REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
DIBAYARIN BAKSO


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




"Oke semuanya saya setujui. Pastikan persediaan barangnya harus ready.  Jangan sampai kita order,  dia nggak ada barang."



"Sudah Bu, saya tadi sudah cek duluan dua kali dengan Pak Shindu dan mereka bilang ready."



"Oke Shindu, ini saya ACC ya, hitungan dimulai besok." Adinda memberi perintah pad Shindu.



"Siap Bu," kata Shindu.



"Oke selamat bekerja Pak Abdullah Ashraf," kata Adinda.



"Masuuuk," kata Adinda pada saat dia baru bicara ada yang mengetuk pintu ruang kerjanya.



"Aku mau anterin ini tadi tertinggal di mobil."



"Oh ya terima kasih," jawab Dinda. Tadi Dinda terburu-buru lalu dompetnya terjatuh di mobil. Dia keluar cuma pegang HP saja maka sekarang Radite mengantarkannya ke ruangan Adinda.



"Eh Pak Radite apa kabar?"



"Baik, ini ngantarkan dompetnya Dinda tadi habis makan siang dompetnya tertinggal di mobil."



Di kantor itu tak ada yang tahu proses kalau Radit dan Dinda sudah cerai termasuk Shindu.



Shindu hanya tahu soal Bramantyo bukan anaknya Radite juga perselingkuhan Radit dengan Shalimah yang sekarang sudah dipenjara.



Kalau soal perceraian dan yang lainnya Eddy menutup rapat.



'Oh ini suaminya Bu Adinda,' batin Ashraf, dia melihat sosok gagah di depannya.


__ADS_1


"Ayo semua, saya permisi," tanpa salaman pada siapa pun Radite keluar ruangan itu.



'*Kok kaku ya sama istrinya*?' kata Ashraf dalam hatinya. 



'*Mungkin kalau di pekerjaan mereka memang membatasi diri. Buktinya mereka baru makan siang bersama sampai dompetnya tertinggal di mobil*,' pikir Ashraf lagi.



"Baik bu saya langsung permisi untuk kembali ke Cilegon." Ashraf pamit pada Adinda.



"Selamat bekerja," kata Adinda tanpa basa-basi.


\*\*\*



"Aku akui dia gagah, dia tampan dan pastinya pintar seperti yang papa bilang. Aku memang tak ada apa-apanya."



"Aku hanya bisa laku untuk sampah seperti Shalimah. Atau para perempuan di luar sana yang tidak tahu kemampuanku tapi memandang harta papaku saja."



"Aku tak berarti buat perempuan terhormat seperti Adinda,  aku memang tak ada harganya sama sekali."




"Perempuan-perempuan itu  masih menganggapku saat mereka pikir aku adalah pewaris tunggal papa. Tapi begitu tahu aku miskin pasti mereka akan mundur."



"Aku tak mau perempuan-perempuan seperti itu lagi. Kalau pun aku harus kembali menikah, aku hanya mau menikah dengan Adinda."



"Hanya Adinda seorang lah yang aku mau. tak akan lagi ada perempuan lain." Sejak tadi Radit bicara pelan sambil mengamati pekerjaannya. 


\*\*\*



"Wah hujannya deras juga ya mana payungku di mobil,' kata Adinda.



"Pakai payung saya aja dulu Bu,"  jawab Pak satpam.



"Enggak lah kalau hujan gini juga saya takut bawa mobil sendiri. Biar saya tunggu agak reda aja. Jalan di hujan deras seperti ini bahaya buat mobil kecil saya," kata Adinda.



Radit juga tak bisa langsung pulang karena dia lupa bawa jas hujan.

__ADS_1



'*Ah jas hujan kemarin belum aku lipat dan masukkan kembali di jok motor, masih aku gantung di jemuran*.'



Sejak keluar ruang kerjanya tadi, sambil menunggu  hujan reda Radit menuju kantin belakang.



Radit duduk di sana untuk minum kopi sambil menunggu hujan reda.



"Ibu Dinda" sapa seorang karyawan kantin.



"Mau pesan apa Bu?" katanya.



"Ngebakso enak deh ya hujan-hujan gini. Saya.pesan bakso aja, kuahnya sedikit aja, tanpa tahu atau mie. Banyakin tetelannya," pesan Dinda.



Dinda tak tahu di sana sudah ada Radite sejak tadi.



"Ngemil Bu?" Tanya Kusnan, staf HRD.



"Iseng aja sambil nunggu hujan. Saya malas hujan-hujanan," jawab Dinda.



"Ya sih Bu, lebih baik kita nge bakso aja," Kusnan juga sama-sama pesan bakso.



Kusnan dan Adinda makan sambil ngobrol. 



"Sudah dibayar tadi sama Pak Radit Bu," pegawai kantin menolak uang yang Adinda berikan.



Adinda nggak tahu kapan Radite datang dan pergi. Saat dia mau bayar baksonya pegawai kantin bilang sudah dibayarkan oleh Radit.



"Oh," jawab Adinda. Semua orang merasa wajarlah Radite bayarin istrinya. Gitu kan, tapi tidak bagi Adinda.



Adinda kaget karena Radit mbayarin dia tapi tidak bayarin Kusnan yang makan bareng dengannya.



"Ya udah saya permisi ya Bu," Dinda meninggalkan kantin itu.  Hujan sudah reda dan dia siap pulang.

__ADS_1


__ADS_2