REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
GHIFARI & GHIBRAN


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.



"Ini sarapannya Mbak maem dulu biar kuat ngelawan mas Adit kalau dia cerewet," mbok Marni menyodorkan bubur sumsum buat Dinda.



"Terima kasih Mbok. Emang bahannya ada Mbok? Trus Papa sudah makan belum?" Dinda memberondong pertanyaan pada mbok Marni.



"Bahan ada lah kebetulan kemarin habis bikin peyek jadi tepung beras ada, kalau gula merah dan santan kan gampang dan selalu ready," kata simbok. 



Padahal bahan-bahan itu tak ada. Eddy memang langsung membangunkan simbok untuk pagi-pagi berangkat sudah ada bubur sumsum karena Dinda sudah sadar.



"Bubur buat Bapak dan mas Adit, mbok bawakan kesini juga koq Mbak." Sahut Marni.



'*Mau sarapan koq yo masih sempat mikirke mertuane*,' Asih semakin kagum terhadap Dinda.



Eddy dan Radite langsung makan bersama Dinda.



"Tu kata simbok makan yang banyak biar bisa debat sama Mas," goda Adit.



Saat itu sarapan untuk pasien dari rumah sakit datang.



"Ibu ini obat sehabis sarapannya ya," pengantar makanan memberitahu jatah obat pagi yang harus diminum Dinda.



"Ada obat, minum dulu?" Tanya Adit karena Dinda pas selesai makan buburnya.



"Sebentar lagi Mas. Minta air putih boleh?" Adit mengambilkan air mineral yang tersedia.



"Mbok Asih makan dulu. Kalau enggak kenyang makan bubur sumsum, beli sarapan di kantin rumah sakit aja Mbok. Atau itu roti masih banyak," Dinda meminta mbok Asih sarapan dulu mumpung anak-anak sedang tidur.



"Iya Mbak. Saya cukup koq makan bubur. Enggak usah beli ke kantin."



"Pa, mamas sama ade sudah punya nama loh," lapor Adit.

__ADS_1



"Siapa namanya?" tanya Eddy lalu Dinda menyebutkan nama yang dia berikan untuk kedua putranya.



"Ghifari Ghossan Alkav buat mamas dan Ghibran Ghossan Alkav buat ade Pa."



"Ghifari artinya pengampun dan lembut hati. Aku ingin dia memiliki sifat seperti itu."



"Ghibran artinya paling pandai, aku juga berharap dia seperti itu, pandai dalam menyikapi sesuatu hal positif karena arti nama Ghosan adalah menyejukan hati."



"Kedua nama yang bagus sesuai dengan doa kita semua. Semoga mereka menjadi orang yang sukses dan taat beribadah," Eddy menyukai nama yang Dinda pilihkan untuk kedua cucunya.



"Aaamiiiin," kata Dinda dan Adit bersamaan.



"Oke Papa akan bikinkan akte kelahiran bila Adit sudah minta surat keterangan dari rumah sakit tentang kelahiran mereka." 



"Bagaimana bisa bikin  akte tanpa surat nikah?" Adit sedih mengingat anak-anaknya tak bisa dia buatkan akte kelahiran. Padahal dulu dengan Bram tak pernah ada keinginan membuat surat apa pun.




"Maksud Papa?" Kata-kata Adit terhenti karena Dinda dan Eddy  tertawa bersama.



"Kalian pasti ada rahasia." Adit keqi karena ternyata dia dibohongi Dinda dan Eddy. Tapi dia juga bahagia bila ternyata pernikahannya belum diputuskan cerai. Artinya dia masih suami sah Dinda.



"Sudahlah nanti aja," Eddy minta tak membahas soal surat cerai karena ada dua orang pegawai mereka. Adit mengerti nggak enak bicara soal akta cerai karena ada dua mbok.


\*\*\*



"Untuk satu minggu ini sebaiknya Ibu pompa saja biar memperlancar ASI-nya."



"Semoga masih bisa keluar tapi jangan diberikan kepada baby. Dibuang saja supaya zat berbahaya terbuang semuanya."



"Saya akan beri obat penetral dan kita lihat lagi kandungan ASI-nya setelah satu minggu lagi. Perbanyak minum susuu murni juga ya Bu."


__ADS_1


"Ingat ASI diperah tapi dibuang aja untuk memperlancar keluarnya ASI aja ya."



"Ibu harus sabar karena kita kan nggak tahu kalau harus seperti ini. Saya yakin Ibu ingin memberi ASI terbaik bagi putra-putranya." Dokter menuliskan resep dan menerangkan cara minum yang harus dijeda dua jam untuk satu jenis obat penawar racunnya.



"Ya Dok saya sangat berterima kasih karena diperbolehkan memberi ASI, walau sekarang belum waktunya bisa langsung menyusui," kata Dinda.



"Semangat Yank,  nanti Mas beliin pompa ASI-nya," Adit langsung memberi support pada Dinda.



"Iya Mas beliin ya," pinta Dinda.



"Banyak mengkonsumsi makanan bergizi kalau memang mau memberi ASI ya Bu." Nasihat dokter sebelum berlalu.



"Pasti saya mau memberi ASI Dok. Sebagai perempuan wajib memberi ASI buat anak-anak saya kalau memang memungkinkan," ujar Dinda lagi.



"Lalu bagaimana dengan gerak?" tanya Eddy sehingga membuat dokter tak jadi beranjak.



"Tidak ada apa-apa kalau saya lihat sih. Tapi jangan dipaksakan dan ibu kan kemarin sudah disuruh miring-miring. Hari ini mulai boleh duduk."



"Besok di Rontgent ya tulang keringnya ya. Kalau sudah nggak ada apa-apa tulang kering kirinya Ibu mulai bisa turun,"  dokter memberi anjuran lagi 



"Tak perlu khawatir. Kalau perkiraan saya sih sudah aman karena walau tidak di gibs tapi nggak pernah dipakai bergerak selama tiga bulan ini saya yakin sudah mulai sehat."



Selama ini memang kaki Dinda hanya dibalut spalk dan pembebat saja.


\*\*\*



Rupanya hari itu Eddy tak ingin kerja di kantor. Dia memanggil pengacaranya untuk datang makan siang di cafetaria rumah sakit untuk memberikan data tentang cucu-cucunya.



Pagi tadi Radit sudah meminta surat keterangan kelahiran dari rumah sakit jadi akan langsung diurus aktenya. Saat itulah Radite baru tahu kalau sejak diketahui hamil Adinda dan Eddy sudah membatalkan perceraian mereka. Jadi dia dan Dinda masih resmi sebagai suami istri.


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel keren karya teman yanktie yang bernama SITI FATIMAH


dengan judul novel DOKTER GENIUS MILIK PUTRI KONGLOMERAT ya


__ADS_1


__ADS_2