Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Aku kartu mu


__ADS_3

Sesaat suasana jadi hening karena perkataan Shaina yang mengandung kontroversi, tapi tidak dengan Shaina, ia sendiri malah terkekeh melihat reaksi mereka.


"Aku jatuh cinta pada hidupku karena Allah menjawab doa-doaku, Dia memberikan ku keajaiban yang belum tentu orang lain mengalaminya sepertiku, meski aku dianggap gila tapi pada kenyataannya aku disini sebagai orang yang di hormati, dicintai, cerdas dan sangat menawan. Aku bebas melakukan apapun tanpa ada gunjingan, direndahkan ataupun diabaikan." nada suara Shaina terdengar menggelegar di ruangan tersebut.


Mencium Alice dan Alfan bukan lagi sesuatu yang di tabu untuk dilakukannya seperti halnya sekarang ia tidak ragu-ragu mendaratkan kecupan manisnya di kening dua anak kembar itu, "yang luar biasanya aku jadi seorang Mama dari anak-anak super manis dan tampan seperti yang diimpikan teman-temanku yang kerap menghiasi sosial media mereka, sedangkan aku dengan mudahnya memiliki itu semua bahkan aku dipercayai untuk mengandung sekarang, bukankah itu keajaiban yang luar biasa?" ucap Shaina dengan bangga. Tapi tidak dengan Joon dan anak-anak, mereka malah menganggap Shaina jadi aneh.


"Mama..." Gumam Alice.


"Jangan cemas, Mama disini dan tetap disini kita akan bersama" ucap Shaina dengan suara melembut lalu melemparkan pandangannya pada Joon dengan senyuman merekah, "aku dulu pasti punya banyak uang kan?" Tanya Shaina, ia menadahkan tangannya, "aku minta kartu kreditku ku, aku kan orang kaya....!!!" tambah Shaina.


"Kartu kreditmu aku" Joon menepis tangan Shaina yang menjulur padanya dan Joon melanjutkan bermain gamenya.


Shaina terperanjat, "Hah?!".


"Kau telah mendonasikan semua uangmu untuk ilmu pengetahuan dan membayar biaya pendidikan anak-anakmu sampai mereka kuliah, jadi sekarang kau tidak punya uang lagi" ujar Joon.


"A-apa? Maksudmu aku membayar sekolah mereka sampai ke jenjang perkuliahan yang bahkan mereka masih belum lulus sekolah dasar?" Pekik Shaina.


"Ya, kau telah memilih sekolah-sekolah terbaik untuk mereka sebelum waktunya" tambah Joon.


"Apa dia eh maksudku aku ini benar-benar segila itu? apa ia pikir uang seperti daun yang bisa datang begitu saja?" Shaina menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa dengan malasnya.


Joon mengangkat alisnya dan meletak ponselnya lalu menyalakan TV.


Shaina tidur di sofa dan menepuk dahinya, "Ya ampun manusia memang tidak ada yang sempurna, ada yang cantik dan pintar tapi gila, ada yang jelek dan bodoh tapi sial!" ketus Shaina.


"Aku tidak tahu tapi yang pasti kau agak gila dan suka berfoya-foya setelah kakakku meninggal" ketus Joon.


"Ya ampun! Ku kira aku kan hidup sebagai orang kaya, tapi ini malah tidak ada bedanya dengan hidupku dulu" gumam Shaina.


Shaina menggerutu kesal dengan hidupnya, lalu ia sadar saat menoleh ke sebelahnya bahwa anak-anaknya Helena juga lebih malang dari dirinya, raut kesedihan mereka terpampang jelas dengan sikap Shaina yang sebagai Helena akhir-akhir ini cukup meresahkan, dimana Shaina sering lupa saat dipanggil dengan sebutan Mama bahkan Shaina juga sering melupakan nama anak kembar itu.


Sebenarnya Shaina juga merasa kasihan dengan mereka jadi ia mencoba menghiburnya, ia meminta Joon untuk mengambil siaran khusus anak-anak yang banyak film kartunnya. Namun bukan hanya anak-anak yang ikut larut dalam menonton film kartun tapi Shaina juga tampak serius bahkan ia ikut komentar jika tidak sesuai keinginannya. Disisi lain Joon yang berdiam diri tapi secara diam-diam memperhatikan tindak-tanduk wanita itu.


Jarum jam menunjukkan pukul setengah sepuluh, Shaina menyuruh anak-anak untuk tidur dan ia sendiri masih betah tiduran di sofa sambil menonton film action, film favoritnya diantara semua genre film.


