
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Itu perkiraan dokter bukan rekayasa dari diriku dan ternyata papa pernah mengalami saat Mama hamil pertama kali."
"Kamu tahu kan aku hasil kehamilan mama yang ketiga dan terakhir. Sebelum kehamilan ketiga mama pernah dua kali hamil dan saat kehamilan pertama papa mengalami apa yang aku alami saat ini."
Adinda membaca tulisan itu yang menerangkan bagaimana seorang lelaki berperilaku seperti ibu hamil karena istrinya sedang hamil.
"Aku enggak ngerti," tentu Adinda berupaya mengelak.
"Aku tahu kamu ngerti. Dan aku tahu kamu sudah tahu kamu hamil!" Radite tahu Adinda bukan orang bodoh sehingga tak mengerti tulisan yang dokter buat untuknya.
"Aku cuma minta jangan pernah hilangkan dia dari rahimmu." Pinta Radite.
"Kalau kamu nggak suka aku nggak apa apa, tapi jangan gugurkan dia."
Adinda diam. '*Dia tahu aku hamil dari dokter tempat dia periksa*.'
'*Terus aku harus apa? Anak-anak ini juga nggak mungkin nggak punya punya ayah*!'
'*Kalau akta kelahiran nanti aman, karena papa sudah melakukan pembatalan perceraian untuk mengurus akte*.'
__ADS_1
Memang sejak pulang dari rumah sakit dan mengetahui bahwa Adinda hamil, Eddy langsung mengajak Adinda ke kantor pengacara untuk membatalkan perceraian guna mengurus akte kelahiran bayi kembar.
"Nanti kalau anak-anak lahir, mereka mudah dibuatkan akte kelahiran karena orang tuanya masih dalam status menikah."
"Nanti kalau kamu tetap akan berpisah dari Adit, kamu bisa urus surat cerai lagi."
"Yang penting anak-anak aman dulu, punya akte yang legal," begitu waktu itu saran Eddy pada Adinda dan Adinda langsung setuju.
Maka dari itu dari rumah sakit mereka langsung ke kantor pengacara.
"Aku nggak tahu aku hamil atau enggak. Tapi kalau aku hamil aku takkan pernah menggugurkannya karena bayi itu tidak bersalah. Jadi kamu nggak perlu takut."
"Enggak mungkin kamu nggak tahu kamu pasti sudah terlambat mens kan?"
"Siapa bilang?" Sanggah Adinda.
"Feeling aku sih begitu," Adit tak mau mengalah.
"Kalau pun aku hamil, kita udah cerai kan? Lalu kamu mau apa? Kamu enggak berhak terhadap bayi bayi yang aku kandung. Kamu hanya mantan suamiku. Aku akan membesarkan anak-anakku sendiri."
"Bayi-bayi? Anak-anak? Kamu sudah tahu hamil dan anak kita kembar?"
"Ya enggak, maksudku aku akan membesarkan anakku sendiri tidak butuh campur tanganmu sebagai ayahnya." Dinda yang hampir keceplosan meralat kata-katanya.
__ADS_1
"Jadi kamu tenang aja kalau pun aku hamil aku nggak akan minta pertanggungjawabanmu seperti yang Shalimah lakukan!"
"Dan aku nggak akan menggugurkannya dan kamu tidak ada tanggung jawab karena kita sudah bercerai itu aja sih poinnya," Dinda bicara tegas. Saat itu makanan yang mereka pesan datang.
Adit tertohok mendengar Dinda mengatakan Adit pernah bertanggung jawab terhadap kehamilan Shalimah yang jelas-jelas bukan darah dagingnya.
Sekarang Dinda malah menolak pertanggung jawaban darinya yang jelas-jelas ayah kandung bayi dalam rahim Dinda.
Dinda langsung makan karena dia sudah sangat kelaparan.
"Kamu pasti hamil," kata Radit.
"Kenapa kamu masih yakin aja aku hamil?"
"Porsi makanmu beda. Kalau normal kamu makan porsinya tuh nggak pernah sebanyak itu."
"Kamu selalu pesan porsi small. Sekarang kamu makan porsi normal. Walau bukan porsi jumbo tapi itu sudah bukan takaranmu."
"Kamu habiskan porsi normal lalu minumnya juice alpukat yang sangat mengenyangkan."
"Jadi nggak usah berkelit lagi."
Adinda nggak tahu harus bicara apa lagi karena memang kenyataan seperti itu.
__ADS_1