
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Dan ini ada lontong opor sama dengan yang punya Shindu tadi. Makanlah."
"Kok tumben bawa masak-masak gini Pa?"
"Dinda bawain Papa. Sekarang dia lagi demam masak jadi apa pun dia masak. Dia bilang kalau masak sedikit tanggung jadi dia masakin sekalian."
"Tadi dia drop semuanya di sini termasuk punya Shindu."
"Oh gitu pantes tadi Papakl yang kasih punya Shindu." Ucap Radite sambil menciumi bau aroma opor ayam.
"Iya biar sekalian Papa yang kasihkan aja. Karena Papa mau panggil Shindu mau Papa suruh antar ke kamu. Eh Papa ingat mau bicara soal !test kesehatanmu maka Papa minta kamu kesini aja sekalian."
"Kamu berharap lah dapat permohonan maaf dari Dinda."
"Walau sulit tetap akan aku upayakan dapat maaf dari Dinda Pa." kata Radite.
"Walau misal dia tak mau kembali padaku. Tapi aku butuh maaf dari hatinya, bukan hanya ucapan darinya."
"Kamu sudah sarapan?"
"Sudah satu minggu ini aku kalau pagi mual Pa. Tak bisa masuk apa pun kecuali kopi pahit kental. Kopi manis pun tak mau. Kalau siang sudah hilang mual dan kembali normal seleraku. Bahkan aku eneg dengan kopi pahit bila siang dan malam."
"Kemarin bisa sarapan roti dari Dinda. Tak ada penolakan, tak ada mual. Masuk aja enak seperti biasa."
"Sekarang dari pagi pun aku belum isi apa-apa karena aku masih mual. Tapi aku koq enggak mual cium opor ini." Sejak tadi memang Radite sudah membuka thinwall kecil berisi opor yang tinggal dituang ke thinwall besar berisi lontong.
"Coba kamu makan lontong opornya ini. Kali aja dengan makan masakan Dinda perutmu nggak mual," Eddy sekarang tahu hubungan mualnya Radite dengan kehamilan Dinda.
Dulu saat Ina istrinya mengalami kehamilan pertama, Eddy lah yang merasa mual dan pening, juga muntah-muntah di pagi hari.
Saat itu Eddy mengalami sindrom couvade seperti yang sekarang dialami oleh Radite. Kehamilan pertama Ina juga kembar.
__ADS_1
Itu mengapa Eddy selalu mewanti-wanti Dinda agar selalu hati-hati agar tidak keguguran seperti Ina.
Tanpa membuang waktu Radite makan lontong opor yang dibikin oleh Dinda.
"Enak banget Pa dan aku nggak mual loh." Radite terus mengunyah lontong opor merasa sebagai makanan terlezat di dunia.
"Oh gitu berarti besok-besok Papa suruh Dinda bawakan yang banyak aja lah. Biar kamu juga terus dikasih karena tadinya dia nggak mau ngasih kamu takut kamu salah paham."
"Ini permintaan Papa memang sekalian aja dia bawakan."
"Iya Pa, kalau nggak merepotkan nggak apa-apa aku suka. Karena ini nggak bikin aku mual. Sekarang aku kalau pagi hanya bisa minum kopi pahit Pa. Kopi pakai gula pun pasti akan mual."
"Ya ampun segitunya."
"Iya Pa kopi pakai gula aja aku nggak bisa. Entah kenapa. Aku akan coba ke dokter nanti sore sehabis pulang kerja."
"Ya coba aja periksa daripada kamu kena sakit yang bahaya." Saran Eddy. Dia ingat ketika dia berobat dulu, dokter malah menganjurkan dia dan Ina ke poli kandungan. Karena saat itu dia datang ditemani istri tercinta.
"Iya Pa nanti pulang kerja aku ke dokter," jawab Radite lagi.
\*\*\*
"Saya nggak pesen loh," kata Dinda ragu.
"Enggak tahu Bu atas nama Bu Dinda kok ini alamat penerimanya."
'*Isinya salad buah dan salad sayur. Pasti papa ini*.'
"Oh mungkin Pak Eddy yang pesankan buat saya."
"Terima kasih ya."
"Iya Bu. Saya permisi." Staff itu langsung keluar dari ruangan Adinda.
\*\*\*
__ADS_1
"Papa beliin aku salad?" Dinda langsung menghubungi Eddy.
"Sudah datang?" Tanya Eddy.
"Sudah Pa. Terima kasih ya Pa."
"Dind, kayaknya hobby masak mu akhir-akhir ini berhubungan sama Adit loh," tukas pak Eddy memberitahu Dinda.
"Koa bisa Pa? Kenapa?" Adinda penasaran.
"Tadi Radite cerita sudah satu minggu ini pagi itu dia mual nggak bisa masuk apa pun. Kopi manis pun dia nggak bisa. Dia hanya bisa kopi pahit kental yang biasanya dia tak suka."
"Koq sampai segitunya Pa?"
"Iya itu karena anak kalian memang maunya perhatian papanya."
"Kok gitu Pa?" Adinda tentu tak tahu hubungan anaknya dengan tak bisa sarapannya Radite.
"Dulu Papa juga mengalami hal yang sama saat kehamilan mama yang pertama. Kamu tahu kan Radite itu kehamilan mama yang ketiga. Kamu coba cari sindrom couvade di Google kamu akan tahu apa yang dia rasakan setiap pagi."
"Tapi dia enggak mual saat sarapan kalau masakanmu. Kemarin roti itu dia bisa masuk pagi-pagi padahal kopi manis pun nggak bisa."
"Tadi Papa suruh dia makan lontong buatanmu. Lontong opor dia bisa masuk dan dia bilang nggak mual. Jadi mungkin itulah jalannya Allah kamu jadi hobi masak dia nggak bisa makan kecuali makanan buatanmu itu. Itu ikatan cinta yang tak bisa kalian pungkiri."
Adinda tak mau menjawab. Dia sesungguhnya juga sangat mencintai Radite. Tapi sakit yang Radite berikan selama ini dibohongi sejak awal pernikahan tak bisa dia lupakan begitu saja.
"Coba kita mengerti dia, apa latar belakang tindakannya Dind. Kita kan belum tanya alasan dia, walau biar gimana pun selingkuh memang salah."
"Tapi pasti ada reason di belakangnya."
"Aku ngerti kok Pa. Tapi aku belum bisa menghapus dosa dia menipuku sejak awal menikah. Menghapus aja enggak bisa apalagi melupakan kesalahannya itu Pa. Maaf, aku enggak bisa."
"Ya udah kamu makan dulu aja saladnya biar cucu Papa senang." Tanpa disuruh Dinda pun makan kirimannya Eddy.
Eddy tak ingin memaksakan agar Dinda bisa menerima Radite kembali.
__ADS_1
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR