REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
SIAPA DI BELAKANG MUKHTAR?


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.



"Dit jejaknya Muchtar sudah terlacak tapi katanya sedang ditahan maksudnya lebih dipantau dulu belum akan ditangkap," bisik Eddy.



"Kenapa Pa?"



"Orang kepolisian bilang sedang ditunggu transaksi besarnya agar ketahuan siapa bosnya dia. Karena bila sekarang ditangkap biasanya orang seperti itu nggak mau ngasih tahu siapa bosnya atau dia akan memutus kontak agar tak bisa terlacak bos besarnya."



"Oh gitu Pa."



"Itulah mengapa Mukhtar diulur belum ditangkap. Kata orang kepolisian yang Papa mintai keterangan seperti itu," Eddy menjelaskan mengapa Mukhtar masih dibiarkan bebas berkeliaran.



"Baiklah Pa kita sabar saja sesuai dengan kondisi di lapangan."



"Iya terpaksa kita sabar. Padahal Papa pengen banget hancurin dia karena hampir bikin cucu-cucuku hilang. Kalau kehamilan Dinda enggak selamat dan Dinda juga meninggal bagaimana?" Eddy tentu sangat geram pada kelakuan Mukhtar terhadap Dinda.



"Apa bos besarnya itu ada hubungannya dengan Shalimah ya Pa?"



"Maksudmu?"



"Shalimah tentu sakit hati sama aku dan Papa yang sudah bikin dia dipenjara. Sedang Shalimah itu paling dekat dengan Mukhtar."



"Mukhtar itukan dekat banget sama Shalimah waktu di kantor, mungkin enggak dua orang sakit hati bekerja sama?"



"Lalu ditunjang dana sama teman lelakinya Shalimah," Radite memberi opini yang memang masuk akal bila digabungkan.



"Kamu tahu siapa namanya atau bagaimana orangnya? ciri-cirinya atau alamatnya malah?" Eddy jadi memikirkan kemungkinan itu.



"Nama dan alamatnya aku enggak tahu lah. Kalau wajahnya aku pernah tiga kali lihat dia. Saat aku datang lebih cepat, diluar kebiasaan."



"Lalu pernah lihat lagi di mall saat aku bersama Shalimah dan Bram. Anak itu seakan familiar dengan lelaki itu dan minta gendong tetapi Shalimah mengalihkan perhatian Bram." 



"Aku juga nggak tahu namanya, orangnya putih bule tapi sipit kayak keturunan tionghoa."



"Mukanya bulat, badannya enggak six pack tapi cenderung buncit," jelas Adit.



"Kalau begitu Papa coba kasih tahu penghubung kita di kepolisian, mungkin bisa ada info tambahan."


__ADS_1


"Semoga ada titik terang hubungan kasus ini dengan kedekatan Mukhtar dan Shalimah," ucap Eddy.



"Papa udah geregetan pengen segera mengeksekusi Muktar mengingat kelakuannya pada Dinda."



Dinda baru saja tidur karena sejak dia sadar tengah malam tadi dia belum tidur lagi.



Ghifari dan Ghibran juga tidur.



Kali ini karena Dinda sudah boleh miring Ghifari tidur dalam pelukan Dinda.



"Sini Mas Ghifari bobo sama Bunda, gantian nanti Ghibran," begitu tadi Dinda bilang saat akan ngeloni Ghifari.



Dinda mengusap-usap punggung Ghifari sampai keduanya sama-sama tertidur.



Sebelum tidur tak lepas-lepas Dinda menciumi kening dan pipi Ghifari.



Dinda gemes pada putranya yang hampir berusia satu bulan itu.


\*\*\*



Eddy memperhatikan Radite sedang memandangi Dinda dan Ghifari yang terlelap. 




"Dit, ini yang mana pelakunya?" 



Eddy dapat kiriman enam buah foto dengan nomor dari rekan di kepolisian.



"Mana yang kamu bilang dekat dengan Shalimah?"



"Ini Pa, aku sudah lihat dia berapa kali.  Aku yakin mbok Asih hafal," Adit langsung memanggil mbok Asih. Mbok Marni sedang ke kantin untuk beli makan siang mereka semua dikawal dua orang bodyguardnya Eddy.



"Iya Pak," mbok Asih mendekat.



"Mbok ingatkan orang yang selalu nginep tiap malam di rumah dengan Shalimah?" Adit bertanya pada mbok Asih.



"Ingat Pak, namanya pak Steven."



"Kamu tahu namanya?" Tanya Eddy.


__ADS_1


"Iya Pak dia hampir tiap malam tidur di rumah karena pak Radite nggak pernah tidur di rumah," kata Asih. 



Asih masih terbiasa menyebut Radite dengan panggilan Pak seperti saat tinggal dengan Shalimah. Kalau Marni terbiasa manggil Den atau mas karena dia tahu Asit sejak masih SMP.



"Ya ampun Dit kamu koq bisa hidup dengan perempuan seperti itu?" Sesal Eddy.



"Aku mana tahu dan mbok Asih nggak cerita. Karena dia kan diancam oleh Shalimah. Lagian aku enggak pernah hidup bersama dengan Shalimah Pa. Aku datang hanya siang jam kantor enggak pernah lama."



"Yang mana orangnya?" Tanya Eddy.



"Ini Pak," Asih menunjuk foto nomor 4 itu adalah Steven sama dengan yang tadi telah ditunjuk oleh Adit.



"Namanya Steven kamu tahu itu pasti?"



"Iya Pak, Shalimah selalu bilang nama dia Steven. Dan kalau dengan dia nama Bram adalah David, bukan Bram seperti yang pak Radite sebut."



"Kemungkinan dia adalah ayahnya Bram Pak."



"Kenapa kamu tahu gitu?" Eddy semakin ingin tahu.



"Karena dia selalu bilang David itu anakku, bukan milik orang lain, begitu Pak."



"Mungkin mereka sudah tes DNA kali Pa makanya lelaki itu yakin Bram anaknya." Radite tak lagi punya rasa sayang pada Bram.



"Dan wajah mereka memang sangat mirip. Mbok punya fotonya Bram?" tanya Adit.



"Ada beberapa ini Pak," Asih memperlihatkan galeri foto berisi Bram.



"Ini Pa lihat kan?" Adit menyandingkan foto Bram di ponsel Asih dengan foto Steven di ponsel Eddy.



"Oh iya ya, hampir sama wajah mereka. Terlebih saat Bram tertawa matanya hilang persis seperti papanya ya."



"Terima kasih Bik," ujar Eddy. Dia memanggil Asih dengan Bik biar enggak ketukar dengan Marni.  



Eddy langsung memberi info soal Steven McKenzie pada informannya.



Karena di data polisi memang Steven sudah terdata sebagai bandar tapi tak bisa ditangkap bila tak ada barang bukti atau saat sedang transaksi.


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel keren karya teman yanktie yang bernama JENANG GULA

__ADS_1


dengan judul novel CINTA BERTANDA MERAH ya



__ADS_2