
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Eddy membaca lagi list yang Radite berikan. Dia coret yang sudah terbeli. Untuk diapers dia beli sangat banyak karena cucunya dua.
\*\*\*
Radite melihat Eddy membawa belanjaan sangat banyak dibantu oleh dua orang ajudannya.
"Ya ampun Pa. Kenapa diturunin sini semua?" protes Radite.
"Aku memang minta beli semua size besar dalam jumlah dua bukan karena anakku dua Pa. Tapi karena nanti yang satunya kita taruh di rumah."
"Oh gitu, ya udah nanti kita pisahin dulu yang mau taruh sini, sisanya biar diantar ke mobil."
"Iya Pa, yang disini sesuai kebutuhan aja," kata Radite.
"Simbok mana?"
"Simbok ambil baju kan tadi dia ke sini nggak niat nginep. Kalau sekarang kan dia wajib di sini setidaknya sampai besok malam. Nanti kalau mbok Asih datang baru dia pulang. Enggak mungkin kan keduanya nginap sini."
"Kamu dari tadi urus si kembar sendirian?"
"Iya Pa. Aku bisa kok. Mereka enggak rewel," ucap Radite lagi.
'*Radite benar-benar berubah, pantas Shalimah menjebaknya dengan bayi. Memang dia sangat mengharapkan keturunan. Aku akan cerita pada Dinda bagaimana Adit menangani kembar sendirian tanpa bantuan siapa pun*.'
Radite memisahkan yang mana yang akan disimpan di rumah sakit mana yang ditaruh di rumah.
"Ini botol harus kita rebus laku di steril biar bisa digunakan," Eddy memisahkan botol suusu cucunya.
"Wah kita enggak ada panci Pa. Kalau hanya air panas dispenser takut kurang panas."
"Papa tadi beli sih kompor gas mini dan panci sengaja buat di sini. Yang tabung gasnya sebesar botol air mineral itu."
"Iya aku tahu." Mereka pun langsung men-sterilkan botol susuu agar bisa segera digunakan.
Di dalam ruangan itu dispenser panas dingin. Jadi tak masalah kalau buat bikin susuu.
"Papa juga beli kopi sama mie buat kamu. Sepertinya kopi sachetmu habis."
__ADS_1
"Ada simbok nanti dia bisa disuruh ke kantin kan gampang."
\*\*\*
Sudah dua minggu Shalimah berada di Australia bersama dengan David putranya dengan Steven.
Dia berhasil kabur keluar negeri dengan identitas baru. Kalau David memang menggunakan indentitas pertama. Dulu saat dengan Radite, bayi itu hanya diberi nama Bramantyo tanpa ada akte atau identitas lainnya.
Rupanya saat masih di Jakarta Shalimah dan Steven sudah mendaftarkan pernikahan mereka di catatan sipil. Di identitas barunya memang Shalimah beragama sesuai dengan keyakinan Steven dan namanya berubah menjadi Hilma Antonia.
Jadi mereka bisa bikin akte lahir juga paspor David.
Sudah dua minggu David bersama Hilma.
"Di rumahku yang di Australia ada tujuh pembantu rumah tangga perempuan. Tapi ingat, David itu anak kita. Kalau kamu nggak mau pegang dan urus dia, kamu saya tendang," kata Steven tegas.
Steven tak ingin David cuma dirawat babysitter.
"Urus dia baik-baik
Kalau kamu tidak baik memgurusnya, saya lebih memilih anak dari pada kamu."
Maka mulai saat ini Hilma belajar merawat bayi walau sesungguhnya David bukan bayi lagi karena sudah berumur 1 tahun lebih.
David sudah berada ditangan kedua orang tua aslinya. Hari ini Steven akan tiba di Australia menyusul mereka.
Memang mereka nggak berangkat bareng untuk keamanan.
"Hari ini daddy sampai. Kamu suka ya ada daddy?" kata Hilma pada David.
Walau ada tujuh pegawai perempuan di rumah ini Hilma tidak membolehkan mereka pegang David. Hilma tidak mau kalau ada satu orang yang cari muka ke Steve dan mengadukan bahwa selama ini David tidak dirawat dengan benar oleh Hilma.
Sekarang dari a sampai z, dari bangun tidur sampai tidur lagi urusan David benar-benar di tangan Hilma.
Paling dia minta masakin makanan David tapi untuk nyuapin pasti dia lakukan sendiri. Begitu pun sussu. Dia nyuruh bikin suusu tapi yang memberikan pada David adalah dia sendiri.
Menggantikan diapers David kalau buang air besar atau mandiin David semua Hilma lakukan sendiri.
Begitu perubahan yang Hilma lakukan demi bertahan hidup tidak ditendang oleh Steven.
__ADS_1
\*\*\*
"Kenapa aku nggak boleh jemput di bandara?" tanya Hilma manja.
Steven baru tiba di mansionnya.
"Belum waktunya kamu terlihat di muka umum. Tunggu beberapa bulan lagi baru kamu bebas. Nikmati saja, kita sembunyi dulu. Aku pun belum berani menampakan diri."
"Toh kita tidak terpenjara di rumah kecil," kata Steven. Hilma mengerti karena dia juga pakai identitas baru.
"Bagaimana anak kita?" Steven langsung menanyakan David.
"Sehat, dia sudah bertambah beratnya juga semakin aktif," lapor Hilma.
"Mana dia?"
"Baru aja bobo."
"Yaaaah, aku mau ketemu."
"Aku nggak tahu kamu datangnya kapan. Jadi begitu dia kenyang ya aku tidurin."
"Baiklah sekarang mommy-nya yang Daddy tidurin." Hilma mengerti dia pun menemani Steven masuk kamar mereka.
Letak kamar David bersebelahan dengan kamar mereka dan ada pintu penghubung. Jadi kalau David nangis akan langsung terdengar. Pintu itu tak pernah ditutup.
'*Akhirnya aku punya keluarga yang aku inginkan sejak dulu*,' kata Hilma dalam hatinya.
'*Aku tak mau lagi salah langkah. Sekarang puas tidak puas aku nggak akan cari pemuas nafsu*.'
'*Kalau itu aku lakukan, aku sangat bodoh. Aku akan membuang diriku ke jalanan. Aku tahu bagaimana kekuatan Steven*.'
'*Aku tak mau macam-macam, kalau dulu sama Radite aku kan memang nggak takut karena masih ada Steven yang membiayaiku. Kalau nggak dikasih uang Radite pun aku nggak takut*.'
'*Kalau sekarang siapa yang mau nanggung aku dan David? Tapi David nggak mungkin dilepas oleh Steven*.'
'*Apa aku harus jadi pela-cur jalanan? Kan nggak mungkin. Aku harus insyaf dan berubah untuk terus bersama Steven saja*.' kata Hilma dalam hatinya saat dia melayani suaminya itu. Sekarang dia jelas istri Steven karena mereka punya akte menikah. Tak seperti saat dengan Radite dulu.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang baru rilis dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY!
__ADS_1