
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Kenapa Dit?" tanya Eddy mendengar ponselnya berbunyi panggilan dari Radite.
"Aku boleh ke rumah Papa kali ini?"
"Ada apa?" Eddy tentu tak akan menolak kedatangan putra tunggalnya. Dia marah pada Radite karena kasus Shalimah saja. Di luar itu tak ada masalah dengan putranya itu.
"Mau bicara penting Pa. Aku baru dari rumah sakit."
"Oh Oke datang aja." Eddy sudah tahu apa yang akan dibicarakan Radite karena dia pernah mengalaminya dulu.
Dulu dokter juga menyuruhnya membawa ina periksa ke spesialis kandungan saat kehamilan anak yang pertama
\*\*\*
"Kenapa?" tanya Eddy dengan pelan saat Radit sudah di rumahnya.
"Kamu sudah makan?" Eddy akan menyuruh pembantunya untuk menyiapkan makan malam bila memang Radite belum makan.
__ADS_1
"Sudah Pa," jawab Radite.
"Tadi keluar dari rumah sakit Aku memang langsung makan dulu sebelum kesini."
"Terus kenapa? Dari rumah sakit hasilnya apa?"
"Aku bingung Pa. Aku konsul ke spesialis penyakit dalam, bukan ke dokter umum loh Pa. Karena aku ngerasa gejala penyakitku makin parah aja kalau pagi."
"Aku cerita ke dokter aku bisa makan kalau masakan Istriku kalau nggak ya sama sekali nggak mau aku juga cerita aku cuma bisa masuk kopi pahit yang awalnya tuh aku nggak suka sama sekali kopi pahit, kopi pahit kental lagi Pa. Kebayang kan aku nggak suka tapi cuma itu yang bisa masuk kalau pagi."
"Lalu dokter malah ketawa dia nyuruh aku bawa istri ke dokter kandungan. Apa hubungannya ama penyakitku coba?"
"Dokter nerangin soal sindrom apa gitu, aku minta aja dia tulis biar aku bisa cerita ke Papa."
"Shalimah enggak mungkin sedang hamil anakku. Yang mungkin hamil cuma Adinda Pa. Asinda pasti lagi hamil anakku Pa. Dia hamil!"
"Terus aku harus gimana kalau memang Adinda hamil?"
"Dia pasti akan menggugurkan anak aku Pa," kata Radit.
"Kalau Adinda hamil dia tidak akan mungkin menggugurkan walau dia janda. Dia tidak akan pernah menggugurkan! Papa yakin seyakin yakinnya Adinda tidak akan pernah menggugurkan anaknya sendiri. Tapi soal dia mau menerima kamu sebagai ayah anaknya itu yang Papa enggak yakin."
__ADS_1
"Terus aku harus gimana Pa?"
"Aku harus ngomong apa gitu?"
"Papa juga nggak ngerti ngomongnya harus gimana," Jawab Eddy.
"Sebaiknya kamu jujur aja sih ke dia," saran Eddy.
"Jujur dalam hal apa Pa?"
"Kalian kan belum pernah ngobrol kan sejak kasus itu terkuak. Kamu juga belum sempet minta maaf kan?"
"Aku udah minta maaf Pak di ruangan kerjanya waktu kejadian di kantor ada Shalimah datang itu."
"Saat itu kan masih sama-sama panas," kata Eddy.
"Itulah Pa. Tapi aku sudah minta maaf aku sudah langsung minta maaf kok," jawab Radite. Itu memang kenyataannya. Radite ingat dia minta maaf pada Adinda dan meminta rumah tangga mereka di pertahankan.
"Ya sekarang kamu bicara padanya dan beri keterangan dari Dokter itu. Katakan menurut dokter kamu tahu dia kemungkinan sedang hamil." Eddy berharap semoga semua bisa kembali dengan semestinya.
"Baik Pa, aku akan coba diskusi dengannya."
__ADS_1
"Kalau Papa boleh tahu. Bagaimana perasaanmu dan hubunganmu dengan Shalimah?"