
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Adinda keluar dari ruangan dokter dengan galau walau wajahnya penuh senyum.
Radite memberikan resep dan kartu periksa pada suster untuk dimasukkan di file.
Suster memberikan resep yang sudah dicap olehnya juga memberi kwitansi yang harus dibayar Radite.
Lelaki itu memberikan uang cash. Adinda langsung menjauh dari situ, percuma dia ngotot membayar disana. Pasti malah akan terlihat membingungkan. Jadi lebih baik dia menerima saja suaminya membayar biaya kontrol kali ini.
Adinda bingung mau langsung ke mobil atau kemana. Semua resep dan hasil USG diambil oleh Radite, jadi Dinda nggak pegang apa pun hasil periksa hari ini.
"Apa aku tinggal pulang aja ya? Enggak usah tebus obat. Besok aku kembali minta copy resep ke dokter," Adinda pun berjalan gontai.
"Sebentar Din, nggak usah lari gitu. Bahaya buat bayi-bayi kita," Radite melarang Dinda berjalan cepat. Dia takut Dinda kepleset.
"Siapa yang lari? Orang aku jalan pelan kayak gini," kata Adinda.
"Kita langsung ke apotek dulu ya. Kita tebus vitamin buat anak-anak," ucap Adit lembut dia peluk bahu Dinda. Membuat Dinda merasa sangat nyaman. Membuat Dinda semakin malas untuk menghindar lagi. Dinda pun berjalan ke apotek dengan patuh.
Wajah Radit sangat bahagia dia sudah tahu sekarang siapa perempuan yang hamil karena dirinya. Walau tak ada perempuan selain Dinda dan Shalimah yang dia sentuh sejak empat tahun terakhir.
Radite yakin Dinda tak pernah mau dengan pria mana pun apalagi sampai hamil itu tak mungkin.
__ADS_1
Tak lama semua obat sudah ada di tangan Radite.
"Mau ke mana lagi Din?"
"Enggak mau kemana-mana aku mau langsung pulang aja," Adinda malas kemana-mana, ingin berbaring santai saja.
"Mas antar ya?" Radite menawarkan jasa.
"Nanti motormu gimana?" Adinda pun sebenarnya ingin, tapi dia jadi tak enak kalau menyusahkan Adit.
"Nggak apa-apa gampang. Nanti aku ambil setelah antar kamu."
"Aku bisa pulang sendiri kok."
"Terima kasih ya Mas," Adinda menerima vitamin yang Radite berikan.
Adinda pun langsung berlalu dari depan Radite. Dan Radite tak mau mengejar.
Radite tak ingin Dinda tertekan dengan kenyataan bahwa dirinya sudah mengetahui kehamilan perempuan itu.
'*Cukup sampai sini aja, aku tak mau Dinda stress bila terus aku dekati*.'
'*Aku akan langsung punya dua anak kandung*!'
__ADS_1
Radite bahagia bisa melihat anak-anaknya sejak dalam kandungan. Waktu dengan Shalimah, beberapa kali diajak mengantar periksa, Radite tak pernah mau. Alasannya takut banyak yang lihat.
Tak pernah dia punya rasa ingin tahu perkembangan anaknya di perut Shalimah. Rupanya rasa itu tak timbul karena Bram bukan bayi miliknya. Dia ingat sejak lahir Bram bermata sangat sipit dan kulitnya putih. Bukan berkulit gelap seperti dirinya dan Shalimah.
'*Kasihan Bram, anak itu tidak bersalah tapi jadi korban. Tapi aku tak mau mengambil dia walau aku sayang. Aku tak mau kasus seperti Shalimah kembali terulang. Aku tak ingin dia nanti menjadi tamak lalu menghancurkan anak-anak kandungku dari Adinda*.'
'*Sifat dasar itu pasti ada. Untung kami tidak nikah sehingga namaku tak tertulis di akta kelahirannya. Benar pendapat papa dan Dinda, Shalimah sangat bodoh. Tidak memikirkan akta kelahiran anaknya sehingga tak punya kekuatan hukum apa pun*.'
'*Bahkan dia tak peduli dan membuang anaknya di panti asuhan. Sungguh ibu yang bia-dab*.'
'*Benar kata papa, nggak perlu menyayangi anak yang memang asal-usulnya kita sudah tahu bahwa ada sifat buruk dalam bibitnya. Walau aku pernah sayang pada Bram karena mengira dia anakku, tapi aku tak mau punya kesalahan fatal bila memeliharanya lalu anak-anakku kandungku malah tertindas oleh 'kakak' nya itu*.'
Sebelum pulang Radite membeli nasi goreng di depan rumah sakit. Dia makan dulu agar sampai rumah sudah nggak perlu repot.
'*Tapi kok aku pengen lihat Bram ya. Aku nggak boleh melakukan kesalahan lagi. Kalau aku memikirkan anak itu, artinya aku akan berperang dengan papa dan Dinda. Mereka tentu sangat membenci anak yang membuat aku tunduk di kaki Shalimah*!'
'*Walau bukan kesalahan Bram. Tapi aku tak ingin terjun bebas lagi mendekati penyebab masalah*.' Radite tak mau lagi masuk pusaran kesalahan yang tak akan mungkin bisa membuat dia mendapat maaf lagi dari Dinda dan papanya.
Saat itulah Radite melihat sosok Bram dari jauh. Rupanya sudah ada yang mengadopsi anak itu. Sosok Bram ada dalam gendongan seorang gadis belia berseragam baby sitter. Yang berjalan bersama seorang nyonya bermata sipit dan seorang lelaki yang Radite ingat pernah datang bertamu ke rumah besarnya.
Radite tahu karena saat dia datang dari kantor lelaki itu baru keluar dari rumahnya. Dan saat itu Shalimah bilang om itu mencari alamat. Dan dia tak kenal.
'*Baguslah sudah ada yang adopsi. Semoga aja dia jadi anak yang baik tidak seperti ibunya dan siapa pun ayahnya karena sudah pasti ayahnya seorang suka selingkuh. Apa memang dia ya ayah Bram*?'
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING
__ADS_1