REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
RESMI JADI DUDA


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


Tiga bulan berlalu Adit sekarang sah jadi duda benar-benar dunia seakan runtuh karena sekarang tak ada lagi bantuan Eddy untuk membatalkan pernikahan.



Dinda entah di mana nggak ada yang tahu. Ponselnya ada di laci kerja Adit.



Dinda nggak bawa apa pun dari rumah. semua perhiasannya ada di laci lemari rumah, dia hanya bawa ATM-nya saja.



Dinda tak bawa harta apa pun. Baju pun dia tidak bawa sama sekali Dinda hanya bawa baju dua pasang baju Ghibran dan dua pasang  baju Ghifari serta 10 buah diapers.  Dia tidak bawa di botol suusu sama sekali.



Semua itu membuat Adit serta Eddy tambah terpukul.



Dinda nggak bawa satupun hanya benar-benar baju yang melekat di badannya aja. Perempuan yang sangat kuat dan sekarang perempuan itu adalah seorang janda dengan dua orang anak yang posisinya entah di mana Adit juga nggak tahu.



"Kamu sudah transfer gaji Dinda?" Adit mendengar papanya sedang bicara yang dia yakin dengan Rizaldy manager keuangan. Adit baru masuk ruang kerja papanya untuk makan siang bersama.



'*Tanpa diminta sejak dia pergi aku selalu transfer gajiku semua buat dia Pa. Setidaknya aku menafkahi anak-anak aku*,' Adit duduk di sofa ruang kerja Eddy.


\*\*\*



"Dit kamu masih lama di proyek?"



"Kenapa Pa?"



"Kamu sudah 10 hari di lapangan. Apa masih butuh waktu lagi?" Tanya Eddy pada Radite.



"Besok aku kembali Pa. Lusa bisa masuk kantor."



"Ok, Papa tunggu di kantor."



Sehabis Eddy telepon, Dinda langsung menghubungi Adit.



"Hallo Mas, teleponmu sibuk banget." Rajuk Dinda.



"Aku ditelepon papa."



"Apa papa bilang soal penugasanku?" tanya Dinda.



"Papa cuma tanya kapan Mas pulang. Mas bilang besok pulang dan lusa bisa langsung ke kantor."



"Kenapa enggak besok langsung masuk kantor? Bukankah Mas ambil penerbangan pagi?" 



"Mas butuh istirahat dulu lah."



"Baiklah. Aku tunggu di rumah besok pagi sesuai jadwal penerbanganmu. Apa perlu aku jemput di bandara?"


__ADS_1


"Enggak. Enggak perlu kamu jemput di bandara," jawab Radite gugup.



"Baik. Sampai ketemu di rumah besok pagi." 



Adit baru ingat, sejak awal Dinda sudah tahu kalau dia ambil penerbangan pagi. Mengapa dia ceroboh tak langsung pulang?



Hanya karena saat itu Bram tidur di gendongannya dan dia tak tega pada *putranya* itu.



Dan sesampainya di rumah Shalimah dia langsung tidur bersama Bram karena kelelahan.


Sore hari Radite baru tiba di rumah, bersamaan dengan Dinda yang baru pulang kerja.



Dinda menyambutnya dengan ramah. 



"Wah capek Mas?"



"Ya lumayan lah," jawab Radite sambil mengulurkan tangan saat Dinda ingin salim padanya. Dinda mencium tangan suaminya dengan takzim.



Radite ingat, hanya Dinda yang berlaku seperti itu, Shalimah tak pernah. Bahkan Shalimah tak akan menyambutnya didepan pintu bila tak sedang akan meminta sesuatu.



Sekarang istri sholehahnya sudah tak ada lagi disisinya.



"Bagaimana hasilnya?" Tanya Dinda sambil berlalu ke kamar mandi untuk langsung mandi. 




"Oke siap. Aku hari ini mau istirahat dulu ya capek."



"Oke," Dinda langsung menuju ke ruang makan mau nyiapin makan malam.



