
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Tanpa mampir ke mana-mana Adinda langsung pulang. Sejak tadi dia berusaha berkonsentrasi pada jalanan. Dia tak mau celaka karena melamun.
"Aduh aku mau makan apa ya?" Jadi males ngolah tapinya laper. Tadi kan harusnya aku mampir ke supermarket dulu untuk belanja." Adinda meletakkan kunci mobil digantungan kunci dalam kamarnya.
"Gara-gara ketemu Mas Adit aku jadi malas belanja," Adinda mengeluarkan makanan beku yang sudah dia olah lalu dia masukin ke microwave. Sambil membersihkan diri dia berpikir dan bermonolog.
"Kenapa dia nggak ngotot nganterin aku pulang ya?"
"Paling tidak menemani aku sampai aku masuk mobil. Tadi dia seakan-akan melepaskan diri dari aku."
"Apa dia kaget atau dia nggak suka dengan kehamilanku ini?"
"Enggak mungkin dia enggak suka. Dia paling suka dengan anak kecil sampai bisa ditipu dengan kehadirannya Bram."
"Pasti dia memang sengaja mau memberi kesempatan aku untuk tenang."
"Ya mas Adit memberi kesempatan aku untuk tenang."
__ADS_1
"Dia memang sangat mengerti kebutuhanku. Karena aku ingat saat dia memohon jangan gugurkan bayinya!"
Adinda memaksa makan malam walau sudah malas makan. Tapi dia sangat lapar jadi tak mungkin tidak makan.
Adinda berupaya untuk tidur tapi tak bisa.
"Kenapa sayang? Kalian nggak mungkin minta bobok dipeluk ayah. Kalau kebetulan ketemu aja ya. Kalian nggak boleh nunggu di peluk," Adinda merasakan kedua anaknya protes walau belum ada gerakan dalam rahimnya.
Dia merasa *kehilangan* setelah berpisah dengan Adit. Dan merasa nyaman ketika dekat dengannya terlebih saat dipeluk bahunya tadi. Padahal dulu sebelum hamil dia tak pernah merasakan sensasi rasa ini.
\*\*\*
"Kalau seperti ini aku harus dua kali membuat rencana terpisah untuk menghabisi mereka!"
"Tapi lebih baik aku habisi yang perempuan saja. Dia sedang hamil itu pasti sudah pukulan buat Radite."
"Ya aku akan balas dendam untuk kalian." kata sosok itu. Rupanya dia mengikuti pasangan itu sejak dari rumah sakit sehingga tahu kalau Radite dan Dinda tinggal terpisah.
\*\*\*
__ADS_1
"Lalu apa tanggapan Dinda?"
"Dia kaget Pa. Dan Papa harus tahu, aku akan punya anak kembar Pa!" Adit bercerita antusias kalau dia melihat Adinda periksa di rumah sakit.
Tentu saja Eddy pura-pura kaget seakan tak tahu kalau Adinda hamil.
"Berarti mulai besok dia harus mengurangi kegiatan kerjanya," tukas Eddy seakan itu kebijakan dadakan yang akan dia terapkan setelah mendengar mantan menantunya hamil.
"Iya Pa, kurangi beban pekerjaannya agar dia tak terlalu lelah. Aku tak ingin dia ambrug dan anak-anak kami kenapa-kenapa. Aku ingin mereka sehat dan lahir dengan selamat walau aku tak bisa disisi Adinda." Adit berharap yang terbaik buat Adinda dan anak-anaknya.
Buat Radite ini bukan berita pertama dibilang dia akan punya bayi. Saat Shalimah memberitahu dia hamil, tak ada degup bahagia di jantungnya.
Beda dengan kehamilan Adinda. Ada rasa yang tak bisa dia lukiskan dengan goresan apa pun. Tak dapat dia jelaskan dengan kata-kata indah apa pun.
Adit merasa selalu ingin disisi Adinda. Ingin selalu memandangnya dan ingin selalu mendekapnya.
Mungkin itu yang bayi-bayi dalam rahim Adinda rasakan. Mereka selalu ingin dekat dengan ayahnya dan merasa nyaman bila lelaki itu dekat dengan bunda mereka.
"Insya Allah kamu akan selalu berada disisi Dinda. Berdoalah selalu. Minta yang terbaik agar kalian bisa bersama kembali," Eddy menasihati Adit untuk selalu berserah diri.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR
__ADS_1