
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Apa saya bisa request sesuatu?" tanya Eddy.
"Maksudnya apa ya Pak?" kata dokter penyakit dalam yang bertemu Eddy pagi itu.
Eddy memang sengaja datang pagi-pagi sekali. Jam setengah tujuh dia sudah ada di rumah sakit tempat Dinda dan Mas serta Ade di rawat.
Hari itu adalah hari Sabtu, Eddy tidak kerja dan dia ingin ketemu dokter yang menangani Dinda.
"Kami ingin minta izin membawa kedua bayi bertemu dengan bundanya, mungkin ikatan batin mereka bisa memancing dan bayi kan sudah keluar dari inkubator," kata Eddy.
Sekarang usia Mas dan Ade sudah dua minggu.
Dua setengah bulan Dinda di rumah sakit tanpa respon apa pun.
Dua setengah bulan Radite terus berada di sampingnya dan tidak bekerja sama sekali. Radite tak bekerja tak berpengaruh karena memang kerja Radit nggak ada aktivitas berarti dan vital di kantor.
Tapi Dinda sangat berpengaruh bagi Eddy. Kehilangan Dinda tangan kanan dan otak yang sangat brilian membuat Eddy timpang.
"Saya yakin dokter neonatus akan memberi izin Pak. Sebaiknya Bapak minta izinnya pada dokter neonatus saja jangan ke saya."
"Kami beda kewenangan Pak. Kami melayani dua hal yang beda walau kami sama-sama dokter." Jelas dokter penyakit dalam itu.
"Baik saya akan minta izin pada dokter neonatusnya," kata Eddy.
"Sebaiknya papanya yang bicara jangan eyangnya," saran sang dokter.
"Iya Dok saya yang akan bicara," kata Radite.
\*\*\*
"Wah dokternya sudah pulang Pak," kata suster di ruang bayi.
"Beliau akan datang lagi nanti untuk mengecek pasien sehabis maghrib."
"Saya akan ke sini sebelum maghrib, saya akan menunggu dokter bayi itu."
"Saya akan beritahu dokter bahwa Bapak ingin bertemu. Jadi kalau beliau datang saya akan panggil Bapak."
"Terima kasih suster, mohon dicatat janji suster tadi. Takutnya pas ganti sift tidak diketahui suster yang jaga selanjutnya."
Radite tahu di dalam rumah sakit pasti ada pergantian jam kerja.
__ADS_1
Jadi bisa saja kata-kata suster itu tak diketahui yang shift berikutnya dan ketika ditegur suster pengganti tentu tak terima karena tak merasa berjanji.
"Sebentar agar tak lupa akan saya catat di buku besar." Suster itu pun mencatat karena ditungguin Radite hingga dia selesai.
\*\*\*
"Bagaimana Dit?" tanya Eddy.
"Dokternya sudah pulang, dia akan kembali nanti malam. Enggak malam sih, katanya magrib. Aku sudah tinggalin pesan ke suster kalau dia datang lebih dulu aku minta bertemu."
"Nanti sebelum maghrib aku sudah stand by disana. Papa jangan pulang duluan ya?"
"Enggaklah hari Sabtu dan hari Minggu Papa kan memang di sini biar kamu bebas bergerak."
"Oh ya kayaknya Muchtar sibuk terus, sudah mulai kelihatan jalurnya kerjanya," kata Eddy.
"Baguslah semoga cepat tertangkap."
"Ya, semoga aja," jawab Eddy.
\*\*\*
"Memang ada beberapa orang yang punya ikatan batin seperti itu Pak. Saya juga nggak menutup mata ada beberapa yang bisa terpancing saat bayinya menangis, tapi itu tidak pasti ya Pak."
"Iya Dok, enggak apa-apa. Saya cuma minta izin untuk membawa keluar bayi-bayi kami, soal hasil itu bukan wewenang saya atau orang lain. Semua itu adalah kehendak Allah," dengan bijaksana Radite bicara apda dokter neonatus yang dia temui.