Joon juga ikut menonton karena film action juga jadi favoritnya, mereka larut dalam suasana menegangkan disetiap adegan yang mainkan oleh para aktor dan aktris itu, tanpa sadar waktu sudah terus berjalan hingga tengah malam.


Joon melirik teman nontonnya ini, "Kamu tidak tidur?" Tanyanya sembari beranjak dari duduknya.


"Aku tidak bisa bangun, kakiku kram dan tidak bisa di gerakkan" kata Shaina sambil perlahan menurunkan kakinya dari sofa.


Joon mematikan TV dan mendekati Shaina.


"Apa yang kau lakukan?" Pekik Shaina karena Joon menggendongnya.


"Jangan banyak bicara! aku akan membawa mu ke kamar, kakimu kram kan?" Ujar Joon.

__ADS_1


Shaina mengangguk dan memaku terdiam melihat wajah Joon dalam jarak yang sangat dekat.


"Jangan banyak bergerak dan berpeganganlah jika tidak ingin jatuh, karena ada bayi di dalam perutmu" tambah Joon.


Shaina menuruti saja yang dikatakan Joon meski ia tahu mereka tidak seharusnya sedekat itu tapi ia benar-benar tidak bisa berjalan. Joon tersungging mendengar jantung Shaina yang deg-degan cukup keras, tapi perasaannya juga ikut aneh saat tangan Shaina melingkar di lehernya, perasaan itu semakin menjadi-jadi dengan melihat ekspresi Helena yang polos seperti gadis lugu, ditambah lagi Helena memakai celana pendek, paha mulusnya seakan memanggil Joon untuk menyentuhnya.


Di ranjang sudah ada Alice dan Alfan yang telah tertidur pulas dalam cahaya redup lampu yang sengaja di setel Alfan sebelum mereka tidur. Joon membaringkan tubuh Shaina di sebelah Alice, tapi tanpa alasan ia juga ikut mendekat pada Shaina.


"Aku merasa gerah" gumam Shaina.


Kalimat itu seakan mengundang Joon untuk lebih dekat padanya hingga kedua wajah mereka sangat dekat dimana Shaina bisa merasakan hembusan nafas Joon yang mendesir di bibirnya.


Kedua jantung juga ikut berpacu hebat setiap kali sentuhan lembut tangan Joon menyeka bibir Helena, menyebabkan Shaina benar-benar sulit mengendalikan diri dadanya terus naik turun seperti ada sesuatu yang mendorong Shaina untuk menikmati hembusan nafas Joon.


Dua pasang mata mereka juga saling beradu dalam waktu cukup lama, sesaat tampak Joon memejamkan matanya sambil menyentuh setiap sudut wajah Helena dan semakin membuat Shaina tidak bisa berbuat apa-apa, hembusan nafasnya Shaina juga semakin terengah-engah tapi ia berusaha untuk tetap dalam kendalinya dengan kesadaran penuh.


"Aku mau tidur..." gumam Shaina.


Joon segera bangun dari atas Shaina dan mereka menjadi canggung satu sama lain, "Aku minta maaf..." Kata Joon dan ia pergi dari kamar itu.


Di kamarnya Joon tidak segera tidur melainkan ia duduk bersandar di dinding ranjang, sembari memejamkan matanya dan mengingat kembali sentuhannya pada wajah Helena. Lalu diakhirinya dengan dengus kesal dan melanjutkan tidurnya namun perasaannya seperti ada yang mengganjal.


Pagi-pagi sekali, Joon bangun untuk menyiapkan sarapan karena tidak mau terburu-buru lagi seperti kemarin gara-gara mereka semuanya kesiangan. Tapi langkahnya belum menyentuh lantai dapur ia sudah berhenti karena melihat Shaina tampak antusias dengan peralatan dapur.


Saat berbalik badan Shaina terperanjat mendapati Joon sedang berdiri di pintu masuk dapur, ingatan semalam kembali menghampirinya. Untuk mencegah Joon berpikir yang tidak-tidak, Shaina sesegera mungkin memalingkan wajahnya meski langkah Joon yang terus mendekat membuat jantungnya deg-degan.


Shaina kaget sambil mengatakan, "apa yang sedang kau lakukan?".


Bukan menjawab pertanyaan Shaina, Joon malah semakin mendekat pada Shaina yang juga memundurkan langkahnya tapi langkahnya mentok di meja dapur sehingga ia tidak bisa kemana-mana. Kedua tangan Joon berpegangan pada sisi meja seakan sedang mengurung perempuan itu, perlahan-lahan tangan Joon kembali menyeka lembut wajah Shaina dan Joon kembali memejamkan matanya seperti aksinya tadi malam, posisi merekapun sangat dekat seakan percikan api siap membakar hatinya kembali.


