
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
"Loh bayinya ada dua?" tanya Tasih yang baru datang saat melihat Adit dan Edi sedang menggendong dua bayi yang sangat mirip.
"Memang," jawab Dinda santai.
"Tante kok nggak tahu ya," Tasih jadi tak enak hati.
"Apa Tante selama ini tanya atau ingin lihat bayi kami? Enggak kan? Apa pernah tanya bayi kami laki atau perempuan? Beratnya saat lahir berapa, panjang berapa? Kapan lahirnya? Enggak pernah kan Tante?"
"Tante juga nggak pernah pengen lihat kan? Tante ke sini cuma fokus ke papa aja kan," jawab Dinda lagi.
"Tante belinya cuma satu kado," tanpa menggubris kata-kata Dinda, Tasih malah bicara soal kado.
"Enggak dibeliin kado juga nggak apa-apa kok Tante. Ayah dan kakeknya masih bisa beliin," jawab Dinda selanjutnya.
"Papa tehnya diminum sebelum ditetesi sesuatu oleh orang lain," kata Dinda lagi dengan santai.
Tasih langsung terperangah, berarti selama ini mereka tahu bahwa Tasih pernah menetesi minuman buat Eddy.
"Kalau terjadi sesuatu kan semuanya di rumah ini lengkap dengan CCTV Yank. Jadi ya tenang aja lah Bund," jawab Adit.
Tasih langsung pucat pasi mendengar kalau rumah ini dilengkapi dengan CCTV. Tasih langsung melihat ke atas pojok-pojok setiap ruangan, dan ternyata benar semuanya ada kamera CCTV.
__ADS_1
Tasih melihat saat itu kepala keamanan datang.
"Pak, polisinya sudah siap," lapor kepala keamanan pada Adit.
"Oh ya. Jaga jangan boleh ada orang yang keluar, kalau sudah masuk rumah ini. Katakan hal itu pada polisi. Blokade semua jalan keluar," jawab Adit pada petugas keamanan rumahnya.
"Baik Pak Adit," jawab kepala keamanan.
Adit dan Eddy lalu bermain bersama si kembar.
"Katanya bulan depan mau MPASI ya Din?"
"Enggak kerasa ya Din," sahut Eddy.
"Iya nggak kerasa. Sejak aku ditabrak orang ya Pa. Padahal orang itu niatnya mau bunuh Mas Adit," kata Dinda seakan tak tahu kalau dalang kejadian itu ada dekat mereka.
"Untung pelakunya ngaku siapa dalangnya ya Pa."
"Papa sengaja sih dari kemarin nggak minta polisi nangkep dia, biar tahu dulu apa sih motivasi dia mau membunuh anak Papa," kata Eddy.
Tasih makin tak bisa bergerak.
__ADS_1
'Aku terjepit, tak bisa mundur. Aku harus cari cara bisa keluar diam-diam dari rumah ini,' Tasih berpikir akan mencoba keluar pelan-pelan.
Awalnya dia pura-pura ke kamar mandi.
"Aduh bagaimana ini Apa benar Muchtar sudah memberikan kesaksian bahwa aku yang menyuruh dia membunuh Adit?"
"Aduh gimana ini," kata Tasih lagi, dia makin bingung sendiri.
Tasih melihat di kamar mandi tidak ada CCTV.
Tasih lalu keluar ke ruang tengah ternyata disana sudah ada Lilis dan banyak kerabatnya yang lain.
"Eh kak Tasih, apa kabar?" tanya Lilis
"Khabar baik," jawab Tasih. Dia sedang berpikir bagaimana caranya kabur dari rumah ini, dia tidak fokus pada Lilis dan tak peduli lagi soal lainnya. Saat ini fokusnya dia bisa segera keluar rumah ini.
Tadi saat keluar dari toilet Tasih mencoba mengambil baju yang dijemur yang dia tahu kalau di jemuran belakang adalah baju para pembantu bukan bajunya Dinda.
Tasihdia ingin ganti baju lalu kabur pelan-pelan, dia akan pura-pura jadi pembantu yang akan beli sesuatu.
Tasih sedang mencari arena yang tidak ada cctv-nya.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY
__ADS_1