"Tolong dokter kasih tahu langsung pada suster-suster kalau bayi ini boleh datang ke ruang rawat ibunya."
"Sebenarnya kalau ibunya sehat mereka malah sepanjang hari tidur bersama ibunya Pak. Tapi karena ibunya tidak sehat maka terpaksa dia di ruang bayi," dokter memberitahu kalau baby bisa sepanjang hari di ruang rawat.
"Kira-kira berapa kali satu hari baby bisa ke ruang rawat?" Tanya Radite.
"Bisa dua atau tiga kali. Silakan Bapak atur waktunya. Bapak bicara saja satu jam sebelumnya pada suster agar nanti mereka diantar ke ruang rawat ibunya.
"Baik," kata Radite.
Radite juga akan meminta pengawal menjaga pada saat kedua bayinya dibawa dari ruang bayi ke ruang rawat. Radite tak ingin terjadi sesuatu hal yang membahayakan kedua putranya saat perjalanan transisi dari ruang bayi ke ruang rawat.
\*\*\*
Steven sengaja tidak datang di pengadilan negeri agar hakim cepat memutuskan proses cerai mereka.
Dan benar tanpa kesulitan sekarang Steven dan Sherly sudah bercerai. Tak ada harta gono gini yang diminta Sherly, yang penting dia sudah resmi bercerai dari Steven sesuai dengan janjinya pada kedua orang tua dan kakak tertuanya.
__ADS_1
Siapa pun akan merasa berat menghadapi perceraian. Tapi mau diapain? Setidaknya dia tahu selama ini dia dibohongi. Ternyata dia yang mandul.
Sherly juga tidak mau jadi ibu sambungnya David karena dia yakin ibunya David pasti sangat dicintai oleh suaminya. Ups mantan suaminya itu.
Sherly akan melupakan Steven selamanya.
"Sudah nggak usah bersedih," kata pengacaranya.
"Nggak kok saya nggak sedih. Saya hanya menyesal karena terlalu lama rahasia ini terkuak. Kalau tidak ada kasus adopsi dari Steven saya nggak akan pernah tahu bahwa selama ini saya dibohongi olehnya."
"Saya pikir dia mandul, ternyata saya yang mandul," kata Sherly lagi."
"Itulah perjalanan hidup. Kita nggak ada yang tahu. Saya pun mengalami hal yang sama. Saya menikah 2 kali."
"Istri pertama saya adalah kekasih yang saya cintai," kata Jhoni.
"Karena tak juga hamil, orang tua saya mendesak agar saya menikah lagi. Mama saya mengharuskan saya punya anak sebagai penerus, sehingga saya menikah lagi dengan istri kedua."
"Istri pertama saya tentu nggak setuju dia minta cerai sebelum saya menikahi perempuan pilihan mama."
"Tiga tahun menikah dengan perempuan kedua tanpa cinta, akhirnya saya diselingkuhi dan dia hamil ketika saya ceraikan karena saat itu saya baru tahu saya mandul!"
"Saya dengar sendiri kata-kata istri saya bahwa itu adalah anak selingkuhannya."
"Saya langsung ceraikan istri kedua. Istri pertama dan keluarganya mentertawai saya yang bisa kecolongan diselingkuhi. Mereka bilang saya dapat karma karena sudah jahat padanya."
"Sejak saat itu saya juga nggak berani menikah karena orang akan mengharap punya keturunan."
"Wah berarti kita sama ya. Sama-sama mandul," kata Sherly sambil tersenyum getir.
"Ya," ujar Jhony.
"Terima kasih atas bantuannya selama ini," kata Sherly, dia pun menjabat tangan Johny erat.
"Iya sama-sama semoga hidupmu ke depannya lebih baik."
"Amin. Saya mungkin akan mengurusi usaha kakak karena kakak kan bilang begitu saya cerai dari Steven saya harus kembali terjun ke dunia bisnis."
"Ya baguslah supaya kamu tidak terlalu banyak diam sehingga membuat pikiranmu kacau."
"Ya terima kasih," kata Shery.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang baru rilis dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY!
__ADS_1