REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
KEMUNGKINAN TERBURUK BUAT DINDA


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



"Bagaimana kabar dia hari ini?" tanya Eddy.



"Papa tunggu sebentar lagi di sini. Ada dokter yang datang jam 07.00 Pa. Jadi Papa langsung bisa bicara dengan dokter aja. Papa akan lebih jelas."



"Oke."



"Aku juga berangkat setelah dokter selesai periksa," jawab Radite.


\*\*\*



"Kalau dia sadar Pak. Sekali lagi kalau dia sadar, dia tidak akan cacat."



"Itu prediksi saya karena luka yang ada hanya tersisa retak tulang kering kaki kiri dan itu sudah mulai membaik karena sudah satu setengah bulan ini saya pantau semakin baik."



"Luka luar semua sudah tidak ada. Hanya kerja otak yang kita tidak tahu," kata dokter pada Eddy.



"Semua organnya juga baik. Tensinya atau kerja jantung semua baik. Baik sesuai dengan kapasitas kondisi dia saat ini ya Pak. Bukan sebagai orang normal," jelas dokter lagi.



"Saya mengerti Dok.  Bagaimana dengan proses yang akan kita lakukan besok dua minggu lagi?"



"Kalau tadi saya lihat dokter neonatusnya juga sudah bilang paru-paru bayi siap Pak."



"Kita memang lebih baik mengantisipasi mengangkat bayi lebih dulu, sebelum ~mohon maaf~ sebelum kematian ibunya." Radite sedih mendengar kata-kata dokter ini. Dia tak membayangkan bila Dinda beneran tak bisa bertahan.

__ADS_1



Walau nanti akan ada dua bayi pengganti, tapi tentu tak sama tanpa kehadiran Dinda yang akan merawat bayi mereka.



Radite yakin Dinda akan menjadi ibu yang terbaik. Dia pasti akan memberi ASI pada bayi mereka, Dinda pasti akan menina bobokan bayi mereka dengan lembut. Dia pasti akan mengurus kedua baby dengan tangannya sendiri.



Berbanding terbalik dengan Shalimah yang tak pernah menggendong atau memandikan dan mengurusi Bram. Bram 100% anak pengasuh.



"Jadi setidaknya dua bayi ini sudah aman kalau ibunya meninggal. Resiko lebih besar bila ibu meninggal sebelum bayi dikeluarkan. Bisa-bisa bayinya juga tak selamat semua."



"Selama ini saya dan rekan-rekan tak bisa memberikan obat yang keras karena efeknya tak baik bagi para bayi."



"Jadi prioritas kami selama ini adalah kesehatan baby."



"Bila bayi telah dikeluarkan, kami akan memberi obat paten untuk bu Dinda karena tak akan ada efek bagi bayi lagi."


\*\*\*




"Bukan Papa mendoakan Dinda meninggal. Tapi setidaknya kita akan berhasil menyelamatkan si kembar."



"Dan kemungkinan Dinda bisa diberi obat paten karena sudah tak ada baby twins yang menghambat kita memberi obat terbaik."



Radit pun siap berlalu setelah mereka  sarapan bareng. Eddy tadi membawa sarapan yang dibuatkan oleh si mbok dari rumah.



"Aku pamit ya Pa." Radite memberi salim pada Eddy.


__ADS_1


"Ingat jangan kelamaan karena waktu Papa terbatas."



"Enggak Pa, aku nggak akan lama. Aku hanya ingin tahu mengapa dia melakukan hal seperti itu."



"Papa sudah tahu siapa pelakunya?"



"Sudah Papa lihat, tapi Papa enggak kenal. Harus kamu introgasi untuk mengoreknya."



"Hanya kamu yang Papa berikan kesempatan.  Kalau Papa korek percuma juga kan lebih baik langsung kamu yang tangani."



"Karena itu Papa minta kamu yang kesana."



"Sekali lagi jangan terlalu lama."



"Enggak Pa, aku nggak akan lama. Begitu selesai aku akan keluar."



"Dan ingat jangan dibikin mati."



"Enggak Pa. Aku nggak akan bikin mati. Mati terlalu indah buat orang seperti itu. Dia harus merasakan semua kesakitan. Aku ingin dia dan keluarganya hancur lebur," kata Radit dengan penuh dendam.



Tak ada lagi wajah welas asih yang biasa tampil di wajahnya. 



"Aku pergi dulu ya Yank. Kamu sama Papa sebentar ya?" Bisik Radite. Dia kecup kening dan bibir Adinda.



"Ayah pergi dulu sebentar ya, kalian jaga bunda. Jangan rewel." Bisik Adit pada kedua bayi kembar di perut Dinda. 

__ADS_1


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang baru rilis dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY!



__ADS_2