
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
Hari ini hasil rontgen tulang kering Dinda diperiksa oleh dokter yang menanganinya.
"Hasilnya sudah tidak mengkhawatirkan Bapak dan Ibu. Ini masih ada sedikit sekali yang belum sempurna tapi tidak mengkhawatirkan."
"Ibu sudah bisa jalan sesekali, tapi sebaiknya memang ditunda dulu. Ibu masih bisa menggunakan kursi roda biar aman aja sih. Terlebih kalau jalan Ibu menggendong itu nggak boleh sama sekali."
"Kaki nggak kuat buat dibawa menggendong atau membawa beban berat lainnya."
"Oke Dok," kata Dinda.
"Tidak apa apa sih satu atau dua langkah ke kamar mandi misalnya, atau kalau yang urgent tapi kalau buat aktivitas normal kita tunda ya sekitar satu bulan lah ibu di kursi roda."
"Hanya itu saja sih dan lusa Ibu saya izinkan pulang."
Dinda sangat senang karena lusa bisa kembali ke rumah.
Adit dan Dinda juga sekalian kontrol ke dokter kebidanan. Mereka sepakat langsung ikut KB karena ingin mengawasi si kembar dengan intensif sebelum harus memecah perhatian dengan adik-adik Ghifari dan Ghibran.
\*\*\*
"Oke Papa akan siapkan semuanya dirumah. Selama ini kamar kalian sudah Papa renov digabung dengan kamar sebelahnya," kata Eddy.
"Besok biar mbok Marni pulang lebih dulu saja, nggak usah datang ke rumah sakit biar menyiapkan semuanya bersama bibik Siti di rumah."
"Ya Pa, enggak apa-apa kalau besok dan lusa Mbok Marni nggak datang biar kami aja yang urus anak-anak. Kami berdua aja nggak apa-apa."
__ADS_1
"Biar mbok Asih juga ikut Pa, biarkan kami berempat menikmati hari-hari terakhir di rumah sakit." Adit langsung menghubungi Eddy saat mereka berdua sedang menebus obat dan vitamin dari dokter kandungan.
"Oke kalau gitu nanti sore Asih dan Marni suruh pulang aja, kalian berempat dua hari disana dijaga bodyguard."
"Oke Pa, terima kasih," Kata Adit pada Eddy.
\*\*\*
Dinda dan Adit menikmati kebersamaan dengan Ghifari dan Ghibran. Mereka berdua bahu membahu merawat putra-putra mereka di rumah sakit.
"Besok kalau saat pulang dari sini ada yang bantu kan buat beresin kamar ini?" Dinda sedih tak bisa leluasa beberes menjelang kepulangan mereka.
"Ajudan aja nggak usah bawa mbok Marni dan mbok Asih. Biar Mas yang atur dibantu mereka," Adit merasa mampu melakukan semuanya.
Saat itu Dinda sedang *pumping*, yaitu memompa ASI karena belum boleh diberikan pada si kembar. Tapi sekarang ASI-nya sudah lancar. Walau masih harus dibuang.
\*\*\*
"Iya Sus," balas Adinda sambil menerima tempat yang dipersiapkan oleh suster untuk menampung ASI-nya.
Adinda memompa sedikit ASI nya dan diberikan pada suster.
"Baik Ibu, semoga bisa segera mendapat hasil terbaik," kata suster lagi.
"Ya Sus, terima kasih."
\*\*\*
Kondisi Dinda hari ini dokter visite bilang semua kondisinya baik tinggal melihat hasil ASI-nya saja. Besok mereka sudah boleh pulang.
__ADS_1
"Makan yang banyak Yank," Radite menyiapkan makan siang yang dia beli sendiri demi keamanan.
Semua dia kerjakan sendiri. Kalau nyuruh ajudan juga belum berani karena belum ketangkap siapa dalang percobaan pembunuhan Dinda. Apa hanya Mukhtar atau ada sosok lain dibelakangnya?
"Iya Mas. Aku juga jadi cepat lapar," Dinda mengambil piring yang Adit siapkan. Porsi nasi tetap seperti saat Dinda belum hamil, Adit hanya menambah jumlah lauk saja.
"Mungkin karena ASI-nya dikeluarkan Yank," Adit berasumsi penyebab Dinda cepat lapar akhir-akhir ini.
"Terlebih kalau sudah diminum oleh Ghifari dan Ghibran, pasti tambah cepat lapar kali ya Mas?"
"Terasa banget kok laparnya. Saat hamil aja walau sering lapar enggak seperti ini."
"Mas bilangin sama Mbok Marni dong, aku ingin salad buah dan salad sayur tapi jangan dicampur bikinnya."
"Hari ini salad sayur besok salad buah, gitu ya Yank?"
"Iya Mas. Terus pakai smoke beef sama potongan keju yang banyak karena itu buat protein anak-anak nanti. Kejunya jangan diparut."
"Iya bener banyakin protein. Bisa pakai cream keju dan irisan telur ya Yank," Adit semangat menyiapkan makanan bergizi untuk istri dan anak-anaknya.
"Tapi jangan telur ayam diiris Mas. Kalau telur ayam dipotong-potong sering jadi berantakan saat diaduk. Pakai telur puyuh aja." Pinta Dinda sambil menyuap makanan.
"Oh oke aku akan bilang mbok Marni buat siapin itu semua."
\*\*\*
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel keren karya teman yanktie yang bernama MAULA YIWEI
dengan judul novel JADI GURU DEMI CALON ISTRI ya
__ADS_1