"Kok baru sampai sih Mas?" tanya Dinda, Radite sengaja mengekor di belakang Dinda. Radite rindu bercumbu dengan istrinya. Karena dengan Shalimah dia jarang terpuaskan. Dengan Shalimah Radite hanya bisa satu kali dan itu pun jarang. Radite datang tiap hari hanya karena Bram bayi kecil yang katanya anak dari Adit.



"Aku lihat tiketmu pagi loh," kata Dinda santai.



"Terus dari pagi ke mana aja?" Dinda mencecar banyak pertanyaan yang membuat Adit mati kutu.



"Itu tadi aku ada bertemu teman di bandara lalu ya ngobrol lah," jawab Radit sedikit gugup.



"Gila juga ya ngobrol sama temannya dari pagi sampai hari gini," Dinda mengupas bawang bombay dan mengiris tipis.



"Ya maklumlah teman lama," jawab Radite asal jawab.



"Baguslah kalau teman lama. Mungkin saking lamanya, kalian sampai tidur bareng kali ya Mas," kata Dinda geram.



Disini Adit baru sadar. Andai kala itu dia langsung mengakui segalanya tentu tak ada drama perceraian pertama dan juga mungkin perceraian real mereka saat ini.


__ADS_1


"Ngawur kamu!" Sangkal Radite.



"Ya siapa tahu,"  Kata Dinda jenaka. 



"Ngapain aku tidur bareng sama orang lain? Aku udah punya kamu yang paling segalanya," Radite memeluk Dinda dari belakang.



"Maaf, aku lagi libur." Dinda menampik pelukan suaminya.



"Loh kok libur lagi?" Radite kecewa karena harus libur dari jatah bertempur dengan Dinda.



"Enggak tahu jadwalku sekarang nggak teratur. Makanya aku mau kita cek kesehatan."



"Ngapain?" Tanya Radite malas.



"Ya cek kesehatan secara menyeluruh terutama kesuburan. Tadi aku udah bilang sama papa sih, saat dia baru selesai meeting dengan auditor."



"Papa menyuruh aku  bawa kamu cek ke dokter."



"Beneran papa nyuruh?"



"Kalau nggak percaya tanya Papa aja. Papa minta kita tes kesuburan. Kita udah satu tahun nikah tapi belum punya anak."



"Belum dikasih kali. Mas subur koq," jawab Radite dengan percaya diri.



Adit sadar, ini kesalahan fatalnya. Secara tak langsung dia membuktikan dirinya telah punya anak karena mengakui dirinya subur pada Dinda.



"Enggak apa apa kita mengikuti perintah Papa aja. Kalau aku mandul kan jadi jelas," kata Dinda datar.



"Mas yakin kalau Mas subur? Apa ada perempuan lain yang sudah berhasil Mas tebar benihnya dan hamil serta punya anak? Apa anak itu punya Mas? Sudah pasti punya Mas dengan bukti test DNA?" Tanya Dinda.



"Ngaco kamu. Mana ada perempuan lain dan anak diantara kita." Radite jadi serba salah.



"Kita bicara secara logika aja Mas. Kalau anak itu beneran anak Mas dengan hasil DNA yang valid, papa pasti kasih perusahaan buat dia. Jadi aku enggak kebeban seperti sekarang." 



Radite ingat hari pertama kepulangannya dari Bengkulu sikap dan kata-kata Dinda selalu mengacu pada PEREMPUAN LAIN dan ANAK.



"Tadi kamu bilang, kamu meeting dengan auditor, ada apa?"



"Yang meeting dengan auditor tu papa dan pak Rizal. Aku hanya diberi tembusan saja. Tadi aku seharian full meeting buat kegiatan amal perusahaan dua minggu lagi."



Radite ingat kegiatan amal yang diketuai Adinda memang rutin dilakukan satu tahun sekali tepat hari ulang tahun mamanya. Ulang tahun perempuan yang paling Eddy cintai.


\*\*\*


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIED


__ADS_1


__ADS_2