
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
"Yah ini bagus nggak?" tanya Dinda memperlihatkan foto pakaian di handphonenya.
"Bagus kamu mau beli?"
"Ya, aku mau pesan ini. Tapi aku minta ada buat babynya dulu."
"Sekarang aku lagi cari yang buat baby yang bisa matching dengan ini. Buat nanti saat aqiqahan," kata Dinda.
Adit melihat baju yang diperlihatkan oleh Dinda adalah baju pasangan suami istri atau couple.
"Ya udah cari aja baju baby yang seperti itu," kata Adit.
"Buat baby kita nggak bisa beli dua Yah, karena kan takutnya basah."
"Ya kita beli empat," jawab Adit santai.
"Jadi ini Ayah setuju ya?"
"Warnanya yang lain bisa enggak Bun? Jangan putih lah Bun. Kayaknya Ayah takut kotor aja."
"Mau warna apa?"
"Hijau, kalau hijau bagus nggak? Hijau tosca," tanya Adit.
"Iya hijau tosca keren tuh. Hijaunya yang ini kan ya? Tapi masalahnya baju anak-anak ada nggak?" kata Dinda.
__ADS_1
"Oh gini Bun, kamu cari baju anak-anak dulu warna yang ready apa. Baru kita cari baju kita sesuai warna baju anak-anak yang ready tadi. Karena warna baju anak-anak kan lebih sulit dipadankan."
"Oh iya benar-benar Yah."
Mereka pun sibuk mempersiapkan baju, jenis menu, tenda, undangan dan segala macam yang berhubungan dengan acara aqiqahan kedua putra mereka.
"Nanti tinggal lapor papa aja bahwa kita akan adain aqiqahan kapan. Lalu kita bikin undangan buat orang-orang sini dan anak panti asuhan Bun." Adit merasa semua telah dia bahas.
"Yah, maaf ya Yah maaf sekali," Dinda bicara ragu. Adit jadi takut kalau ada hal yang tak dia inginkan akan Dinda sampaikan.
"Kenapa?" tanya Adit. Dinda memohon maaf dengan begitu penuh ketakutan, membuat Adit makin berdebar. Adita takut kalau Dinda kembali minta berpisah darinya karena proses pengurusan akte kelahiran anak-anak sudah selesai.
"Aku ingin, uang buat amplop anak-anak panti asuhan dari aku ya Yah?" pinta Dinda lirih.
"Bukan begitu, aku ingin keluarin uang pribadi sebagai tanda aku bersyukur aku bisa sehat kembali." Dinda tahu masalah seperti ini bisa jadi salah paham. Itu sebabnya harus dibicarakan jujur dan jauh-jauh hari.
"Oh alasannya itu. Oke nggak apa apa. Nanti Ayah kasih buat pos yang lain," Adit plong ternyata yang ingin dibicarakan Dinda tak seperti yang ia pikirkan.
"Makasih ya Mas. Mohon jangan tersinggung."
"Enggak, Ayah nggak kesinggung. Malah Ayah senang kamu bicara seperti itu," Adit mengecup puncak kepala istrinya.
"Oh iya Yank, hari Senin Ayah mulai masuk kerja ya," kata Adit.
"Serius Mas?" tanya Dinda dengan rona bahagia. Hampir lima bulan Adit tak masuk kerja. Bahkan hampir dibilang tak pernah keluar dari rumah sakit sama sekali.
__ADS_1
"Papa bilang Ayah harus mulai masuk kerja karena punya tanggung jawab anak."
"Untuk sementara papa tempatin Ayah jadi asistenmu. Ajarin Ayah ya. Selama kamu belum aktif Ayah akan tanya di rumah. Kalau sudah aktif ya belajar langsung di lapangan."
"Aku akan ajarin selama Ayah kerja yang benar." Dinda langsung mengultimatum Adit.
"Insya Allah bener lah Bun." Kilah Adit.
"Buktinya dulu jadi manager marketing kamu nggak bener." Dinda menohok Adit.
"Iya, Ayah nggak bener karena ada orang yang menarik kebelakang. Insya Allah kesalahan fatal itu tak akan Ayah ulangi."
"Kita punya anak, kita berpikir ke depan." Adit tak ingin lagi terjatuh ke jurang.
"Semua orang punya masa lalu kok Yah. Tenang aja Bunda ngertiin."
"Tapi satu kali lagi Ayah melenceng nggak akan ada maaf. Apa pun alasannya walau itu dijebak, walau itu terpaksa atau apa pun tidak akan pernah ada maaf lagi," kata Dinda tegas.
"Iya Ayah ngerti. Insya Allah apa pun yang terjadi Ayah akan jujur sehingga kita akan selalu bersama."
"Kalau pun dijebak, sejak awal Ayah akan ngomong sehingga tidak terseret arus," janji Adit.
"Oke ingat itu ya Yah."
"Iya serius. Sekarang Ayah pergi Jumatan ya," Adit pun pamit pada Dinda untuk pergi salat Jumat.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel keren karya teman yanktie yang bernama SKYL
__ADS_1
dengan judul novel BAD BOY SUAMIKU ya