"Joon, apa yang kau lakukan? Ingat batasan mu aku ini kakak iparmu!" Ketus Shaina yang tiba-tiba.


Shaina tidak tahu apa yang telah ia ucapkan tapi setidaknya ia bisa lolos dari Joon.


"Siapa kau?" Tanya Joon yang membuka matanya.


Shaina terperanjat, "A-aku Helena" gumam Shaina


"Siapa kau?" Hardik Joon dengan suara yang tinggi dan membuat Shaina takut.


"A-aku Helena, ka-kakak iparmu..."


"Siapa kau? Dimana dia?" Suara Joon semakin tinggi dan ia juga memukul meja.


Shaina ketakutan dan mendorong Joon, "apa yang kau bicarakan? Aku Helena" gumam Shaina.


"Kau bukan Helena! Dimana kau sembunyikan dia?" Teriak Joon.

__ADS_1


"Kenapa denganmu? Aku katakan aku Shaina, kau memarahi ku, aku mengaku sebagai Helena kau juga memarahi ku dan menanyakan dimana perempuan itu?" Sahut Shaina yang tersungut- sungut, ia bahkan berpegangan pada sisi meja makan.


Shaina merasa sangat sakit di perutnya dan ia terus mencengkeram kuat sisi meja, "Aaauuu!" Pekiknya dengan memegangi perutnya.


Joon berlari pada Shaina, "Helena! Helena kamu kenapa?" Tanya Joon sambil memeganginya.


"Aauuu!! Sakit!!" Pekiknya. Shaina terduduk di lantai menahan rasa sakitnya.


Joon mengangkat Shaina dan menyuruh anak-anak pergi sekolah dengan bus sekolah, ia juga memberikan uang lebih untuk membeli sarapan di sekolah karena ia harus membawa Shaina ke rumah sakit. Hampir setengah jam berlalu akhirnya mereka tiba di rumah sakit dan dokter juga langsung menanganinya.


Shaina duduk bersandar di ranjang pasien, melihat Joon masuk ke kamarnya dan mendekat.


"Apa yang dokter katakan?" Tanya Shaina.


"Kau dilarang banyak pikiran dan jangan sampai kelelahan karena akan membahayakan bayinya" sahut Joon.


"Aku mau pulang" gumam Shaina.


"Kemana?" Tanya Joon.


"Memangnya aku punya rumah lain selain ke rumah mu?" Tukas Shaina.


Pintu kamar pasien kembali terbuka dan seorang dokter perempuan dan perawat masuk. Mereka menyarankan Shaina untuk melakukan USG agar ia bisa melihat keadaan bayinya. Shaina sangat deg-degan meski tidak sakit tapi ia tidak berani melihat bayi itu.


"Bapak juga harus melihatnya" kata dokter itu pada Joon.


"Maaf dok, saya bukan suaminya" kata Joon.


"Lalu dimana suaminya? Dia pasti akan senang melihat bayinya" tambah dokter.


"Sudah meninggal" sela Shaina.


Joon melihat Shaina yang memalingkan wajahnya darinya, "baik aku akan ikut" sahut Joon.


Dokter itu menyingkap baju Shaina untuk menjalankan alat-alat khusus itu, tapi Shaina terus menutupinya karena ia malu ada orang yang melihat perutnya apalagi Joon juga ada di ruangan itu. Namun dokter tetap berusaha membujuk Shaina dan suara-suara aneh mulai terdengar dari alat itu.


Joon terkejut dan heran dengan suara-suara riuh seperti kawanan kuda berlari terdengar jelas dari alat Doppler yang digerakkan Dokter dipermukaan perut Shaina.


"Lihatlah itu bayimu Nyonya, dia sangat sehat beberapa organ mulai tumbuh" kata dokter sambil menunjukkan pada layar berukuran besar yang tertempel di dinding.


"Benarkah? Aku tidak tahu cara melihatnya" kata Shaina.


"Iya, aku juga tidak mengerti" sahut Joon


Dokter dan perawat tersenyum melihat mereka berdua, lalu dokter itu menunjukkan setiap organ tubuh janin itu.


"Dia sangat kecil" gumam Shaina sembari tersenyum melihat gambar 4D itu begitu juga dengan Joon.

__ADS_1


__ADS_2