REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
DIA SANGAT BAIK


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.



"Mas dapat dari mana mbok ini?"



"Namanya mbok  Asih. Kamu jangan marah ya Yank, mbok Asih ini dulu yang jaga Bram."



"Selama ini dia sangat baik mengurus bayi. Ketika Mas mau keluar dari rumah, Mas kasih tahu dia, kalau selama ini Mas ditipu Shalimah."



"Ternyata selama ini mbok Asih bertahan karena kasihan sama Bram dan Mas. Begitu Mas keluar dia juga keluar."



"Kemarin begitu dipanggil dia mau kerja dengan kita," jelas Adit tak ada yang disembunyikan.



"Alhamdulillah ya Mas ada orang baik seperti dia yang mau bantu kita."



Asih tak percaya,  bagaimana mungkin Dinda yang belum pernah ketemu, belum pernah tahu dia bisa bilang Asih adalah orang baik? Padahal secara logika Asih pernah membantu Shalimah yang telah melukai Dinda.



'*Ternyata memang Dinda sangat baik*.'



"Mbok Asih sudah biasa membuatkan susuu sejak Baram baru lahir." 



"Bram enggak ASI? Kan ibunya enggak kerja?" Dinda tak percaya ada ibu yang menyia-nyiakan anugerah yang Allah berikan bagi seorang perempuan sehat.



"Shalimah enggak pernah pegang bayi sama sekali. Ganti diapers nggak pernah.  Bikin suusu nggak pernah. Enggak mau kasih ASI." Jawab Adit.



"Shalimah mana mau kasih ASI, dia takut badannya rusak."



"Aku boleh kasih ASI nggak Mas?" Dinda malah sangat ingin memberi ASI untuk kedua bayinya.



"Besok kita tanya ya sama dokter. Kamu habis dikasih obat-obatan yang beresiko tinggi terhadap bayi.  Jadi kita tanya dulu sama dokter apa kamu boleh kasih ASI."



"Aku pengen kasih ASI Mas. Kasihan anak-anak kalau nggak dikasih ASI aku." Rengek Dinda.



"Mas tahu itu, Mas bahkan sudah bilang pada papa dan simbok,  kamu pasti mau kasih ASI."



"Tapi kita kan enggak tahu efek dari obat-obat yang sangat keras itu bahaya buat anak-anak enggak."



"Nanti kita tanya dulu dokter neonatus dan dokter penyakit dalamnya. Berapa lama lagi obat itu bereaksi di tubuhmu."



"Setelah dapat jawaban pasti dari dokter baru kita rangsang ASI kamu."


__ADS_1


"Sudah hampir satu bulan sejak kelahiran apa bisa tetap keluar atau tidak kan kita juga enggak tahu."



"Tapi kita upayakan aku bisa kasih iya Mas," terus saja Dinda merengek. Kalau soal itu dia pasti ingin yang terbaik bagi putra-putranya.



"Kamu tahu Mas pasti usaha. Aku tahu kamu pasti tak ingin tidak memberikan yang terbaik buat anak-anak kita."


\*\*\*



"*Itu Bram menangis, haus mungkin*," kata Adit saat pertama kali dia datang melihat bayi yang baru dilahirkan Shalimah.



"*Ya kasih aja susuu botol*." Shalimah langsung teriak memanggil mbok Asih untuk membuat susuu.



"*Kenapa dikasih susuu formula? Kenapa bukan kamu kasih ASI*?"



"*Ih, ya payudaraku langsung kendor kalau ngasih ASI. Ribet banget sih. Susuu formula aja cukup koq*." Adit ingat begitu tanggapan Shalimah yang sehat. Dia malah tak mau ngasih ASI. 



Berbanding terbalik dengan Dinda saat ini. Belum tentu bisa kasih ASI malah maksa ingin memberi ASI.


\*\*\*



"Kamu mau makan atau minum? Kamu pasti lapar." Adit mencoba menawarkan Dinda sesuatu untuk isi perutnya.



"Ada apa Mas?" tanya Dinda.




"Mau roti? Ada roti tapi ada snack juga. Atau mau buah?"



"Roti aja Mas."



"Mas bikinkan teh hangat sebentar ya," lalu Radit mengambil roti isi setelah dia membuat teh hangat. Diberinya sedotan.



"Pelan Yank," kata Radit.



"Roti adanya isi ayam."



"Enggak apa apa."



"Apa selama ini anak-anak rewel Mas?" Adinda ingin tahu kebiasaan bayi mereka selama ini.



"Enggak baru hari ini Ade rewel. Biasanya yang suka rewel tuh Mamas."



"Mamas tuh memang badannya lebih besar, karena dia lahir lebih dulu. Dia lebih ke arah sensitif. Dia juga yang bikin kamu bergerak minggu lalu."

__ADS_1



"Mamas enggak senang ditidurin tengkurap dibadanmu seperti Ade tadi.  Karena itu baru pertama kalinya kan. Jadi dia rewel."



"Kalau Ade saat disuruh tengkurap gitu Ade itu malah ngemut-ngemut pipi kamu." 



Adinda tertawa mendengar putra nya mengemut pipinya.



"Beneran Mas?"



"Iya dia ngemutin pipi kamu. Mungkin dia cari pu-ting, kan dikira mau dikasih ASI." Dinda makin terkekeh.



"Pas Mamas dia awalnya nangis. Berhenti nangis karena tangannya megang hidungmu. Dia mainin hidung kamu, dia pencet-pencet hidungmu."



"Beneran Mas?" Dinda makin takjub mendengar cerita tentang anak-anaknya.



"Beneran lah masa Mas bohong. Cuma kan saat itu Mas nggak bisa berpikir untuk bikin videonya. Ada papa kok waktu itu."



"Lucu ya mereka."



"Kalau pagi sehabis diberi sussu, mereka di jemur disitu di jendela, karena kan kita nggak bawa keluar Yank." 



"Mereka minum susunya kuat, sangat kuat."



"Iya katanya kalau bayi laki-laki lebih kuat ya." Dinda ingat artikel yang pernah dia baca.



"Mas juga baca-baca gitu tentang bayi laki-laki. Bagaimana perawatannya,  kalau habis mimik Mas langsung buang sendawa, buang gasnya."



"Mas pintar ya" puji Dinda.



"Karena waktu kemarin kan Mas sendirian, jadi Mas harus belajar lebih mendalam," jawab Adit.



"Bukannya Mas pernah pegang bayi waktu urus Bram."



"Waktu Bram kan Mas hanya sesekali saja datang, bukan ngurus sepanjang hari seperti  mamas dan ade."



"Maaf, mulai sekarang nggak usah bahas Bram ya?" kata Radite sambil  membelai rambut dari keningnya Dinda ke puncak kepalanya.



"Iya Mas," kata Dinda. Dinda tahu menye ut Bram sangat mengakitkan bagi Adit karena ingat dia pernah kena tipu dengan Bram sebagai umpannya.


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel keren karya teman yanktie yang bernama MinNami


dengan judul novel MENANTU UNTUK MERTUA ya

__ADS_1



__ADS_2