REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
DENDAM RADITE


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Radite mengamati surat keterangan test DNA dan surat hasil pemeriksaan kesuburannya.



'*Dunia serasa runtuh. Aku tak menyangka selama ini aku hanya buat mainan oleh Shalimah*!'



'*Aku tahu pertama kali kami making love memang dia sudah tak perawan. Tapi aku tak menggubrisnya saat itu. Aku pikir Shalimah juga tidak mendapat perjaka milikku karena dia bukan perempuan pertama*!'



'*Yang penting sejak itu aku rutin mendapat kepuasan biologis hampir setiap hari*!'



'*Saat dia mengaku bahwa sedang hamil ya aku langsung memutuskan hidup bersama dengannya tanpa nikah! Kami tak pernah menikah walau secara siri. Itu bukan hal penting untuk kami*.'



'*Begitu ada kesempatan aku bisa mark up sebuah proyek maka aku bisa membelikan dia rumah cukup besar. Bram lahir setelah kami hidup bersama lima bulan*.'



'*Bramantyo Setyo, nama yang aku berikan pada bayi merah yang aku kira darah dagingku. Dan aku serta Shalimah tak berpikir membuatkan dia akta kelahiran. Bahkan aqiqah saja tak kami lakukan*!'



'*Saat hamil dulu Shalimah tahu tak mungkin menikah resmi denganku karena terbentur dengan restu papa*.'



'*Selain itu dia juga tahu bahwa aku WAJIB menikahi Adinda agar aku bisa aman di mata papa. Karena papa tak akan memberi jabatan apa pun bila aku tak ada Adinda di sisiku*.'



'*Itu sebabnya Shalimah membiarkanku menikahi Adinda. Dia bahkan ikut terlibat sebagai among tamu dan tak ada sorot mata sedih*.'



'*Ternyata selama ini dia tak pernah mencintaiku, jadi dia tak peduli aku menikah dengan Dinda. Yang penting uang untuknya aman mengalir deras ke rekeningnya*!'



'*Aku baru sadar mengapa Adinda tak segera hamil padahal aku menggauli hampir tiap malam*!'



'*Making love dengan Dinda itu sangat berbeda dengan Shalimah yang memang sudah kendur sejak sebelum melahirkan*!'



'*Tak seperti Dinda, sejak menikah dengan aku Dinda masih segelan. Aku sulit menembusnya dan dia menangis saat malam pertama kami*.'



'*Dinda perempuan baik-baik dan hanya melakukannya dengan aku. Sebaliknya ternyata selama ini Shalimah tetap ngelayap ke mana-mana sehingga bisa hamil dengan laki-laki lain*.'



'*Sekarang aku harus pikirkan bagaimana aku keluar dari rumah itu dengan balik menikam Shalimah*!' 



Radite sadar dua surat itu  dari klinik yang kredibel. Tidak sembarang orang bisa minta ubah hasil walau dengan banyak dana sekali pun. Karena itu akan mempengaruhi nama besar klinik.



'*Tak mungkin papa menipuku dengan hal ini*.'



'*Aku harus menarik ganti rugi! Saat ini semua jerih payahku sejak pertama aku bekerja dimakan oleh Shalimah. Sampai sekarang aku harus menanggung beban untuk membayar semua yang dia sudah gunakan dengan tenagaku*.'



'*Semua itu buat memenuhi kebutuhan perempuan itu! Aku tak mau lagi lebih lama tersiksa. Aku akan ambil yang masih tersisa. Aku akan balas*!'



'*Aku akan buat dia minus. Paling tidak dia NOL BESAR, baru aku tinggal*.'

__ADS_1



'*Paling lama 2 hari aku harus sudah bisa meninggalkan dirinya*' tekad Radite.


\*\*\*\*



"Mas susunya Bram abis paling tinggal untuk malam ini aja," kata Shalimah tepat saat Radite baru pulang kerja.



Masih cape, bukan disambut senyuman setidaknya salim seperti yang selalu Adinda lakukan, ini malah laporan susuu anaknya habis. Bukan anak mereka. Tapi anaknya!



"Ya kamu beli lah," jawab Radit kesal. Boro-boro disambut dengan segelas teh hangat dan snack sore seperti yang biasa Adinda lakukan! 



Sayang semua tentang Adinda hanya kisah manis masa lalu.



"Mas tolong belikanlah," pinta Shalimah.



