
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
"Wah bagus ini dedek bayinya, kakak sama adik sehat eh apa panggilnya Mamas sama Adek ya Lupa deh."
"Mamas sama Adik sehat semua nih, perkembangannya motorik bagus, berat tubuhnya bagus masih ASI apa sudah ditambah sufor ( susuu formula )," tanya ibu dokter cantik yang menangani si kembar sejak lahir.
"Tetap ASI Dokter, saya nggak tambah sufor. Alhamdulillah." kata Dinda.
"Ibu yang hebat,\* jawab dokter.
'*Dia memang sangat hebat Dok*,' batin Adit.
'*Tak akan terganti dengan perempuan mana pun*.'
'*Bu Dinda memang super Dokter*,'batin bik Asih.
"Tapi minggu depan saya sudah mulai kerja. Walau belum full, bisa sih saya atur-atur waktu, enaknya gimana ya Dokter?"
"Kerja aja, dibawa enjoy jangan sampai pikiran terbeban karena akan mengganggu produksi ASI. Yang penting ASI nya cukup." Jelas dokter.
"ASI cukup Dokter," Dinda memastikan supply ASI nya melimpah ruah.
"Jadi enggak ada kendala kalau bisa banyak ASIP yang ready Bu."
"Tak perlu ditambah sufor lah kalau memang ASIP-nya banyak," dokter kembali memberi support bagi Dinda yang sejak kemarin galau ingin mulai masuk kerja tapi takut anak-anaknya terlantar.
"Insya Allah cukup, yang penting Ibu genjot nutrisi ibu. Jangan asal makan kenyang tapi juga harus diperhatikan gizinya."
"Saya juga selalu tekankan itu," kata Adit.
"Galakkan dia Dok," lapor Dinda. Memang Adit selalu mengharuskan Dinda makan protein tinggi entah itu ikan, sumsum tulang, keju, yogurt dan sebagainya selain tentu saja yang Dinda mau yaitu tiap hari harus ada salad sebagai konsumsi serat bagi tubuhnya. Dinda tidak mau pencernaannya terganggu.
"Jadi nggak masalah ya Dok?"
"Ya nggak ada kendala."
__ADS_1
"Untuk minum susu anak-anak, saya berikan tiap mereka laper Dok. Saya kasih kapan saja mereka mau, enggak saya jadwalkan."
"Enggak perlu pakai jam lebih-lebih anak laki-laki. Mereka lapar kasih aja," kata ibu dokter cantik itu.
"Baik Dok. Mereka sekarang sudah mau masuk 5 bulan, bulan depan mereka sudah mulai MPASI."
"Kalau sudah MPASI malah tak perlu sufor sama sekali, jadi tenang saja," dokter tersenyum melihat Ghifari yang mau meraih stetoskop miliknya.
"Terima kasih Dokter, saya jadi enggak ragu masuk kerja lagi soalnya asistennya udah ngotot minta diajarin," Adit tersenyum mendengar joke dari Dinda, karena asisten yang dimaksud Dinda adalah dirinya.
\*\*\*
Pagi ini Adit dan Dinda membawa mbok Asih sebagai asisten untuk membantu menjaga salah satu bayi saat di mobil.
Begitu turun Adit dan Dinda menggendong satu-satu. Keduanya tak mau pakai stroller untuk bawa dua baby-nya.
Mbok Asih yang bawa stroller sikembar mereka menggendong bayinya masing-masing.
"Wah pintar ya dede sama mamas enggak rewel waktu diimunisasi," goda bu dokter.
"Nanti malam panas enggak Dok?" tanya Dinda.
"Biasanya panas dan mereka rewel?" Tanya dokter.
"Enggak juga sih, nggak pasti panas. Tapi mereka pasti rewel," Adit yang menjawab. Mereka berdua memang tahu semua hal tentang bayi-bayi kesayangan mereka itu.
"Wajar kalau rewel. Obat sudah saya kasih mencegah panas. Jadi tenang aja papa mamanya," jawab bu Dokter sambil menuliskan resep.
"Masalahnya besok mereka mau aqiqah," jelas Dinda.
"Enggak apa apa lah Yank, aqiqahan juga nggak harus bayinya tampil terus kan?" Hibur Adit.
"Iya Yah," jawab Dinda sambil menggendong Ghibran.
"Paling cuma bikin foto aja sih, yang penting itu."
__ADS_1
Akhirnya mereka pun pulang dan sebelumnya pasti Adit mengajak semua ke apotik guna menembus obat dulu.
"Mbok ini kasihkan resepnya ke loket pemesanan obat. Nanti biar saya tinggal bayar di kasir," Adit memberikan resep pada mbok Asih.
"Bun, sini keduanya Ayah gendong dan bikinkan foto depan ruang bayi. Dulu lupa bikin foto disana," pinta Adit.
Saat yang digendong Adit Ghibran dan Dinda menggendong Ghifari.
\*\*\*
"Tak ada yang mau dibeli lagi?" tanya Adit.
"Enggak lah Yah, kalau udah bawa babies, kita nggak usah pamer di jalanan. Kita langsung pulang aku nggak mau anak-anak capek," tolak Dinda.
"Belum waktunya kita show up mereka. Biar mereka nyaman dulu," Ghifari yang berada di gendongan Dinda mulai berceloteh mam mam mam.
"Nah, dia sudah mulai minta mimik kan dia Yah. Begitu mau dibawa keluar."
"Kalau mereka sudah mulai ngerti dan mulai terbiasa di luar kita bawa mereka jalan-jalan. Aku ngerti kok maunya Ayah biar dilihat kan kalau Ayah tuh punya anak kembar," goda Dinda.
"Iya Ayah suka. Ayah mau memperlihatkan Ayah punya anak." Jawab Adit sambil tersenyum manis, ketahuan deh maksudnya pamer anak oleh Dinda.
"Kenapa? Yang dulu enggak bisa pamer anak? Takut ketahuan aku trus aku marah ya?"
"Please nggak usah ngomongin itu ya?" Pinta Adit penuh sesal.
"Bunda kan boleh tanya," jawab Dinda.
"Boro-boro pamer dia kan enggak mau kelihatan orang kalau sudah punya anak. Dia sama sekali nggak bangga punya anak. Enggak ada yang boleh lihat dia punya anak."
"Bukan karena Ayah takutkan orang lihat lalu lapor kamu, enggak! Tapi dia yang nggak mau. Dia malu punya anak."
'*Shalimah memang enggak bangga punya anak, beda dengan bu Dinda. Shalimah boro-boro mau ngurusin anak 100% seperti mbak Dinda. Ganti diapers dan kasih sussu formula aja nyuruh orang*,' kata mbok Asih dalam hatinya.
Dinda mengerti kekecewaan Adit tak bisa memperlihatkan kebanggaan menjadi ayah seperti dia sekarang.
__ADS_1
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING