
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
"Ih Ibu bikin takut aja. Kalau Ibu benci den Adit dan ingin den Adit celaka hingga mati, sedang Ibu pengen jadi istrinya pak Eddy, gimana coba?"
"Ya sekarang enggaklah. Kan udah nggak jadi celaka," kata Tasih mengaburkan perkataannya tadi.
"Kenapa Ibu tiba-tiba pengen ke sini, sedang sudah lama enggak mau kesini karena benci den Adit." Bik Siti sudah selesai cuci piring. Sekarang dia meracik salad untuk Dinda.
"Saya dengar kata Lilis, Dinda celaka lalu tiba-tiba Dinda selamat. Jadi saya pengen lihat dia enggak jadi meninggal seperti harapan orang."
"Memang ada yang berharap non Dinda celaka? Bukannya itu kecelakaan biasa aja Bu? Kalau ada yang ngarepin non Dinda celaka, berarti itu kejahatan ya Bu? Berarti masuk ke percobaan pembunuhan seperti berita tipi ( televisi ) ya Bu?" Bik Asih merepet seperti angin keluar dari ban bocor.
"Enggak tahu saya soal itu," kata Tasih.
"Yang saya tahu Dinda kembali sehat. Jadi saya pengen lihat."
"Oh gitu. Ibu bencinya sama den Adit kenapa? Kalau sudah lama, berarti sejak den Adit kecil. Kayaknya dia sekarang kan sikapnya manis Bu. Pasti dari kecil dia nggak nakal."
"Mengapa den Adit bikin keponakan Ibu sampai menderita?"
"Keponakan saya merasa bersalah sama Adit jadi bikin dia menderita."
"Bagaimana kejadiannya Bu?"
"Kamu jangan cerita ke siapa-siapa ya. Marni juga tahu kok kejadian ini. Kejadian yang membuat saya benci Adit mendarah daging. Marni kan orang lama kamu jangan cerita ke dia."
__ADS_1
"Iya Bu, saya juga belum percaya sama Bu Marni atau Bu Asih. Saya kan orang baru Bu jadi belum tahu sifat mereka."
"Semua untuk pengetahuan saya biar saya bisa jaga-jaga kalau bicara dengan pegawai lama disini," Siti memancing Tasih.
Siti adalah keponakan jauh budenya Marni. Bagaimana dia baru kenal dengan Marni wong satu sekolah saat di kampung dulu. Rumah mereka juga berdekatan.
"Iya, belum tentu Marni juga baik. Bisa aja didepan kamu doang dia baik." Tasih setuju pendapat Siti.
"Kejadiannya Adit dan keponakan saya itu selalu main bareng. Lalu siang itu keponakan saya mendorong Adit sampai jatuh dan kepalanya bocor."
"Kak Ina dan mas Eddy enggak marah. Mereka cuma bawa Adit kerumah sakit. Adit dirawat satu hari atau dua hari saya kurang jelas."
"Keponakan saya juga nggak dimarahin sama Ina, mereka memang keluarga yang sangat baik."
"Memang keponakannya Ibu itu anaknya siapa?"
"Dia anak kakak pertama saya. Kakak pertama saya kan perempuan. Awalnya saya suka sama suaminya tapi suaminya galak. Suaminya marah kalau saya dekati, saya nggak berani."
"Akhirnya saya suka sama mas Eddy karena mas Eddy lembut ke siapa pun."
"Terus kenapa Bu ponakannya?" Pancing Siti.
"Keponakan saya itu kan demam. Kami mau bawa dia ke Puskesmas. Tapi dia nggak mau, dia takut sama dokter atau lebih tepatnya dia takit disuntik."
__ADS_1
"Akhirnya kami bujuk bawa ke dokter praktek. Saat dibawa ke dokter itu dia kabur. Dia lari lalu ketabrak mobil yang lewat depan rumah praktek dokter."
"Bukan salah mobil nya ya Bu?" kata Siti dengan tingkah pura-pura bloonnya.
"Benar, bukan salah mobil karena memang keponakan saya yang lari. Dia takut sama dokter."
"Oh gitu, terus keponakannya sekarang udah gede ya Bu? Seumur den Adit kan?"
"Keponakan saya langsung meninggal. Itu sebabnya saya benci sekali sama Adit."
"Akibat merasa bersalah sama Adit keponakan saya demam lalu meninggal."
"Kan bukan salah den Adit Bu?"
"Memang bukan salah Adit secara langsung. Tapi saya jadi benci banget karena saya kehilangan keponakan gara-gara Adit."
"Oh gitu Bu, untung Ibu nggak dendam ya Bu."
"Enggak lah. Saya nggak dendam," kata Tasih tersendat.
Adit dan Dinda yang menonton percakapan itu jelas tahu mengapa beralasan Tasih ingin membunuh Dinda agar Adit terluka hatinya.
Untuk penggemarnya mas Sonny dan caca Adelia di novel berjudul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE
baca sequel tentang Mukti, Vio dan Komang di cerita baru berjudul CINTA TANPA SPASI yaaaaa
__ADS_1