REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
KEKAGUMAN ASHRAF


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




"Bu nanti jam 10.00 Pak Abdullah akan memberikan laporan,"  kata Shindu pada Adinda.



"Oke saya akan terima jam 10.00," jawab Dinda. Dia masih sibuk dengan data Bengkulu yang baru diserahkan team penggantinya Radite.



"Baik Bu,"  jawab Shindu.



Shindu memang resminya adalah sekretarisnya Eddy,  tapi dia juga merangkap sekretarisnya Adinda karena Adinda tidak mau punya sekretaris baik perempuan mau pun laki-laki.



Adinda tidak suka dengan sekretaris perempuan yang di matanya nggak ada guna.



Dua kali dia punya sekretaris,  kinerjanya jauh dibawah standart yang ditetapkan oleh Adinda.



Secekatan apa pun kalau soal kerja memang sulit memenuhi kemauan Adinda.  Sedangkan seharusnya sekretaris itu harus lebih cepat tanggap dari bosnya. 



Kita bisa lihat lah pada saat satu kata dari Ashraf aja sudah langsung panjang lebar dikupas Adinda,  gimana sekretaris bisa kerja kalau bosnya seperti itu.



Daripada banyak yang sakit hati, maka Adinda tidak mau dikasih sekretaris oleh Eddy. dia lebih menyukai Shindu yang cepat tanggap.


\*\*\*

__ADS_1



"Ini Bu revisi yang saya buat. Memang kemarin terjadi kesalahan. Itu tertukar yang ibu bilang kemahalan harusnya di yang ini," Adinda melihat revisi yang diajukan oleh Ashraf.



Dia lingkari semua poin yang sudah dia setuju itu cara ceklisnya Adinda.  Bukan dengan memberi tanda ✅  tapi diberi tanda lingkaran.



"Kamu baca poin 7 saya belum setuju dengan itu," kata Adinda pada Ashraf  dan Shindu yang memang mereka masing-masing pegang satu berkas yang sama.



"Pada poin 7 itu terlalu riskan. Jenis bahan yang kalian gunakan itu terlalu berat buat kondisi di lapangan seperti itu. Saya bukan arsitek ya. Background saya ekonomi, tapi saya tahu yang kamu ajukan itu terlalu berat buat lahan itu."



"Coba dipikir materi pengganti yang mutunya sama atau lebih baik, harganya sebanding tapi bobotnya jauh lebih ringan," papar Adinda.



'*Ya ampun bukan arsitek aja tahu bahan kayak gini dan aku memang terlalu bodoh tidak memperhatikan jenis bahan yang aku gunakan*,' kata Ashraf.




"Baik Bu, saya sudah catat semua yang Ibu katakan sejak tadi," kata Shindu.



"Dan untuk poin 9 saya minta waktunya yang tepat ya sesuai dengan yang tertulis di situ. Jadi kalau anda minta bilang 3 hari ya 3 hari itu tidak ada dispensasi waktu dari saya. Begitu saya ACC perhitungan dimulai." Adinda paling tak mau toleransi atas keterlambatan



"Baik bu saya mengerti," kata Ashraf. 



Ashraf sudah memperhitungkan waktu dengan penambahan waktu dua minggu karena Ashraf sudah mendengar bagaimana Adinda yang tidak mau sesuatu itu mundur satu jam pun.


__ADS_1


"Oke untuk yang lainnya saya sudah setuju. Sampai tahap ini saya kasih waktu anda dua jam untuk merevisi poin nomor 7 tadi."



"Kalau anda  tidak bisa, batalkan proyek ini saya akan cari referensi yang lebih baik."



Maka Ashraf pun minta izin keluar dan bekerja di lobby kantor.



"Wah bos kita itu memang hebat dan super teliti ya pak Shindu," kata Ashraf saat keluar dari ruangannya Adinda.



"Sampai saat ini belum ada yang bisa tandingin dia dalam hal apa pun," kata Shindu.



"Dia jeli sekali terhadap semua perhitungan. Bahkan proyeknya Pak Radite pun diacak-acak sama dia."



"Siapa itu Pak Radite?" Tanya Ashraf penasaran.



"Suaminya," jawab Shindu.



"Oh dia sudah bersuami?"



"Dia itu menantunya Pak Eddy. Jadi kalau Pak Radite mengajukan proyek itu dia akan teliti sampai detail."



Radite melihat ada tamu di lobby kantor yang ditemani Shindu. Wajah tampan dan terlihat pintar.


__ADS_1


'*Siapa dia? Apa ada urusan dengan istriku*?' Entah mengapa sejak bercerai dengan Adinda, Radite malah jadi lebih cemburuan pada mantan istrinya. Apa karena dia sudah tak punya Shalimah? 


__ADS_2