REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
PEREMPUAN DIMASA LALU


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


Sehabis makan siang bersama Eddy dan Adit, Dinda masih mengecek beberapa berkas kantor.



"Pak Shindu sudah siap data untuk meeting evaluasi besok? Saya minta berkas langsung diberikan pada saya saat saya datang besok pagi. Jangan diletakkan di meja saya." Pinta Dinda. Dia memang selalu menghubungi staff melalui telepon. Untuk mengecek dimana posisi staff ketika dia hubungi.



"Iya Bu," jawab Sindhu.



"Aku pulang duluan ya Mas," pamit Dinda setelah mematikan komputer meja miliknya.



"Kamu serius dianterin sopir aja?" tanya Adit ragu.



"Iya Mas, aku diantar sopir aja. Mas di kantor aja, nggak usah ngantar aku pulang pergi, jadi ribet." Jawab Dinda. Dinda yakin bila Adit mengantar pulang, dia tak ingin kembali ke kantor lagi.



"Oke. Mas antar ke lobby aja," kata Adit.



"Apa besok aku bawa mobil sendiri aja biar enggak ribet gini? Kan jadi enggak bergantung ke sopir."



"Kalau enggak boleh, aku besok pulang naik taxi aja ya," pinta Dinda saat mereka jalan menuju lobby.



"Enggak. Enggak boleh naik taksi atau bawa sendiri. Diantar sopir aja. Toh dia sepanjang hari bengong nunggu papa pulang," tegas Adit melarang Dinda kembali bawa mobil sendiri seperti saat dia belum melahirkan dulu.



"Radiiiiiiite," panggil seorang perempuan dengan pakaian yang tak pantas untuk ke kantor.



"Siapa ya?" tanya Adit datar.



"Masa lupa sih?"  perempuan dengan baju seksi itu menghampiri Adit.



"Aku Viola temen kampus kamu dulu. Masa lupa kita pernah deket loh. Bukan cuma dekat, lebih dekat dari orang pacaran," tanpa malu perempuan itu bicara.



"Oh ya?" Ragu Adit memperhatikan perempuan itu. Dia tak merasa mengenal sosok tersebut.



"Ada perlu apa kesini?" selidik Adit.



"Aku mau ketemu dengan marketing disini atau CEO-nya." balas Viola.


__ADS_1


"Biasalah aku ada perlu urusan bisnis. Aku kan pewaris tunggal perusahaan pamanku yang meninggal saat aku SMP dulu."



"Silakan, semoga bisa bertemu dengan orang yang dicari. Saya mengantar istri saya dulu," pamit Adit.



"Istri? Kamu udah punya istri?" Tanya Viola kaget.



"Sudahlah. Memangnya kenapa kalau aku punya istri?"



"Aku berharap masih punya kesempatan balikan sama kamu," balas Viola.



"Balikan?" tanya Adit bingung.



"Saya bahkan nggak pernah kenal kamu kamu, kamu bilang balikan?" 



"Kita pernah punya hubungan sangat dekat melebihi orang pacaran Dit," protes perempuan itu.



"Maaf, sopirnya sudah sampai." 



"Ayo Yank, itu mobil sudah datang," Adit memeluk pinggang Dinda.




Dinda hanya mendengar saja dia tidak mau peduli. Dinda langsung masuk mobil tanpa pamit lagi pada Adit dan Adit tahu Dinda pasti sedang marah besar.


\*\*\*



"Wah anak Bunda sehat ya. Sebentar ya, Bunda ganti baju dulu baru gendong kalian," kata Dinda. Dinda langsung mandi dan bersih-bersih dulu, lalu mulai mengurusi si kembar mereka langsung diberi ASI secara tandem sambil mereka bermain.



"Tadi kalian ngapain aja ayo waktu Bunda nggak ada? Kalian nggak rewel hebat deh. Bunda liatin kalian loh. Nanti kalau udah mulai maem juga nggak rewel ya."



"Semakin banyak maem kalian cepet gede," kata Dinda sambil terus bicara pada kedua pangerannya. 


\*\*\*



"Itu Bram nangis!" Dari pintu depan Adit mendengar suara tangis yang sangat keras.



"Biiiik, itu enggak dengar anak nangis?" Shalimah teriak saat Adit menegurnya.


__ADS_1


"Bibik lagi salat, kamu angkatlah."



"Paling dia pengen minum, biar aja nangis sebentar. Mas lah bikinkan minumnya," perintah Shalimah. Dia sedang sibuk mewarnai kukunya.



"Astagfirullaaaah." Kasihan pada Bram Adit langsung membuatkan susuu buat anaknya. Padahal dia baru tiba dari kantor.



"Mas sudah pesan makanan buat makan siang kan?" Tanya Shalimah. Dia tak pernah masak apalagi urus anak. Tiap siang Adit memesan makanan untuk makan siang. Padahal ada dua pembantu di rumah itu.



Adit ingat semua itu pernah terjadi dalam hidupnya.



Sekarang Adit melihat  dari CCTV di ponselnya. Bagaimana Dinda membangun interaksi dengan kedua putra mereka. 



Istrinya pulang kantor untuk segera mengurus anak-anak. Sangat berbeda jauh dengan perempuan yang mengikat Adit dengan menjebaknya sebagai ayah anak itu.



Ketika kedua putranya selesai minum ASI-nya Dinda menutup payu-daranya lalu dia langsung membasuh tubuh kedua putranya dengan tissue basah.



Dinda menggantikan diapers dan baju mereka bergantian sambil terus bicara dan tertawa.



Adit tersenyum melihatnya.



"Ayok kita bobok," ajak Dinda. Dia pun ikutan tidur bersama kedua buah hatinya.



"Kita bobok  sama-sama," Dinda mengusap punggung kedua putranya yang tidur tengkurap dan miring secara bergantian. mereka pun tidur tanpa diganggu oleh siapa pun.



Adit melihatnya dengan rona bahagia walau dia masih penasaran dengan Viola.



'*Siapa perempuan tadi sehingga berani-beraninya bicara seperti itu*?'



'*Apa benar Viola pernah sangat dekat denganku*?' Adit merenung. Padahal perempuan yang pernah tidur dengannya pun dia ingat.



Viola tidak ada dalam daftar. Selain Shalimah hanya ada dua perempuan sebelum Dinda yang pernah tidur dengannya. Itu pun tanpa cinta hanya kenakalan dia saat SMA, saat dia dulu belum mengerti arah hidup.



'*Nanti malam aku harus cerita dua perempuan itu sebelum menjadi duri dalam rumah tanggaku*.'



'*Benar itu terjadi sepuluh tahun lalu atau lebih, tapi suatu saat bisa mencuat. Aku tak mau Dinda dengar dari orang lain. Bisa kandas rumah tanggaku bila terjadi seperti itu*.'

__ADS_1


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIED



__ADS_2