REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
SILAKAN AMBIL KALAU DIA BERKENAN


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


"Terima kasih pak Shindu."



"Sebenarnya saya rasanya malu ya bicara karena nggak ada yang hal besar yang harus saya bicarakan lagi setelah putri saya atau  lebih tepatnya menantu ya. Tapi saya lebih senang menyebut dia putri saya.



"Tadi putri saya bicara panjang lebar tentang ketidak beresan personal kantor ini. Sejak dia vakum karena kecelakaan hendak dibunuh orang."



"Dia vacum bukan buat rehat dan jauh dari pekerjaan, tapi karena jadi pengganti suaminya.  Sebenarnya target pembunuhan adalah suaminya."



Langsung semua peserta rapat saling pandang dan kaget mendengar fakta yang selama ini memang tidak diekspose oleh Pak Eddy.



Semua tak ada yang tahu mengapa Dinda dan Adit menghilang dan tidak pernah kerja.



Tak ada yang tahu bahkan Shindu sekali pun tidak tahu. 



"Bu Dinda sampai koma selama tiga bulan makanya dia tidak pernah hadir ke kantor dan sebagai suami, Adit menunggunya full."



"Untungnya Radite anak pemilik perusahaan, kalau dia bukan anak milik perusahaan entah bagaimana dia membagi waktu antara jam kantor dengan menunggu istrinya di rumah sakit."



"Seperti yang tadi bu Dinda bilang anak saya Adit tidak pernah keluar dari ruang rawatnya. Dia keluar paling hanya beli obat atau mengantar istrinya pada saat harus dibawa keluar konsultasi dokter."


__ADS_1


"Itu fakta mengapa saya kadang tak hadir di kantor. Tapi sebenarnya nggak lengah. Saya tahu semua, tapi saya tunggu sampai anak saya yang bergerak."



"Saya tidak bisa bicara lugas pada perempuan. Itu sebabnya saya menunggu Dinda yang bertindak."



"Seperti tadi Shindu bilang, saya tidak pernah bawa berkas ke rumah. Saya tidak pernah kerja di rumah. Bila saya butuh waktu lebih untuk bekerja, ya saya kerja lembur di kantor. Bukan membawa pulang berkas untuk saya lanjut di rumah."



"Rumah buat saya adalah tempat berkumpul dalam dekap kehangatan keluarga. Jadi tak mau saya bawa pulang pekerjaan apalagi sampai diskusi."



"Jadi Dinda memang langsung turun ke lapangan kemarin. Maksudnya ke kantor ya dan dia pelajari laporan itu sejak kemarin hanya saat dikantor saja"



"sekarang Dinda punya dua pangeran yang makin menyita perhatiannya. Jadi di rumah dia hanya focus untuk baby-nya."




"Seluruh saham milik Dinda. Tapi jangan berpikir dia bicara seperti tadi karena dia merasa punya power."



"Jauh sebelum ini dia lebih sombong dari sekarang. Pegawai lama lebih paham bagaimana Dinda sebelum punya anak. Lebih keras dan lebih tegas walau bukan pemilik saham."



"Saya rasa hanya segitu aja dari saya. Terima kasih."



"Kalau kalian masih mau bertahan  silakan, kami tak melarang. Kalau mau mundur silakan kami tak menahan, karena seperti yang anak saya bilang kami di sini butuh tenaga yang punya otak bukan tenaga hanya dengan kemampuan diluar pekerjaan," kata Eddy.


__ADS_1


"Maaf saya tambahkan." Dinda menyela sebelum Shindu bicara.



"Buat para perempuan yang mau mengejar hartanya Pak Eddy atau Pak Radite silakan. Tadi sudah disebutkan kalau pak Eddy atau pak Radite sama-sama sudah tidak punya saham di sini."



"Saya tahu saat saya tidak kerja di kantor ini ada yang ngejar-ngejar Papa saya. Dikira saya nggak punya CCTV di sini?"



"Saya tahu ada beberapa orang di bagian lain selain marketing yang lagi ngejar-ngejar Pak Eddy biar bisa jadi selingkuhan atau istri kedua atau simpanannya berharap punya ATM berjalan."



"Saya yakin setelah ini semua akan mundur karena pak Eddy sudah bilang bahwa semua saham milik saya." Dinda tersenyum manis.



"Dan ada beberapa karyawati yang sedang cari kesempatan mendekati pak Adit yang dibilang high quality jomlo karena dia anak pak Eddy. Anak pemilik perusahaan yang pasti banyak hartanya."



"Saya persilakan kalian bawa pulang pak Radite bila dia berkenan berpisah selamanya dengan anak kami."



"Saya bukan type perempuan yang mau mempertahankan barang murahan yang bisa dipakai siapa saja. Jadi saya tak keberatan siapa pun menggoda pak Radite. Jangan takut saya tak akan menghalangi misi kalian mendekati dia."



"Ada yang sudah kasih minum pakai pelet kan?" Dinda bicara penuh senyum licik karena tahu siapa pelaku yang ingin menggaet Eddy dan Adit.



Ada yang merasa tersindir dan menunduk.


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER


__ADS_1


__ADS_2