REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
JANGAN BAPER-AN


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.



"Assalamu'alaykum," sapa Eddy dan Marni saat mereka masuk ke ruangan rawat Dinda.



"Wa'alaykumsalam Papa," teriak Dinda.



"Yank anak-anak lagi bobok lho," kata Radite. Ghifari dan Ghibran baru saja kembali terlelap setelah dimandikan dan diberi susuu oleh Adit dan Asih.



"Maaf Mas aku lupa.  Aku belum terbiasa punya anak. Maaf ya Mas. Serius maafin aku," pinta Adinda.



"Iya Mas ngerti kamu baru sehari punya anak jadi belum terbiasa."



"Maaf aku beneran lupa."



"Iya nggak apa-apa.  Anak-anak nggak bangun kok." 



Eddy dan Marni pagi ini datang lebih cepat.



"Papa maafin aku, aku nggak bisa nyamperin Papa buat salim," Dinda minta maaf dengan tulus.



"Iya Papa ngertiin. Udah nggak apa-apa nggak usah suka kepikiran gitu."



"Ya kepikiran lah. Enggak pantes aku enggak nyamperin Papa," keluh Dinda. 



"Enggak pantes itu kalau kamu sedang sehat. Kamu kan belum boleh gerak," kata Radite.



"Iya Mas," kata Dinda patuh.



"Pa, Mas Adit sekarang galak loh, sering negur aku," canda Dinda. Radit tersenyum dan mencium kening Dinda.



"Enggak negur sih cuma ngasih tahu aja kamu itu terlalu kebawa perasaan.  Apa-apa dipikirin akhirnya kayak gini kan."



"Papa tuh nggak apa-apa kamu nggak samperin, wong kamu memang belum boleh turun tempat tidur" Eddy menengahi perdebatan anak dan menantunya.



"Kamu nggak usah apa-apa sungkan. Enggak apa apa. Papa ngertiin kamu," kata Eddy selanjutnya.



Dinda langsung salim kepada papanya Radite. Eddy mencium kening menantunya.



"Bagaimana sekarang kondisimu?" 



"Alhamdulillah sehat Pa," kata Dinda.



"Papa temenin aku di sini Aku mau tanya dokter katanya Mas Adit dokter biasa datang jam 07.00." rengek Dinda. Dia memang kolokan kalau bersama Eddy. Dinda dan Eddy klop.



Dinda menganggap Eddy adalah papanya yang telah meninggal dan Eddy menganggap Dinda adalah putri yang sangat dia dambakan.

__ADS_1



"Ya Papa akan temani. Memang kamu mau bilang apa sama dokter?" 



"Aku mau minta boleh kasih ASI enggak."



"Pasti boleh kalau memang sudah tidak ada dampak obat. Enggak ada dokter yang enggak ngebolehin ngasih ASI bila ibu sehat."



"Cuma kondisi kamu itu kemarin habis dibom pakai obat keras. Jadi kamu harus mikir itu kamu kasih ASI tapi efeknya buat bayi nggak baik. Kan malah kasihan kalau berdampak buruk?"



"Jadi memang enggak boleh sembarangan. Kita tunggu nasehat dokter dulu kapan kamu bisa berikan ASI bagi mereka." Dengan sabar Eddy meredam keinginan Dinda.



"Aku juga udah bilang gitu Pa, tapi kebiasaan menantu Papa tuh ngerengek," jelas Adit. Dinda yang disindir hanya tersenyum kecut sambil memonyongkan mulutnya.



"Mbok apa kabar?" Sapa Dinda pada mbok Marni.



"Baik mbak Dinda baik," balas simbok yang sedang bahagia karena nona majikannya telah sadar. 



"Maaf ya mbok aku juga ngerepotin mbok." Dinda kembali merasa tak enak telah menyusahkan orang.



"Nah mulai deh, mulaaaaai," goda Adit.



"Tuh kan Pa, Mas Adit kayak gitu, jadi galak," rengek Dinda pada Eddy. Dia sekarang sudah kembali jadi Dinda yang manja dan kolokan kalau dalam keluarga. Tapi super tegas kalau di pekerjaan. Sifat Dinda di kantor sangat bertolak belakang dengan sifat kesehariannya.



