REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
WC UMUM BUKAN PIALA BERGILIR


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


"Mereka enggak rewel Din?" Tanya Eddy saat makan malam. Dari meja makan mereka melihat aktivitas dua pangeran yang masih putar balik di kasur yang di gelar di lantai ruang tengah.



"Alhamdulillah mereka enggak rewel Pa. ASIP cukup. Itu membuat mereka nyaman. Para mbok juga merawat dengan cinta. Bukan hanya karena merasa wajib menjaga."



"Bayi bisa tahu dirawat dengan cinta atau hanya sekedar kewajiban jaga." Dinda mengambilkan nasi dan lauk buat papa mertuanya.



"Mas segini?" Tanya Dinda pada Adit.



"Tambah dikit deh," pinta Adit.



"Makasih sayank" Adit tersenyum manis menerima piring dari istrinya.



Sejak hidup bersama dengan Shalimah tak pernah hal seperti itu dia terima dari perempuan itu.



'*Mengapa aku bisa terjebak*?'



"Ini pesananku kan?"



"Ya lihat aja," jawab Adit.



Shalimah membuka kemasan yang mereka pesan lalu langsung makan dari kemasan tanpa merasa perlu memindahkan ke piring rumah. Alasannya bikin nambah cucian piring. Padahal yang mencuci piring juga bukan dia.

__ADS_1



Shalimah juga tak membukakan kemasan buat Adit lebih dulu sebelum dirinya makan. Tak ada penghormatan buat sosok suami sebagai imam keluarga.



"Besok jadi rapat kan Din?" Suara Eddy menyadarkan Adit dari lamunan akan kebodohannya.



"Jadi Pa. Jam 10 ya Pa. Biar jam makan siang rapat sudah selesai lalu aku kerja sebentar dan kembali pulang," jawab Dinda.



"Ya, Papa akan datang tepat waktu daripada kena tegur ibu jenderal," goda Eddy.



"Kalau di kantor enggak ada ibu jendral Pa. Adanya MACAN KANTOR," Adit pun ikut menggoda istrinya.


\*\*\*




"Yank, Mas mau bicara," Adit tak mau menunda. Dia tak mau Dinda salah paham.



"Kenapa Mas? Koq kayaknya tegang gitu?" Dinda sedang memompa ASI-nya.



"Soal perempuan tadi. Mas serius enggak punya masa lalu dengan dia. Mas enggak ingat kami pernah berteman. Apalagi akrab melebihi pacaran." Jelas Adit jujur.



"Mas berani di cross check siapa aja teman perempuan sejak SMA hingga lulus kuliah."



"Kalau emang dia bukan siapa-siapa ya enggak usah dipikirin Mas," jawab Dinda santai. Dia mencuci alat pompa ASI agar tak ada sisa susuu basi yang bisa membuat penyakit bagi kedua putranya.

__ADS_1



"Mas pernah nakal Yank. Saat SMA ada dua perempuan yang pernah tidur dengan Mas. Tapi mereka bukan pacar," dengan tersendat Adit mengakui kenakalannya.



"Mas hanya mengikuti teman-teman untuk ikut merasakan apa itu sexx. Tak ada cinta. Jadi kalau suatu saat ada yang ngaku pernah tidur, ya hanya dua nama itu. Kejadiannya saat Mas SMA."



"Mas enggak pernah pacaran selain denganmu."



"Dengan Shalimah kamu tahu Mas juga tak pernah merasakan cinta. Mas terikat karena Bram. Mobil Mas beli karena dia bilang kasihan Bram harus kepanasan pindah taksi bila bepergian."



"Rumah Mas belikan buat Bram, karena Shalimah bilang kasihan Bram kalau nanti bermain di rumah kontrakan kecil."



'*Pantas buat aqiqah baby twins dia menyiapkan semuanya. Dia memang sangat cinta pada anak-anak. Shalimah rupanya tahu kelemahan lelaki ini sehingga bisa menjadikannya budaknya dengan alasan anak*.' Dinda bersyukur Adit bercerita soal dua perempuan itu. Dia pasti akan marah besar bila perempuan itu muncul dan berkata fakta kisah masa lalu yang diberi bumbu.



"Ya sudah Mas enggak usah dipikirin. Kalau memang mereka timbul di permukaan, Mas bisa katakan saja semuanya. Apa mereka enggak malu kalau Mas bilang mereka piala bergilir?"



"Sepertinya sebutan PIALA bergilir terlalu tinggi buat mereka, lebih tepat WC umum mungkin? Tempat buang sampah uji coba?"



"Piala kesannya mereka sesuatu yang tinggi, yang hebat. Padahal mereka kan sampah," jawab Dinda santai. Suatu reaksi di luar ekspektasi Adit.



Adit plong sudah bicara jujur soal masa lalunya.


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER


__ADS_1


__ADS_2