REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
TERLEPAS DARI JEBAKAN


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.



"Kalau soal bandarnya gimana Pak?  Apa bandarnya adalah Steven?" Adit masih penasaran siapa bandarnya Mukhtar. Sebenaranya lebih mengarah penasaran karena Steven berhasil bebaskan Shalimah sebelum disidang.



"Bukan Pak, jauh dari bayangan kita. Jalurnya nggak berhubungan dengan Steven.  Bandarnya beda jalur."



"Jadi dia nggak ada hubungan dengan Shalimah?" 



"Untuk kasus ini nggak ada hubungannya dengan Shalimah Pak," jawab sang pengacara.



"Oke terima kasih," Adit segera menuju ruang papanya yang sudah berangkat lebih dulu. Dia malah tak mampir ke ruangannya dulu.



"Kenapa Dit? Kamu baru datang?"



"Iya Pa, aku baru datang. Rasanya pengen bawa si kembar ke kantor karena enggak pengen lama pisah ama mereka."



"Aku mau laporan soal tante Tasih Pa."



"Kenapa dengan dia?"



"Bik Siti berhasil ngorek keterangan. Bik Siti pura-pura enggak kenal mbok Marni dan bilang belum bisa percaya sama mbok Marni. Jadi meluncur deh cerita tante Tasih."



Adit memperlihatkan rekaman CCTV pagi ini dari ponselnya. Ponsel Eddy memang sengaja tak disambungkan dengan CCTV rumah.



"Kenapa dia nyalahin kamu?"



"Itu juga yang aku dan Dinda pikir Pa. Apa karena dia dulu naksir kakak iparnya sehingga merasa Irwan itu belahan jiwa dia juga?" Adit juga bingung.



"Ha ha ha, bisa juga, bentuk simpati berlebihan sama cintanya yang enggak kesampaian. Jadi dia bencinya setengah mati sama kamu," jawab Eddy.



"Terus pertanyaan kita soal apa hubungan dia sama Mukhtar juga sudah ada jawabannya tadi dari pengacara Mukhtar. Adit lalu menceritakan apa yang pengacaranya beritahu tadi.



"Jadi dia dapat info soal kehamilan Adinda dari Muchtar dan targetnya memang membunuh aku Pa. Tapi begitu tahu Dinda hamil dia ingin melukai dua sekaligus," ujar Adit.



Adit pun bercerita tentang bandarnya Mukhtar yang tak ada hubungannya dengan Shalimah.


\*\*\*

__ADS_1



"Silakan Pak Adit diminum," rekanan Adit menawarkan minuman yang terhidang.



"Oh iya terima kasih,"  jawab Adit ramah.



Untuk berjaga-jaga juga untuk memberi masukan rapat kali ini Adit membawa Shindu sebagai teman meeting.



Selain itu sebelum berangkat tadi Adit minta di kawal oleh bodyguardnya Eddy.



Sejak rujuk dengan Adinda Adit tak mau kesalahan. Shindu adalah orang kepercayaan Eddy dan Dinda. 



"Hati-hati Pa," bisik Shindu.



"Saya tahu dan sudah kirim pesan pada pengawal papa nemui manager minta rekaman CCTV juga menindak waitress yang mau bekerja sama dengan dia," jawab Adit juga berbisik.



Kebetulan minuman Adit dan sekretarisnya rekanan sama.



"Pak Shindu itu kenapa ya di depan kok agak rame?" Adit menunjuk pintu depan Resto. Otomatis semua menoleh arah yang ditunjuk Adit.




"Mana sih Pak? Enggak ada apa-apa kok?" Jawab Shindu sambil berdiri menguatkan dia beneran mencari apa yang ditanya Adit.



"Tadi saya rasa di parkiran rame, maka saya penasaran." Jawab Adit santai melihat Shindu sudah berhasil menukar minuman miliknya.



"Kalau di parkiran saya nggak lihat malah Pak, kirain didalam sini,"  jawab Shindu.



Adit langsung mengambil minuman yang sudah ditukar Shindu dan dia minum separuh.



"Loh kok saya minum sendiri? Ayo dong yang lain minum habisin," kata Adit menantang semua untuk minum. Rekanan dan sekretarisnya pun ikut minum bersama Shindu.



"Pak Adit, bagaimana kalau kita ngobrol private?"



"Wah maaf Bu Lianee, saya tidak bisa kalau mau private. Silakan bicara di depan pak Shindu karena biar bagaimana pun ini urusan perusahaan," jawab Adit tegas.



"Ini bukan urusan perusahaan,  bukan Pak. Kita bicara bukan masalah pekerjaan."


__ADS_1


"Lalu masalah apa? Saya tidak bisa berhubungan private Bu. Saya punya anak dan punya istri. Tidak ada urusan privat dalam hubungan bisnis kita."



"Kalau anda punya istri lalu kenapa? Kalau Bapak punya istri apa nggak boleh berhubungan dengan lawan jenis? Istri kan di rumah Pak. Kita hanya ngobrol aja berdua koq," tanpa malu rekanan mengajak pembicaraan menjurus selingkuh.



Adit tentu tak mau. Sejak dulu banyak rekanan seperti ini dan dia selalu bisa menangani.



Sejak pacaran dan menikah dengan Dinda Adit setia. Dia hanya berhubungan dengan Shalimah karena terikat ada anak.



"Maaf Bu, saya enggak bisa. Kita bicara masalah pekerjaan saja. Kalau hubungan personal itu bukan urusan saya, mungkin pak Shindu bisa silakan.  Tapi saya tidak."



"Maaf, saya tidak bisa," kata Shindu juga tegas menolak.



"Semua persoalan kita bahas di sini saja Bu." kata Shindu lagi.



"Tapi saya ingin bicara dengan pak Adit berdua," desak sang rekanan.



"Maaf kalau untuk itu sampai sini aja kerjasama kita. Saya dan perusahaan saya tak mau berhubungan bisnis dengan orang yang ingin hubungan personal karena itu sudah tidak fair," kata Adit sambil bersiap meninggalkan ruangan itu.



Saat rekanan masih menahan Adit, dia menunggu reaksi obat yang telah diminum Adit.



Tanpa terduga sekretaris rekanan mulai berubah pucat dan berkeringat dingin.



"Anda kenapa koq bercucuran keringat seperti kena obat perangsang?" tanya Shindu yang juga mulai bersiap meninggalkan cafe.



Sekretaris Lianee bingung, tentu saja dia kaget, dia tahu soal obat perangsang.



"Apa mungkin ada yang menaruh obat perangsang di minumannya Pak Adit sehingga anda yang terkena dampaknya?" kata Shindu.



Rekanan kaget melihat sekretarisnya seperti itu.



"Mohon maaf kerjasama kita batal dan saya akan sebarkan niat busuk ibu untuk menjebak saya. Buktinya sudah ada dan rekaman CCTV ini sudah saya minta."



"Sejak ibu menyuruh menaruh obat di minuman saya. Akan saya sebarkan kepada semua rekanan."



"Terima kasih selamat siang," Adit langsung pergi diiringi Shindu.


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIED

__ADS_1



__ADS_2