Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Sangat tidak tahu malu


__ADS_3

Suasana dan pemandangan yang sungguh ingin dihindari shaina, jadi ia kerap memalingkan mukanya dari dua sejoli itu sembari menggigit bibirnya, hatinya berharap mereka segera menyudahi kemesraan itu atau dirinya yang bisa kabur dari mereka. Namun ia mendengar suara Alice dan Alfan, sebuah ide cemerlang pun menghampirinya.


Dengan kegugupannya Shaina mencoba menyela seraya berkata, "Aku mau keluar sebentar dengan anak-anak," matanya ragu-ragu untuk mengarahkan pandangannya pada Joon dan Marissa.


Joon tersungging dan matanya menatap lekat-lekat akan sosok perempuan disebelahnya itu yang merangkul lengannya. Shaina berasumsi Joon mengizinkannya pergi apalagi tidak sekalipun Joon meliriknya.


"Permisi, aku keluar dulu" kata Shaina lagi untuk memastikan ia dapat izin, tapi sekali lagi ia masih diabaikan oleh pasangan yang sedang kasmaran itu.


Tidak ingin membuang-buang waktu, Shaina meninggalkan mereka dan melirik sekali lagi tapi hal yang sama juga didapatkannya, seakan Joon benar-benar tidak menganggapnya ada.


Diwaktu yang sama, Shaina merasa seperti ada kobaran api yang membakar di dadanya saat melihat adegan kemesraan Joon dan kekasihnya itu, jika ada yang memintanya untuk memukul Joon maka akan dengan senang hati ia lakukan.


Selang beberapa menit berlalu, Joon mengalihkan pandangannya dari Marissa dan kembali duduk bersandar di sofa sambil memainkan ponselnya. Ia merasa seperti ada yang salah dengannya, dimatanya Marissa tidaklah semanis yang orang katakan tidak seperti yang ia lihat dari Shaina.


Melirik ke pintu keluar, Shaina tidak juga kembali, itu membuatnya gusar tapi ia tidak bisa melarangnya pula karena ia merasa Shaina butuh suasana luar untuk bisa memenangkannya.


Marissa mempererat pelukannya pada Joon.


"Joon, kapan kamu akan menikahi ku?" Tanya Marissa sembari memeluk tubuh Joon.


Joon terdiam dengan memandangi Marissa, hatinya bergetar mendadak tanpa sebab, padahal ia sudah sering mendapatkan pertanyaan itu dari Marissa tapi kali ini seakan ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya untuk memberi jawaban atas pertanyaan kekasihnya itu.


Marissa menatap Joon dengan tatapan berbinar-binar, menunggu jawaban Joon.


"Tapi aku tidak mau hamil, aku takut terlihat gendut dan jelek seperti Nona Helena, padahal dia tu cantik tapi saat hamil, bentuk tubuhnya jadi tidak bagus lagi, di tubuhnya juga mungkin akan muncul stragma yang semakin jelek" Kata Marissa dengan nada manjanya.


DEG!


Jantung shaina berpacu hebat, kobaran api yang terbakar di hatinya kini telah menjalar ke seluruh bagian urat nadinya mendengar perkataan Marissa yang berbeda jauh dengan sebelumnya dimana ia kerap memuji-muji kecantikan Helena tapi dibelakangnya malah mencemoohnya.


Beberapa menit sebelumnya saat di halaman, saat shaina menemani anak-anak bermain, ia merasa tenggorokannya kering jadi ia masuk ke rumah untuk minum tapi baru kakinya berpijak di depan pintu sudah mendengar percakapan Marissa dengan Joon tentang hubungan mereka. Shaina kesal mendengar Marissa mengatakan Helena jelek, ia memang mengakui Marissa itu cantik dan seksi tapi Helena juga tidak kalah walaupun ia hamil.


Shaina mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah, ia kembali menemui Alice dan Alfan di depan, bahkan setelah itu mereka pergi ke taman yang tidak jauh dari rumah Joon.


Seumur-umur baru kali ini Shaina datang ke taman apalagi ini diluar negeri, itu luar biasa, secara tidak langsung Shaina menganggap perjalanan jiwanya itu sebagai liburan gratis.


Karena itu hari libur, jadi suasana taman cukup ramai dengan para pengunjung, baik orang-orang yang melakukan jogging, berjalan santai atau hanya duduk-duduk saja seperti dirinya ada juga yang datang bersama keluarga kecil mereka, baik muda maupun tua semuanya membaur di taman itu dengan kegiatan masing-masing.


Alice dan Alfan juga bebas berlarian sesuka hati mereka tapi mereka tidak melupakan keberadaan Mama mereka yang tidak bisa bergerak seperti mereka dimana ia hanya bisa berjalan santai dan duduk di bangku taman.

__ADS_1


Shaina kaget karena adegan yang baru ia yang lihat di rumah ternyata di taman juga ada, terdapat pasangan muda-mudi yang tidak ragu-ragu berciuman maupun saling merangkul di tempat umum, bahkan ada yang lain sibuk membuat konten yang agak vulgar menurutnya itu tidak pantas untuk di tonton oleh anak-anak dibawah umur, walaupun bagi orang lain sudah hal biasa apalagi orang-orang modern jaman sekarang, tapi tidak bagi Shaina karena itu berbeda dengan kaidahnya.


Selain itu adegan mesra itu mengingatkannya pada Joon dan Marissa di rumah yang tentu sedang kosong selain mereka berdua yang akan membuat mereka semakin bebas.


"Pikir apa aku ini? Disini itu adalah hal yang sudah lumrah di lakukan dan apa peduli ku pada Joon? Bukankah dia mengaku sudah sering melakukan itu?" Gumam shaina sambil menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.


"Ya Tuhan...! Ampunilah mataku dan ampunilah juga pikiran ku! Ya Tuhan tolong jaga anak-anak ini jangan sampai mereka tumbuh dengan kebiasaan orang-orang di sekitar mereka seperti ini" Ringis shaina.


"Hey!!" Seru seorang lelaki dari belakang shaina yang mengagetkannya.


Shaina menoleh kebelakang dan ia melihat seorang laki-laki yang tidak asing tapi ia lupa pernah bertemu dengannya dimana, Shaina mencoba menerka-nerka nama lelaki itu didalam otaknya tapi ia benar-benar lupa nama orang itu.


"Nona Helena ini aku, Calvin" Ujar laki-laki itu.


Shaina masih terdiam mengingat-ngingat nama itu.


"Calvin, yang malam itu saat aku dan Harris mengantar Joon pulang karena mabuk" Jelas Calvin.


"Oohhh ya! Aku ingat temannya Harris" Kata tersenyum, "bagaimana kabarmu?" Tambah Shaina.


"Seperti biasa" Sahut Calvin.


"Joon dimana? " Tanya Calvin.


"Joon di rumah" Jawab Shaina singkat.


Namun Calvin masih melihat kearahnya membuat shaina tidak nyaman tapi dia bersikap tenang. "Aku bosan di rumah jadi aku dan anak-anak pergi kesini lagian jaraknya juga tidak jauh" Sambungnya.


Calvin tersenyum dan memalingkan wajahnya dari perempuan yang di taksirnya sejak dulu, dan sekarang ia ini kesempatan untuk mendekati Helena lagi, karena Helena sekarang sudah jadi janda dan belum ada hubungan khusus dengan siapapun bahkan yang ia tahu dari Harris, Helena sekarang amnesia yang otomatis para lelaki yang pernah mengincar Helena sudah tidak mungkin lagi mendekatinya.


Shaina merasa gugup berbicara dengan orang asing karena pada dasarnya ia pemalu dan pendiam dengan orang baru tapi jika sudah akrab, shaina malah jadi orang blak-blakan. Walaupun Calvin orang baru tapi shaina bersikap tenang agar terlihat seperti Helena walau sebenarnya ia juga tidak tahu Helena itu seperti apa.


Tidak terasa Calvin dan Shaina mengobrol banyak, dengan obrolan ringan mereka dan Shaina orang yang asik untuk berbagi cerita, pemikirannya juga sangat luas dan rasional ia serta kritis, dari semua itu menunjukkan Shaina itu orang yang sangat peduli dengan sekitar tidak hanya dengan manusia tapi lingkungan baik binatang maupun tumbuhan. Namun Helena yang sekarang kurang mengerti hal-hal berbau ilmiah atau ilmu pengetahuan yang telah ia dedikasi seumur hidupnya itu. Meskipun begitu ia mampu membuat Calvin tertawa dengan kata-katanya yang lucu dan sikap polosnya.


Shaina yang kerap tersenyum membuat Calvin betah berlama-lama memandanginya, tapi shaina jadi tidak nyaman sehingga ia sering mengalihkan pembicaraan dengan mengobrol pada anak-anak.


"Ma, kita pulang yuk!" Kata Alfan.


Shaina bangkit dari duduknya dan meminta permisi pada Calvin, ia dan anak-anak yang mau duluan pulang. Calvin meminta izin untuk ikut karena ia juga ingin main ke rumah Joon. Shaina tidak bisa menolaknya karena Calvin adalah temannya Joon.

__ADS_1


Dalam perjalanan, mereka juga mengobrol dan Calvin juga tidak ragu-ragu mengobrol dengan anak-anak Helena yang menurutnya mereka anak-anak yang lucu dan pintar.


"Kalian mau kemana?" Tanya shaina pada anak-anak yang berjalan ke belakang rumah.


"Itu Ma, kami mau ambil mainan yang tadi pagi soalnya tadi Alfan lupa bawa masuknya" Kata Alice.


"Bukan aku tapi kamu tuh Alice!" Timpal Alfan yang terima tuduhan saudaranya.


Alice dan Alfan sama-sama tidak terima sehingga mereka saling menyalahkan tapi Shaina melerai mereka untuk tidak menyalahkan satu sama lain melainkan bekerja sama untuk saling membantu. Sedangkan ia Shaina mempersilahkan Calvin masuk.


"Astagfirullahaladzim!!" Seru shaina.


Baru selangkah kakinya berpijak di dalam rumah ia sudah dikejutkan dengan aksi Marissa dan joon yang sedang bermesraan di sofa ruang tamu, tampak Marissa duduk di atas pangkuan joon dan mereka sedang berciuman panas, sebagian kancing baju Joon juga sudah terbuka.


Joon yang juga terkejut dengan kedatangan Shaina segera melepaskan tangannya dari pinggulnya Marissa dan mendorong perempuan itu darinya. Calvin yang melihatnya ikut menertawakan Joon yang terlihat seperti orang ketakutan. Marissa memperbaiki duduknya dengan duduk di sebelah Joon, ia tampak tenang berbeda dengan Joon yang panik.


"Silahkan duduk Calvin, aku harus kedapur dulu" Kata shaina yang gugup.


"Tentu saja nona Helena" Sahut Calvin yang juga ikut duduk di depan Joon.


Shaina menuju ke dapur yang dibelakangnya anak-anak pun masuk ke dalam rumah, mereka menuju ke kamar mereka.


Jantung shaina masih berdebar hebat dengan apa yang baru ia lihat, ia tidak menduga ia melihat orang berpacaran seperti itu. Segelas air yang ia teguk tidak juga menenangkan perasaannya yang kacau, ia bingung harus bersikap seperti apa jika ia keluar menemui mereka sekarang.


Shaina duduk di kursi meja makan memangku wajahnya, "Ya Tuhan... Orang lain yang berbuat salah kenapa aku yang khawatir begini?" Gumam shaina.


Joon menyeka wajahnya sambil berdecak kesal. Calvin yang melihatnya tidak henti-hentinya menggodanya.


"Maaf kami masuk di timing yang tidak tepat" Calvin masih terkekeh sehingga Joon mendengus padanya.


"Kenapa kau Joon? " Tanya Marissa.


Joon masih berdecak kesal dan matanya sesekali melirik kearah dapurnya, dan shaina belum terlihat keluar.


Saat Shaina kembali ke ruang tamu ia melihat melihat ada seseorang wanita lainnya bersama joon dan mereka.


"Apa kabar Helena?" Tanya wanita itu, penampilannya menunjukkan ia seorang pengikut tren, ia sangat modus dengan pakaian casual-nya.


"Baik" Jawab shaina, ia melihat pada joon berharap ada penjelasan tentang siapa wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2