"Mana uangnya? Kamu tahu kan semua uangku yang di dompet sudah kamu ambil. Uang mana lagi yang harus aku pakai? Uang di dompetku hanya 50 ribu saja sebagai penunggu dompet dan buat berjaga-jaga bensin serta bila kena bocor ban." Sahut Radite.



"Dan semua kartu kredit ku sudah aku patahkan agar tidak bisa dipakai lagi.  Aku tinggal membayar hutang-hutang yang telah kamu sebabkan!"



"Pakai uang di ATM aja Mas, asal Mas yang pergi keluar." Pinta Shalimah. Perempuan itu malas terlihat kere naik motor second seperti yang dimiliki Radite sekarang.



"Oke sini ATM, biar aku sekalian cape," jawab Radit.



'*Kebetulan*!'




"Memang udah nggak ada cash?"



"Ada! Buat makan kita ada sih,  cuma Rp 200.000 buat makan kita dalam dua hari ini. Ambil dua juta lah Mas buat belanja susunya Bram lima dus besar. Sisanya buat persiapan kita."



"Kebanyakan. Satu juta aja biar nggak boros," usul Radite.



"Oke satu juta aja." Shalimah menyetujui usulan Radite.



Radite mengambil satu juta sesuai dengan kesepakatan dengan Shalimah lalu dia simpan struknya.



Radite memasukkan  kembali kartu ATM ke dalam dompet bersama struk pengambilan satu juta.



Lalu Radit pun belanja susu lima dus sesuai dengan permintaan Shalimah.



'*Bagaimana ya caranya aku membawa koper bajuku?  Tak akan aku sisakan barangku untuknya. Tak akan pernah*!'



 '*Aku juga harus mulai mengambil semua perhiasannya karena itu merupakan hutangku di kantor. Untung semua surat pembelian perhiasan aku yang pegang*.'



'*Sebelum beresin semuanya berarti aku harus nyiapin kost dulu, jadi nanti aku bisa kirim barangku ke sana*.'


__ADS_1


Radit langsung mengarahkan motornya untuk mencari kamar kost yang dekat kantor.



"Saya ambil ini Bu, ini saya bayar enam bulan dimuka ya," Radit memilih kamar di pojok yang kebetulan sudah kosong satu minggu dan sudah siap huni kembali.



"Kapan masuknya Mas?"



"Besok, paling lambat lusa Bu, yang penting saya sudah bayar jadi sudah jelas saya benar-benar serius." Jawab Radit lalu dia pun segera pamit.



"Oh oke," jawab Ibu pemilik kost.


\*\*\*



"Kok lama sih Mas?" Protes Shalimah.



"Ini kan awal bulan, banyak orang belanja bulanan jadi satu orang aja berapa item yang dia harus bayar," Radite memberikan alasan yang masuk akal.



"Iya sih. Aku udah lama banget nggak belanja bulanan." Keluh Shalimah.



"Kita keluar rumah aja belum satu bulan! Kamu bilang sudah lama banget enggak belanja bulanan? Kamu sadar enggak sih kamu makin enggak waras?" Sindir Readite.



"Mas kok kasar gitu sih?" Shalimah tentu tak suka kata-kata Radite.



"Ya kamu yang aneh. Jelas kita belum satu bulan pindah. Kamu udah ngeluh bilang sudah lama banget. Suami seperti apa yang enggak kesinggung dengan kata-katamu?" Jawab Radite keqi.



"Lagian kalau kondisi aman juga kita bisa belanja bulanan koq." 



"Kapan amannya," ejek Shalimah.



"Mungkin 3 ~ 5 hari lagi aku aman kok," jawab Radite dengan percaya diri.



"Kok tahu?"



"Pasti tahu lah." jawab Radite.



'*Karena hari itu aku akan meninggalkanmu pela-cur*!'



''Mas itu Bram kayaknya nangis," Shalimah meminta Radite mengurus Bram seperti biasa. 



"Aku capek banget. Pulang kantor kamu suruh beli sussu, kamu angkatlah. Aku mau mandi." Tolak Radite. Dia tak mau lagi mengurus anak yang selama ini dia sayangi sepenuh hati itu.



"Mas males banget sih," rajuk Shalimah.



"Enggak males lah aku capek. Aku mau mandi," Radite menaikkan satu oktav nada suaaranya.



"Ya udah nggak usah ngomel," Shalimah mendekati baby box dimana Bram di tidurkan.


__ADS_1


"Aku nggak ngomel, Aku bilang mau mandi," Radite langsung membawa baju ke kamar mandi dan dia bersiap mandi.


\*\*\*


__ADS_2