"Ya kamu aneh Yank. Siapa yang ngerepotin? Itu sudah biasa, kecuali kamunya main petantang-petenteng tinggal perintah. Kamu kan lagi enggak sadar?"




Eddy tentu saja senang melihat anak dan menantunya sudah rukun seperti dulu lagi.



"Papa tau nggak Pa. Dinda itu sadar pas anniversary-nya kami lho."



"Iya?  Papa malah lupa. Selamat ya semoga rumah tangga kalian selalu rukun hingga akhir hayat seperti mama dan Papa." 



"Semoga akan ada adik-adik dari Mamas dan Ade."



"Aaaaamiiin," sahut Dinda dan Adit hampir bersamaan.



"Ini kado terbaik buat aku Pa," ujar Adit. Dia akan mencari kado buat Dinda hanya belum sempat keluar rumah. Walau demikian Adit telah mencari di google.



"Tak terasa kalian sudah menikah dua tahun ya," ujar Eddy.



"Iya Pa sudah tahun kedua," Dinda membenarkan perkataan Eddy



"Papa belum tahu kan aku ini jadi korban balas dendamnya Dinda?" Adit tersenyum menggoda istrinya.



"Maaaaas," Dinda meminta Adit tak menceritakan perihal balas dendam versi dia.

__ADS_1



"Balas dendam apa maksudmu?" Eddy merespon kata-kata Adit.



"Aku sudah bilang jangan bicara sembarangan. Karena kata-kata adalah doa."



"Iya nggak lagi, udah jangan diceritain," pinta Dinda.



"Saat kami kontrol di  rumah sakit dokter tanya apa aku masih mengalami morning sickness?" Adit tak menggubris permintaan Dinda. Dia meneruskan ceritanya.



"Aku enggak pernah cerita ke Papa atau Dinda kalau si kembar itu sering ngerjain aku."



"Karena ditanya dokter aku cerita dan Dinda dengar."



"Mereka malam-malam minta salak Pa. Siang-siang minta martabak telur bikin aku keliling nyari. Karena enggak dapat aku minta ke mbok Marni bikin."



"Besoknya minta rujak cingur. Papa tahu kan aku nggak suka rujak cingur. Tapi aku pengen banget rujak cingur sampai aku samperin tempat yang jualan."



"Pernah lagi minta sop konro tengah malam. Sampai aku cari di google resto mana yang sedia menu itu dan jual 24 jam. Karena enggak dapat aku cari di google bahannya dan habis salat subuh aku ke pasar beli bahan dan aku masak sendiri dengan bumbu sesuai resep." 



"Pulang dari rumah sakit di mobil Dinda bilang : *Aku senang deh Mas anak-anak balas dendam*."



"Aku tegesin balas dendam apa? Dinda bilang *anak-anak membalaskan sakit hatinya karena aku selingkuh*."



"Dan ini kunci yang mau aku kasih tau Papa. Dinda bilang *akan membuat aku lebih menderita*."



"Aku langsung bilang :  *jangan bicara sembarangan. Karena kata-kata adalah doa*.



"Dan Doa Adinda diijabah, aku beneran tersiksa selama tiga bulan dia enggak sadar kemarin."



"Udah dong, jangn ungkit lagi," pinta Dinda sedih.



"Iya, makanya denger kata suami."



"Aku kan emang sakit hati, maka aku bilang pengen kamu menderita." balas Dinda membela diri.



"Papa lihat sendiri bagaimana Adit merasakan pembalasan dendammu. Dia sering nangis sendiri kalau bicara sama kamu."



"Atau saat bicara dengan bayi-bayi dalam perutmu agar mereka kuat bertahan."



"Bukan mendoakan kematianmu, tapi saat itu kamu tambah drop. Adit bilang enggak ingin memilih, tapi dia minta kalau kamu mau pergi, izinkan sampai babies sudah bisa dikeluarkan dari rahimmu agar ada yang menemani dia dalam hidup ini."



"Doa orang yang terzholimi memang ampuh. Itu sebabnya jangan asal bicara," lanjut Eddy.



"Iya Pa. Aku ngerti," sesal Dinda.


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel keren karya teman yanktie yang bernama OCYBASOACI

__ADS_1


dengan judul novel BERANDALAN VS GADIS BERHIJAB ya



__ADS_2