REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
SAMPAH ITU BERGUNA UNTUK LALAT HIJAU


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




"Dit, kamu yang bawa mobil nih," Eddy menyerahkan kunci mobil ke Radit sambil memberi isyarat pada sopirnya untuk tak perlu mengantar dirinya.



"Ya Pa," kata Radite tanpa membantah.



Eddy  langsung duduk di kursi belakang. Enggak mungkin kan Dinda juga ikut duduk belakang, seakan Radit jadi sopir? Enggak sopan. Maka terpaksa Adinda duduk di depan bersama dengan Radite.



"Mau makan ke mana ini Pa?" tanya Radite.



"Enaknya makan dimana Din?" Eddy malah menyuruh menantunya menentukan pilihan resto yang mau mereka kunjungi.



"Papa maunya di mana?  Papa pengen apa?" Adinda malah balik melempar pada Eddy, membuat Radite tak juga menjalankan mobil walau mesin sudah menyala sejak tadi.



"Kayaknya sate kambing enak deh atau sop konro juga boleh," Eddy akhirnya memilih menu yang dia inginkan.



"Daerah mana ya? Kalau sate kambing yang Betawi punya aja ya Pa. Disana juga dekat dengan rumah makan sop konro. Nanti Papa bisa pilih mau parkir dimana," Radite melajukan mobilnya ke lokasi deretan sate kambing dengan nama penjual menggunakan KUMIS. Ada Ahmad kumis ada Abu kumis, ada siapa lagi pokoknya semuanya pakai nama akhir kumis. 



Radite masuk ke tempat langganan papanya.



"Papa nggak apa apa makan sate kambing?" Tanya Adinda.



"Enggak apa apa. Kemarin habis kontrol terakhir  nggak ada pantangan." Eddy meyakinkan Dinda kalau dirinya sehat.



"Tapi jangan banyak-banyak ya Pa," kata Dinda.



"Oke paling sepuluh lah, 10 ~ 15 tusuk."

__ADS_1



"Itu mah banyak banget tau Pa.  Kalau 10 tusuk lalu nggak pakai sop atau tongseng enggak apa apa." Protes Dinda.



"Pesan sate  25 tusuk ya Pak. Sopnya satu tongseng nya satu yang pedas. Minumnya lemon tea, semua es sedikit," tanpa bertanya  Dinda langsung pesan makanan yang biasa mereka pesan.



"Baik Bu, isi tongsengnya atau sopnya mau diracik sendiri?" Tanya pegawai rumah makan.



"Iya saya racik sendiri," Dinda lalu mengambil apa isian tongseng dan isian sopnya dan dia serahkan dua mangkok penuh isi kepegawai yang mau mengolah tongseng dan sop kambing.


\*\*\*



"Bagaimana tadi yang dari Cilegon?" tanya Eddy  sambil menunggu pesanan mereka datang.



"Dia bagus Pa.  Orangnya teliti juga sih walau masih tetap ada beberapa yang harus direvisi. Dia baik pintar humble."



"Kayaknya aku suka Pa," jawab Adinda tanpa punya niat apa pun.  Memang dia suka Ashraf yang mau menerima kritikan.




"Iya sih, aku juga lihat pakaiannya juga bukan level  sarjana yang baru mulai dapat penghasilan Pa."



"Kalau kalian duet, maut itu sama-sama teliti dan sama-sama pekerja keras. Kalian sangat  cocok," ungkap Eddy.



"Aku setuju Pa. Aku suka sama cara kerjanya juga cepat tanggap. Aku kasih deadline dua jam,  satu jam udah selesai.  Aku kasih waktu sampai besok, hari ini dia udah datang," puji Adinda.



"Ya udah lanjutkan aja semoga duet kalian bisa bersama seterusnya," kata Eddy.



Semua tadi tentu untuk masalah kerjaan.  Bukan masalah personal. Tapi Radite salah paham. 



Radite berpikir Eddy menjodohkan pria itu untuk Adinda. Tentu dibanding orang asing yang jadi tokoh pembicaraan papanya dan Adinda, dirinya nggak ada apa-apanya.


__ADS_1


Dia hanya sarjana lokal jurusan ekonomi perusahaan,  itu pun nggak lulus-lulus kalau Adinda tidak bantunya. Radite memang  tak punya power.


\*\*\*



Mereka pun mulai makan.



"Kamu masih aja kayak biasa," cetus Eddy.



"Ya pastilah Pa, masa aku berubah,"  tadi Adinda memesan sate seperti kesukaannya dia nggak suka hati kambing buat sate, dia suka lemak kambing kalau untuk sate.



"Bagaimana pekerjaan mu Dit?" tanya Eddy. 



"Ya biasalah Pa. Memang aku harus penyesuaian tapi lumayan aku sudah mulai bisa mengerti," kata Radite dengan jujur karena memang dia sangat lemah dalam hal apa pun.



"Kalau saja dia mau rajin pasti dia bisa. Dari dulu dia malas, sudah bodoh malas ya udah ngeblangsak lah.



"Dit, kalau Shalimah perempuan bener,  dia sudah punya anak yang katanya dari kamu, masa dia relain kamu nikah dengan perempuan lain?"



Eddy tiba-tiba membuka pokok persoalannya baru diluar topik pekerjaan.



"Ngapain Papa bahas dia?" Radite kesal kalau ingat dia pernah sangat tunduk pada Shalimah karena adanya Bram.



"Papa cuma buka otakmu aja."



"Enggak ada  perempuan mau dimadu. Shalimah  malahh sengaja ngedorong kamu supaya cepat nikah. Papa tau mengapa kamu minta dipercepat nikah agar kamu dengan leluasa bisa ngeruk uang perusahaan karena kamu suaminya Dinda!"



"Udah Pa, enggak usah bahas dia, bikin nafsu makan hilang aja." Protes Dinda.



"Jadi kalau Papa masih mau aku di sini, please jangan bahas makhluk yang enggak ada pentingnya hidup di dunia. Enggak ada gunanya hidup selain bikin kotor bumi."


__ADS_1


"Dia itu sampah dihidup Papa, dia itu sampah dihidupku. Sampah itu hanya berguna bagi lalat hijau aja Pa." Ucap Adinda. Kalimat ini tentu menohok Radite yang pernah tinggal bersama sampah, malahan dia adalah pemberi nafkah utama bagi sosok sampah itu.


__ADS_2