REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
G & G


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


"Adit bangun. Banguuun Dit, bangun." Adit merasa tubuhnya diguncang. Adit langsung tersadar dia merasa ada suara Eddy.



"Apa aku mimpi ya Papa menegurku," Adit langsung membuka matanya dilihat berjongkok mengguncang tubuhnya.



Sang papa ada dalam kamarnya.



"Kamu kenapa njerit-njerit?" Tanya Eddy melihat putranya bengong. Eddy melihat Adit tertidur di sajadah.



"Astaghfirullah, aku mimpi buruk Pa. Sangat buruk," Adit memeluk Eddy erat-erat.



"Aku nggak apa-apa Pa, aku cuma mimpi buruk." Jelas Adit.



"Makanya kalau sudah habis salat itu sajadah langsung dilipat, bukan malah buat alas tidur sajadahnya," Eddy menasihati putranya.



"Aku bukan niat tidur Pa. Aku nggak sadar ketiduran di sajadah Pa," kata Adit sambil melipat sarung dan sajadahnya. Dia simpan pecinya.



'*Alhamdulillah, tadi hanya mimpi. Aku enggak bisa bayangkan bila itu terjadi*,' batin Adit.



"Ayo kita makan. Dari tadi di ketok-ketok bu Marni kamu nggak buka pintu," kata Eddy.



Adit pun segera menaruh sarung dan sajadah yang sudah dia lipat di rak yang memang Dinda siapkan untuk meletakkan itu.



Adit berjalan bersisian dengan Eddy ke ruang makan.


\*\*\*



"Pak tadi siang ada kiriman," kata mbok Asih.



"Dari siapa Mbok?" Tanya Adit.



"Enggak tahu Mas. Tadi mbok tanya ke kurir, bilang enggak ada nama pengirim." Jawab Asih sambil menyerahkan amplop kotak coklat tebal ukuran ¼ folio. Bukan amplop panjang.



Saat bu Asih menyerahkan amplop tersebut Adit dan Eddy baru selesai makan malam.


__ADS_1


Eddy dan Adit melihat amplop cukup tebal. Tertulis :  *Kepada yang terhormat kakek Eudyanto Alkav*.



Nama pengirim adalah **G & G**.



Adit dan Eddy jadi bingung. 



"Isinya apa dan dari siapa ya?"



"Udah Pa, buka aja nggak usah pikir siapa yang kirim," kata Adit penasaran.



Eddy mengambil gunting kertas kecil dan pelan-pelan membuka amplop tersebut.



Adit dan Eddy hampir pingsan. Mereka tak percaya mendapat kiriman itu.



"Masya Allah," ucap Eddy dengan tetes air mata. Dia tak percaya ada kiriman seperti itu.



"Mereka Pa, mereka!" kata Adit dengan suara tersendat. Air matanya tentu lebih deras dari airmata Eddy.



Tangan Eddy gemetar dia tak percaya dengan kiriman itu.




Amplop itu berisi puluhan foto Ghifari dan Ghibran. Diambil dengan ponsel dan ada tanggal pengambilan.



Eddy dan Adit seperti menonton video karena foto-foto itu berurut. Di situ terlihat perkembangan baby twins sejak berusia 5 bulan yaitu sejak meninggalkan rumah sampai sekarang mereka sudah berdiri. Usia mereka sekarang hampir 10 bulan.



Karena pada foto tertulis tanggal sehingga bisa ketahuan kapan foto itu dibuat.



Ada foto saat mereka sedang imunisasi lalu ada foto saat dikompres. Mungkin karena panas akibat imunisasi karena foto saat di imunisasi dan foto saat dikompres pada hari yang sama.



Adit menangis, benar-benar menangis dia menyesal tidak bisa mengikuti perkembangan dua bayi itu secara live.



Ada foto saat mereka di stroller kembar bukan seperti yang punya di rumah jadi stroller satu isinya untuk dua bayi. Mungkin Dinda repot kalau harus bawa dua stroller.



Lalu ada foto saat mereka merangkak. Saat Ghibran mengemut hidungnya Ghifari. Ada saat foto Ghibran duduk lalu Ghifarinya tengkurap.

__ADS_1



Ada foto Ghifari menyuapi Ghibran biskuit bayi dan wajah keduanya cemong. Sangat menggemaskan.



Foto-foto terakhir terlihat bagaimana mereka sudah mulai berdiri tapi masih pegangan berarti belum berjalan.



"Bagaimana mungkin dia menjaga dua bayi itu tanpa ada yang menemani?" Tanya Adit. Dia tahu pasti Dinda akan kerepotan. 



"Pasti dia punya pembantu," kata Eddy.



"Papa kayak nggak tahu dia aja. Di rumah ini aja dia nggak pernah mau dibantu kok. Dia mau ngelepas anak-anak kalau pergi kerja. Kalau di rumah dia pasti sendirian ngurus anak-anak."



"Iya ya. Dia memang wanita hebat nggak ada tandingannya bahkan mamamu aja nggak bisa seperti itu. Kamu full dijaga pembantu, mama hanya mengawasi. Dia tidak setelaten Dinda," kata Eddy.



Puas melihat semua foto itu berulang-ulang Adit memanggil Bu Asih dan Bu Marni. Kedua pembantu itu pun sama dengan Adit dan Eddy,  mereka menangis terharu melihat foto-foto kedua momongan mereka.



Keduanya tak percaya melihat perkembangan baby twins.



Mereka tersenyum melihat foto saat baby twis makan kue dan wajahnya penuh remahan. 



"Mbak Dinda itu open ya.  Setiap moment dia bikin foto seperti ini," kata Marni.



Para mbok bicara tentang Dinda tanpa mengerti bahwa apa yang dibicarakan itu membuat hati Adit menangis.



Semua tentang Dinda bertolak belakang dengan Shalimah dan bodohnya dia pernah terperosok membuat Dinda sakit hati yang pertama dan sakit hati kedua adalah dari Merrydian.



"Alhamdulillah ya Pak Mbak Dinda masih mau kirim foto seperti ini buat Bapak," ucap mbok Marni. Dari nama yang dituju memperlihatkan Dinda mengirim foto itu buat kakeknya. Bukan buat ayah sikembar.



"Semoga mereka sehat, Mbak Dinda juga sehat," kata Asih.



"Alhamdulillah dia masih kasih lihat kita bagaimana sehatnya cucu-cucuku walau pun tanpa kata-kata apa pun.  Tidak ada kalimat apa pun yang dia tulis apalagi dia kirim."



"Iya sih Pak. Yang penting dia masih mengingat Bapak."



Adit memilih beberapa foto untuk dia repro,  diperbesar dan akan dia tempel di ruang ruang keluarga juga di kamar mereka.

__ADS_1


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN



__ADS_2