang menyukainya, dan peristiwa penting apa yang terlewatkan olehnya, karena ia memang melupakan beberapa saat dalam hidupnya.


Ingatannya yang tersimpan pada awal ia kecelakaan yang konslet dengan listrik lalu tersadar di rumah sakit, dan tiba-tiba saja sudah enam bulan berlalu, tanpa sedikitpun ia ingat apa yang telah terjadi selama enam bulan itu.


Tapi kehadiran Joon dan anak-anak tidak membuat asing bagi Shaina, bahkan bayangan mereka kerap muncul dalam mimpinya, sebelum pertemuan mereka beberapa hari yang lalu.


Joon juga memberitahu bahwa dia juga orang buangan dan tak seorangpun menghargai, lalu Shaina hadir dalam hidupnya sebagai mimpi baru dalam sosok kakak iparnya tapi Shaina tidak pernah menjadi sosok Helena dari segi apapun, Shaina juga yang menghubungkannya dengan anak-anak kakaknya sehingga mereka kini benar-benar terikat dalam hubungan yang sakral.


Dan Shaina juga yang membuatnya kembali bersemangat menjalani harinya tanpa mengeluh, oleh karena itu Joon mengaku jatuh pada Shaina.


Joon tersenyum bahagia pada pak Rahmat sembari berkata, "terima kasih Pak, setidaknya anda telah mengakui jika putrimu ini adalah Shaina yang ku kenal, istriku yang ku cari selama ini" ucap Joon.


Pak Rahmat menghela nafas berat dan sekali lagi menjatuhkan gagang sapu yang berbahan dasar kayu itu, lalu ia kembali duduk di lantai.


"Apa yang kau inginkan sekarang?" Tanya pak Rahmat, suaranya kembali merendah.


"Pernikahan itu tidak boleh terjadi karena aku sudah menikahinya dan aku belum menceraikannya" ujar Joon.


"Pernikahan macam apa yang kalian lakukan? Kau menikah tubuh Helena dan bukan putriku".


"Kami menikah dengan identitas asli kami, sedangkan Helena hanya raga yang melengkapinya, karena kejadian yang menimpa kita semua di luar nalar manusia, tapi aku yakin itu cara yang maha kuasa mempertemukan kami" tukas Joon.


"Bicara apa sih? Dari tadi namaku disebut-sebut, memangnya apa yang telah ku lewatkan?" Sela Shaina yang tiba-tiba.


Pertanyaan Shaina malah di sambut dengan ketukan di kepalanya yang dilakukan oleh ibunya dan menyuruhnya diam saja karena ia cukup bingung dengan nasib Shaina.

__ADS_1


"Jadi bisa kan pak membatalkan pernikahan itu? lagian anda sudah punya menantu disini bahkan sudah punya cucu juga, tidak hanya satu tapi tiga sekaligus" celetuk Joon yang langsung mengejutkan Shaina dan keluarganya.


bersambung....


__ADS_2