
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
'*Untunglah saat aku bermasalah dulu bukan Dinda yang netapin kebijakan. Apalah daya kalau aku harus mengembalikan tiga kali lipat dari yang aku pakai*?' pikir Adit ketakutan tapi bersyukur bukan Dinda eksekutor saat dia bersalah dulu.
'*Sedang buat mengembalikan semua yang ada aja aku harus jungkir balik satu tahun tak gajian. Bagaimana bila dikali tiga*?'
'*Dinda benar-benar menggunakan tangan besi untuk memimpin perusahaan. Benar-benar macan kantor*!' Eddy hanya diam, tapi dia kagum akan ketegasan Dinda.
'*Aku tidak akan pernah lagi aku mencuri atau mencuranginya bisa disunat habis pistol kecilku kalau aku nakal terhadap Dinda. Aku akan cari aman. Aku tidak mau berpaling sedikit pun dari dirinya dan aku sudah punya dua pangeran kecil*.' Adit membulatkan tekad untuk berjalan lurus. Tak ingin masuk jurang bila sampai berhadapan dengan Dinda.
'*Aku yakin, Dinda punya target membesarkan perusahaan sejak tahu semua milik si kembar. Dia tak seambisi ini saat tahu perusahaan miliknya pribadi*.' batin Eddy lagi.
'*Mungkin bukan hanya si kembar yang kami miliki. Aku ingin tambah satu atau dua anak lagi*,' Adit malah berpikir ingin segera punya tambahan anak agar sekalian repotnya
"Kalau ada komplain terhadap apa yang saya lakukan silakan waktu dan tempat saya persilakan."
__ADS_1
Tak ada tunjuk jari dari semua peserta tanda ingin bicara.
"Baik, tak ada yang berani berkata-kata. Kalian nggak ada yang berani bicara di forum ini, tapi di dalam hati mengumpat saya."
"Enggak ada gunanya kalau hanya mengumpat dalam hati karena saya nggak dengar," kata Dinda menegaskan dia tahu banyak yang tak suka dengan apa yang dia ucapkan.
Eddy dan Adit hanya tertawa dalam hatinya, tapi mereka menampakan senyum dibibir mendengar ucapan Dinda yang sangat benar itu.
"Sebelum nya saya beritahu bila saya mendengar nama saya dibuat pergunjingan, anda berhadapan dengan saya face to face. Saya sudah kasih kalian kesempatan bicara, tak ada yang berani. Tapi anda di belakang akan mencibir dan membully saya. Kalau itu terjadi saya anggap kalian pecundang."
"Silakan pak Shindu."
__ADS_1
"Terima kasih Bu Adinda. Itu tadi ulasan dari Bu Adinda mengenai kinerja kita yang sudah 7 bulan tidak dia tangani sama sekali."
"Selama beliau vacum, tak pernah ada laporan pada beliau sama sekali. Tak pernah ada data apa pun yang dibawa pak Eddy mau pun Pak Adit untuk didiskusikan dengan beliau."
"Peraturan di rumah bu Dinda adalah tidak bicara masalah kantor apalagi bawa data kantor ke rumah."
"Kemarin pertama beliau masuk kerja, beliau langsung punya gebrakan 2 jam di kantor dia sudah mendapatkan ketidak beresan di kantor ini. Itu yang saya salut pada Bu Dinda. Dan saya rindu kerja kerasnya. 7 bulan saya tak mendapat tempaan kerasnya. Biasanya tiap hari saya mendapat target harian. Jadi anda yang tidak setiap hari bekerja dengan beliau seharusnya bersyukur karena tidak under pressure seperti saya."
"Sebaliknya saya bersyukur setiap hari ditempa bu Dinda karena saya secara tak sadar jadi lebih kuat setiap saat."
"Sekarang kita dengarkan petunjuk bapak CEO kita yang selama bu Dinda vacum bahkan sampai tak ingin mengadakan meeting intern. Diakui atau tidak, perusahaan ini tanpa bu Dinda seperti sayur sop tanpa kuah. Seret kan?"
"Sekarang waktu dan tempat saya persilahkan Pak Eddy untuk bicara," kata Shindu.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIED
__ADS_1