
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Apa papa sengaja kali ya undang aku suruh masak karena Papa juga pasti ngundang Mas Adit?" pikir Adinda.
"Bodo ah, aku tak peduli walau pasti tebakanku enggak salah. Pasti seperti itulah tapi nggak apa apa yang penting aku bukan masak buat mas Adit tapi buat Papa Eddy."
Adinda gak mau memikirkan lagi hal itu. Dia kembali menikmati hari Sabtu indah itu sendiri.
Di apartemen Adinda sendiri tidak masak sama sekali, dia hanya memanaskan semua yang ada aja di microwave sesuai yang dia butuhkan agar kulkasnya kosong dan akan dia ganti yang baru.
\*\*\*
Sehabis salat subuh Adinda langsung ke tempatnya Eddy. Dia sudah tahu menu yang akan dibuatnya pagi ini dan tadi dia lihat semua bahan telah tersedia.
"Bi tolong gorengkan kacangnya sebentar. Aku mau bikin sambelnya." Perintah adinda sambil merebus ayam dengan bumbu kari.
Lalu nanti dia akan goreng ayam tersebut agar bisa menjadi ayam suwir.
"Tolong bantu iris seledri dan cakwe ya Bik," pinta Adinda.
"Iya Mbak Dinda" jawba si bibik.
"Aku telat ya?" tanya Radite.
"Telat kenapa?"
"Aku pengen bantuin kamu masak," jawab Radite jujur.
"Aduh udah hampir matang semua baru kamu datang udah nggak ada yang mau dikerjain sih," jawab Adinda.
"Nyambel udah, potong cakwe udah, ayamnya udah disuwir, bumbu karinya udah. apa yang belum?"
"Yang belum tinggal dihidangkan dan makan aja tuh," kata Adinda.
"Wah aku kira kamu datangnya lebih siang jadi aku santai."
"Enggak apa-apa lah," jawab Adinda.
\*\*\*
"Ayo Pa kita sarapan," ajak Adinda pada Eddy di ruang tengah.
Adinda memegang lengan atasnya Eddy dan mengajaknya ke ruang makan.
"Pak ada tamu," saat menuju ruang makan, bibik bicara kalau ada yang mencari Eddy.
"Siapa Bik? Pagi-pagi kok bertamu," kata Eddy kesal.
"Seperti biasa, nyonya Lilis Pak," Bibik rupanya juga tak suka sang tamu.
"pada Ayah ganggu aja jawab Edin
__ADS_1
Lilis atau Listyawati adalah sepupu dari almarhum Ina istrinya Eddy. Sejak dulu memang Lilis sangat menyukai Eddy, bahkan sejak masih ada Ina.
Dulu Lilis juga punya suami tapi bercerai karena suaminya tak tahan atas kelakuan Lilis yang senang mengejar lelaki lain yang lebih kaya dari dirinya.
"Hallo Mas," kata Lilis tanpa disuruh masuk dia langsung masuk.
Pandangan sinis Lilis tujukan pada Adinda yang bergelayut di lengannya Eddy.
"Kamu ngapain gelendotan pada papa mertuamu. Enggak pantas banget," semprot Lilis pada Adinda.
"Radite kamu nggak bisa ya ngebimbing istrimu lebih sopan pada papamu. Kamu kok nggak cemburu sih istrimu seperti itu. Bisa aja kan mereka ada main."
Jangan salahkan emosi ibu hamil yang cepat mendidih Adinda langsung merasa terpantul emosinya.
"Kalau saya ada main dengan papa emangnya Tante mau urusan apa? Suami saya aja enggak cemburu, kenapa jadi Tante yang cemburu?"
"Memang Tante apanya Papa?" Adinda dengan emosi langsung menjawab tanpa memikirkan tata krama lagi.
"Sabar," bujuk Eddy sambil memegang punggung tangan Adinda yang bergelayut di lengannya.
"Ayo kita makan yuk," ajak Eddy pada Adinda dan Radite.
"Bener kata istriku. Aku aja nggak marah istriku sayang pada papa kenapa Tante yang cemburu memang tante apanya? Tante ini gundiknya papa bukan, kekasihnya papa juga bukan, istrinya pasti bukan, apa pantas Tante cemburu sama istriku?"
"Tapi kelakuan istrimu tak pantas seperti itu." Balas Lilis yanpa malu.
"Lebih nggak pantas kan pagi-pagi datang ke rumah orang? Apa enggak punya duit buat sarapan sampai mau numpang sarapan di rumah ini?" kata Radite, lalu dia pun meninggalkan Lilis yang tak bisa berkata apa-apa lagi.
\*\*\*
"Kebetulan di rumah ada bahan itu, jadi semalam aku bikin aja iseng" jawab Adinda.
Memang tadi malam Adinda membuat sate usus dan sate rempela ayam untuk teman makan bubur ayam pagi ini.
