REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
INGAT MASA KELAM


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


"Aku minta maaf Yank, aku ingin kita tetap bersama," Radite ingat  saat dia minta maaf pada Dinda ketika dia tahu kalau Dinda dan papanya telah tahu kehidupan kelamnya dengan Shalimah dulu.



"Maaf, aku bukan keset kakimu. Saat kamu tahu konsekuensi menendangku, kamu mengemis agar bisa kembali cari makan buat anak istrimu?" Sakit, Adit ingat kata-kata **anak dan istrimu** yang Dinda ucap itu tentu sangat menyakitkan Adinda.



Dan kata-kata itu juga cibiran bagi dirinya karena Shalimah bukan istrinya, serta Bram bukan anak biologisnya.



Kata-kata yang sangat menohok!



"Aku enggak se naif yang kamu kira."  Adit ingat Dinda kembali melanjutkan kata-katanya.



"Kamu jangan seperti itu Yank," ketika itu Radite masih berupaya agar Dinda bisa memaafkannya. 



 "Jangan seperti itu gimana? Yang selingkuh siapa kok saya yang disalahkan?" kata Dinda lagi. Adit ingat saat itu Dinda mulai bersikap beda, dia menyebut dirinya dengan kata ganti SAYA.



"Aku khilaf," ucap Radite tanpa berpikir.



"Khilaf sampai punya anak? Dan saat kita nikah anak itu sudah lahir! Apa itu disebut khilaf? Shalimah perempuan apa yang membolehkan suaminya menikah bahkan dia datang sambil senyam senyum."



Ya, Dinda benar. Istri seperti apa yang tersenyum bahagia ketika suaminya menikah lagi?



Bagaimana Shalimah tak bahagia, karena menurut Shalimah jalan dia mengeruk uang perusahaan makin mudah.



"Apa dia bolehin kamu nikah karena dia tahu kalau kamu menikahiku posisimu aman? Bisa terus ngeruk duit perusahaan? Itu kan rencana kalian berdua!"  Radite membenarkan kalimat Dinda!



"Silakan aja kamu keluar dari rumah besar itu, batas kita kan hari ini keluar rumah itu dan saya kasih tahu ya, rumah itu sekarang sudah dijaga oleh orang-orangnya papa dan mobilmu sudah diambil oleh orangnya papa juga."



"Mana mungkin! Kuncinya masih di aku." Radite ngeyel.



"Enggak peduli kunci ada di siapa, cek saja ke depan masih ada nggak mobilmu."


__ADS_1


Radite langsung keluar ke depan. Di depan Shalimah juga sedang bingung karena mobilnya sudah tak ada.



"Kenapa kamu masih di sini?" Tanya Radite pada istri sirinya itu.



"Mobil kok bisa hilang? Aku tanya satpam dia bilang suruh tanya papa," jawab Shalimah kesal.



"Kenapa mobil mbak Shalimah dan mobil saya bisa enggak ada?" Radite menghampiri satpam, dia bertanya pada satpam yang sedang berjaga. Semua tahu kalau Shalimah anak angkat pak Eddy.



"Diambil Bapak, Bapak bilang kalau mau ambil suruh bayar cash ke Bapak," jawab satpam.



Radite tak bisa bicara lagi. Dia benar-benar terpuruk ketika tahu hidupnya sudah nyungsep tak bisa bangkit lagi.



Kalau sekarang dia kembali bisa diterima Eddy semua karena kebesaran jiwa Adinda semata.



Tanpa maaf Dinda, Adit yakin Eddy papanya tetap tak akan menerima dirinya kembali.



Radite, langsung lari masuk ke dalam ruangan Eddy.




"Jelas lah diambil. Kamu selingkuh dan kamu membelikan dia mobil lalu apa yang kamu belikan pada Dinda? Tak ada satu pun kan?" Adit ingat itu jawaban santai Eddy saat dia protes soal mobil buat Shalimah.



"Kamu bisa belikan Shalimah rumah tapi tidak membelikan Dinda apa pun!  Apa seperti itu ajaran agama kepada orang yang berpoligami?" tanya Eddy tegas.



"Sekarang kamu pulanglah. Rumah itu mau saya segel. Orang-orang saya sudah ada di sana tinggal menunggu barang apa yang akan kamu bawa," kata Eddy.



Radite cepat bergerak, dia kembali ke ruangan Dinda, yang ternyata sudah kosong.



"Lihat Bu Dinda?" Tanya Radite pada satpam di bawah.



"Ibu Dinda sudah pergi dari tadi Pak," kata satpam.


__ADS_1


"Ke mana ya?"



"Enggak tahulah Pak  bu Dinda pergi kemana."



"Dia pakai mobil apa?"



"Mobil pribadi bu Dinda yang mobil sport baru. Mobil kantor sudah dia serahkan ke bagian finance lengkap dengan BPKBnya, begitu info tak resmi yang saya dengar. Kalau kurang yakin Bapak cek ke pak Rizaldy saja Pak," jawab satpam. 



Radite pun segera mengambil taksi dan pergi ke rumah besar yang biasa dia tinggali yaitu rumah dinasnya Dinda.


\*\*\*



"Kok kosong, pada kemana?" tanya Radite pada para pengawal Eddy yang berjaga di rumah itu. Di rumah itu sudah tak ada Dinda dan juga para pembantu.



"Bu Dinda sejak kemarin sudah angkat barang Pak. Waktu Bapak datang itu Ibu Dinda baru selesai angkat barang."



"Apa Bapak nggak lihat? Barang bu Dinda sejak kemarin sudah nggak ada di kamar."



"Jadi dia sudah tahu?"



"Sudahlah Pak orang Bu Dinda sendiri yang langsung lihat Bapak di Bengkulu kok!"  kata pengawal Eddy dengan santai.



"Bu Dinda nyusul ke Bengkulu mau  bikin kejutan ke Bapak, ternyata dia terkejut karena melihat Bapak dengan Shalimah." Radite diam ketika pengawal papanya sama sekali tak menghormati Shalimah. Dia langsung menyebut nama tanpa mbak atau bu.



"Saya kasih waktu Bapak satu jam untuk mengangkat barang. Kami akan mengawasi apa yang Bapak bawa."  lalu dua orang pengawal menunggu Radite membereskan barangnya yang ada di filling cabinet.



Disana sudah tak ada  apa pun selain ijazahnya sendiri.



Radite hanya membawa ijazahnya dan baju dua koper.



Radite ingat masa kelam dia diusir tanpa memiliki apa pun. Semua karena kebodohannya. Dia tak ingin hal itu terulang. Karena tak akan mungkin ada toleransi dari Dinda dan papanya. Tak akan mungkin.


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY !

__ADS_1



__ADS_2