
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Tanpa banyak cakap Radite membawa Adinda ke rumah sakit terdekat dibantu seorang penghuni apartemen yang memang baru pulang dari berolah raga dan langsung bersedia membawa Adinda.
Orang baik hati itu masih memegang kunci mobil. Kalau Adit harus cari kunci mobil dulu ke kamar Dinda di atas juga kan membuang waktu lama terlebih kalau harus menunggu ambulans.
Jadi bantuan sesama penghuni apartemen tak ditolak Radite.
"Pa, semua yang Papa rasa benar. Dinda baru aja jadi korban tabrak lari didepan apartemen saat baru pulang belanja susuu." Radite langsung menghubungi Eddy dan memberitahu keadaan Adinda.
"Firasat Papa benar Pa. Sepertinya ini bukan kecelakaan biasa tapi memang disengaja. Papa tolong langsung urus CCTV sepanjang jalan Pa," pinta Radite.
"Tanpa kamu minta itu pasti Papa lakukan, kamu bawa Dinda ke mana?"
"Ke rumah sakit Sumber Jaya Pa."
"Oke nanti setelah urus orang yang berkepentingan dengan kecelakaan, juga akan Papa kirim detektif guna penyelidikan, Papa akan langsung ke rumah sakit," kata Eddy.
"Saat ini bagaimana kondisi Dinda?" Eddy sangat lemas memikirkan nasib menantu dan cucu-cucunya yang tak tahu bagaimana nasibnya nanti.
"Aku bingung Pa. Nanti aku hubungi lagi. Kami turun dulu karena sudah sampai di rumah sakit." Radite menyelempangkan sling bag milik Adinda agar tak hilang tercecer saat dia mengurus Adinda.
"Pak, mohon maaf, saya tak bisa menemani Bapak lebih lanjut. Saya ada acara dan ini hampir terlambat karena saya harus pulang mandi dulu," orang yang mengantar Radite tak bisa ikut membantu lebih jauh.
"Saya mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya," ucap Radite.
"Iya Pak sama-sama. Semoga istri dan anaknya selamat semua."
"Terima kasih doa tulusnya," jawab Radite. Dia langsung mendaftarkan Adinda dengan identitas yang ada di tas Ebby.
Radite bingung, tubuh Adinda banyak luka, darah mengalir dari lukanya sehingga Adinda langsung di beri infus. Untuk stock darah yang Dinda butuhkan semua ready.
__ADS_1
Yang aneh adalah kandungan Dinda aman! Dokter langsung melihat dan baby tenang seakan tak ada benturan. Tak ada perdarahan juga. Benar-benar keajaiban buat Radite dan Dinda.
Hasil pemeriksaan Dinda koma karena benturan di kepalanya.
Kaki kirinya retak. Karena Dinda tak sadar, tak akan bergerak maka kaki tidak di gips, dokter hanya mengikat dengan spalk saja.
"Kalian tenang. Bunda enggak apa-apa. Doakan Bunda kalian agar dia segera sadar ya," Radite mengusap perut Dinda sambil berbisik.
\*\*\*
Saat ini sudah satu minggu Dinda terbaring lemah di ruang rawatnya.
Satu minggu pula Radite tak pernah keluar kamar ini selain keluar saat Dinda dibawa ke laboratorium atau ke ruang observasi.
Untung perusahaan milik papanya sendiri.
\*\*\*
Radite ingat sore sehabis mereka periksa kehamilan :
"*Aku senang anak-anak membalas dendamku untukmu Mas*." Itu kata-kata Dinda yang Adit dengar sambil menyetir mobil.
"*Balas dendam*?"
"*Yups REVENGE. Mereka membalaskan sakit hatiku untukmu dengan membuatmu ngeblangsak*. ***Aku ingin kamu mengalami kesulitan lagi dan lagi***." Itu doa Adinda, dia ingin melihat Radite mengalami kesulitan lagi dan lagi.
"Jangan bicara sembarangan karena bisa jadi itu doa."
"***Aku memang mendoakan kamu kesulitan***. *Setelah apa yang kamu dan Shalimah lakukan padaku*." Itu kata Adinda ketika itu.
"Dan sekarang aku beneran ngeblangsak Yank. Aku kesulitan dan kesulitan lagi karena kondisimu seperti ini. Kamu adalah bahagiaku. Dulu aku berpaling bukan karena sosok perempuan, tapi karena harus bertanggung jawab pada sosok yang aku kira anakku."
__ADS_1
"Bangun Yank. Sudah sepuluh hari kamu rehat. Bangun ya, aku rindu suaramu, aku rindu marahmu Yank."
Radite terus mengusap bayi-bayinya yang diberi asupan super ketat oleh dokter.
\*\*\*
Satu bulan sudah Adinda koma. Bayi di rahimnya telah berusia enam bulan.
Dokter kandungan dan dokter anak khusus neonatologi serta Eddy sudah diskusi terus. Bila kondisi semakin baik bagi bayi-bayi itu, Adinda akan di operasi walau sedang koma untuk mengeluarkan bayi-bayi didalam rahimnya.
Tentu harus menunggu setidaknya paru-paru bayi siap. Minimal diusia kehamilan tujuh bulan.
Dokter anak ahli neonatologi adalah dokter spesialis anak yang khusus menangani neonatus, yaitu bayi berusia 0–28 hari dengan kondisi kesehatan kritis, misalnya karena lahir prematur atau memiliki cacat lahir.
Eddy tak ingin menantunya meninggal. Tapi dia harus prepare segala kondisi.
\*\*\*
Dokter bilang sulit buat Dinda sadar karena dokter melihat kemungkinan kerja otaknya terganggu. Harapan Adinda bertahan semakin kecil. Itu sebabnya Eddy memacu keselamatan cucu-cucunya saja.
Dokter sedang mempertahankan detak jantung Dinda agar baby tetap aman.
"Papa sudah tahu siapa pelakunya? Ini sudah satu bulan lho Pa." Radite merengek pada Eddy.
"Papa sudah membolak balik banyak CCTV disekitar apartemen juga di jalanan sejak dua minggu sebelum kejadian. Papa kemarin konsen ke kesembuhan Dinda jadi agak lalai dipenyelidikan pelaku. Sekarang semua sudah mulai Papa urus lagi," jawab Eddy.
"Papa minta jangan sekali pun kamu tinggalkan Dinda. Papa takut masih ada yang ingin menciderainya."
"Walau pasukan di luar tak pernah kosong tiap hari ada dua orang dengan pergantian shift, tetap saja kita harus waspada."
"Aku enggak ingin orangnya dihukum mati Pa. Aku ingin dia merasakan penderitaan teramat dalam seperti yang aku rasakan."
Eddy tahu cinta Adit teramat dalam pada Dinda. Dulu dia berpaling karena faktor jebakan Shalimah saja dengan adanya Bram. Bila tak ada Bram tak mungkin Radite berpaling. Kisah dengan Shalimah adalah sebelum dia menikah dengan Adinda.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang baru rilis dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY !
__ADS_1