"Ayo Pa, kali ini aku enggak bikin gorengan emping ya. Gorengannya aku bikin krupuk biasa yang seperti di tukang bubur aja. Karena kalau emping kolesterolnya tinggi."
'Adinda mencintai papa dengan sangat perhatian pada kesehatan papa. Shalimah yang diangkat dan diasuh serta dibiayai oleh Papa sejak umur dua tahun aja nggak pernah peduli pada Papa.'
'Shalimah bahkan sengaja pindah kost keluar dari rumah papa yang segini gede cuma biar bisa hidup bebas, tidak ketahuan kalau dia jual diri. Tidak ketahuan kalau dia tiap malam keluar bersama banyak lelaki.'
'Aku teramat bodoh!' kembali Radit mengingat kesalahannya di masa lalu.
"Papa mau pakai apa lagi?" Adinda dia sudah meracik bubur ayam sesuai dengan kesukaannya Eddy yaitu banyak cakwe dan banyak sambal kacangnya.
"Sambalnya sengaja aku bikin nggak pedes Pa. Karena Papa suka banyak sambel." Ujar Adinda dengan penuh perhatian.
"Oh kalau gitu sambelnya banyakin aja," kata Eddy.
"Pagi-pagi aku nggak bikin sambel pedas buat Mas Radit dan Papa jadi sampelnya aman buat kalian berdua," ujar Adinda. Jelas dia masih sangat memperhatikan Radite.
"Nanti kalau kurang Papa ambil lagi. Ayamnya juga ini udah siap semuanya."
__ADS_1
"Mas Radite bisa kan ambil sendiri aku kayaknya kejauhan deh ngambilin ke seberang situ. Tapi masih bisa sih, aku ambilin deh." Adinda ingin mengambilkan Adit bubur ayam.
"Enggak usah aku ambil sendiri aja," kata Radite.
"Nanti kalau kamu ambilin porsinya sedikit. Padahal aku kepengen makan banyak," Eddy tertawa mendengar seloroh dari Radite.
"Iya kamu harus makan banyak Dit, kemarin kamu nggak sarapan gara-gara nggak ada masakannya Dinda."
"Papa jangan buka rahasia gitu deh Pa," kata Adit.
"Padahal bilang aja, nanti aku kirimkan masakan." Balas Adinda.
"Loh Tante masih di sini. Mau ikut numpang makan?" Sekarang giliran Adinda yang sinis.
"Silakan aja kalau doyan masakanku karena setiap pagi aku yang masak."
"Aku berumah tangga dan bekerja dan bukan perempuan yang mejeng di jalanan, tapi aku selalu masak buat suami dan mertuaku," kata Adinda dengan sinis.
Adinda tahu tante Lilis tidak pernah ngurusin suaminya apalagi masak.
"Kalau mau kapan-kapan kita bisa masak bareng Tante." Ajak Adinda.
"Saya kok nggak yakin kalau Tante bawa masakan lalu bilang itu masakan Tante."
"Jadi kalau mau memang kita masak bareng masak bersama Aku pengen tahu masakan Tante seperti apa," Adinda menantang Lilis dan membuat Lilis semakin tak suka.
"Bener tuh Dind. Bener banget malah. Perempuan yang cuma bisa dandan doang apa jadinya kalau nggak punya uang buat perawatan?"
"Kelihatan modalnya, badan berkerut nggak glowing dan bau," kata Eddy.
"Kalau masih bisa jualan biasanya bisa Pa punya duit," ujar Radite.
"Kamu kurang ajar ya. Kamu pikir saya jualan?"
"Lalu tante hidup dari mana? Enggak punya suami, nggak kerja bisa makan aja udah untung kan."
"Kalian memang paling kurang ajar."
"Lalu kenapa kamu ke sini ke rumah orang yang semuanya kurang ajar. Enggak bosen kamu ke rumah saya hampir tiap pagi?" jawab Eddy.
"Hampir tiap pagi Pa?" Tanya Radite dan Adinda hampir bersamaa.
"Ya ampun nggak malu ya?" kata Adinda makin sinis.
"Wooow, bener-bener atur jadwal ya tante. Setiap pagi mau makan di mana, lalu makan siangnya dan makan malamnya numpang di mana. Hebat ya Pa parasit ini," jawab Radite lagi.
Lilis keluar sambil menghentakan kakinya. Dia tak menyangka hari ini anak dan menantu Eddy datang mengunjungi lelaki yang sedang dia incar untuk bisa mendapatkan hartanya.
"Udah kita konsen makan aja nggak usah mikirin lalat yang cari makanan dengan menghinggapi makanan orang lain," kata Adinda.
Eddy dan Radite langsung konsentrasi makan bubur ayam bikinan Adinda.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER
__ADS_1