REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
MENYUSUI TANDEM


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.



Pagi-pagi sudah ada tamu untuk Mbok Marni.



Adit dan Dinda masih sibuk dengan dua baby-nya.



"Bunda sudah mengingatkan semuanya untuk tidak bicara tentang si kembar jangan ada yang bilang anak kita dua. Jangan pernah bilang seperti itu pada tamu atau siapa pun?" Adit tak ingin ada resiko bila pada tahu bayinya kembar.



Selain semua pegawai rumah ini, hanya pihak rumah sakit dan pengacara yang tahu kalau bayi mereka kembar.



Kecuali yang melihat foto profil milik Eddy, Adit atau Dinda. Tapi ketiganya selalu berkelit itu editan kamera saja.



"Sudah Yah, pasukanku sudah tahu semua," jawab Dinda sambil mengecupi Ghifari yang sedang minum ASI bareng dengan Ghibran.



Ya, sekarang Dinda menyusui bayinya secara tandem atau bersamaan. 



Dokter memberi tips menyusui secara bersamaan membuat waktu Dinda lebih bermanfaat daripada menyusui bergantian.



Saat satu bayi bangun ingin minum, maka bayi lainnya juga dibangunkan untuk minum, begitu yang Dinda pelajari.



Dengan menggunakan bantal menyusui, sekarang waktu Dinda memang jadi lebih banyak terbantu.



Adit tentu membantu bila dia ada di rumah.



'*Kamu dua bayi dipegang sendiri, Shalimah boro-boro. Kasih minum susuu botol aja selama ada aku atau pembantu, dia tak mau mengerjakan sendiri*.' Adit hanya membatin, dia kagum terhadap semua perilaku istrinya.



Mbok Asih cerita pada Adit, bagaimana sepanjang hari Dinda jarang minta dia atau mbok Marni memegang si kembar karena semua bisa dilakukan oleh ibu hebat itu sendiri.



"Sabar mbok, nanti kalau dia sudah mulai harus berangkat kerja kalian pasti dibutuhkan," jawab Adit ketika itu.


\*\*\*



"Mana Mbak Dinda?"  tanya Mintarsih.



"Oh dia kalau pagi nggak pernah keluar sampai selesai ngurus bayinya. Mari kita langsung ke dapur saja. Kalau harus nunggu mbak Dinda, kita enggak sempat masak karena mbak Dinda akan keluar saat sarapan," jawab Marni.



Padahal bila tak ada sandiwara ini yang membuatkan sarapan untuk Eddy dan Adit adalah Dinda.



Dinda harus memastikan jumlah kalori dan serat yang di konsumsi Adit dan Eddy selalu seimbang.


__ADS_1


Mbok Asih tak percaya, Dinda hampir tak meminta bantuan dia dan Marni saat siang. Dinda memegang kedua putranya sendiri!



Dan Asih melihat pagi-pagi Dinda akan memberikan salah satu putranya pada Eddy, dan putra yang lain dipegang oleh Adit sedang Dinda sendiri menyiapkan sarapan bagi mertua dan suaminya.



Jangan salah, kedua putranya sudah rapi saat dia berikan pada mertuanya.



180° berbeda dari Shalimah yang tak pernah mengurus anaknya juga menyiapkan sarapan bagi dirinya sendiri.



Boro-boro nyiapin buat mertua dan suami. Buat diri sendiri aja tidak.



"Ini semua sudah saya racik, kalau ada yang kurang kasih tahu," mbok Marni memperlihatkan udang dan daging yang siap diolah, bawang merah dan bawang putih serta kunyit serta jahe semua susah dikupas tapi belum ada yang dihaluskan.



Kalau sudah dihaluskan, sama juga bohong dong? Masa tinggal sreng aja.



Walau menghaluskan pakai blender, tapi komposisi kan harus koki yang nentuin.



Mbok Marni membuat nasi goreng kecap dengan isi ati rempela ayam, juga baso dan telur. Dia siapkan sedikit acar.



Mbok Marni membiarkan Mintarsih masak, rupanya perempuan itu mahir juga. Sesekali Mintarsih tanya tempat bumbu atau piring yang akan dia gunakan untuk platting.




"Mbok, ini biarin aja pakai api super kecil ya. Kalau yang untuk sarapan sekarang sudah matang semua." Mintarsih hanya masak balado udang tapi bilang sudah matang semua. Lebay juga nih tante.



Selain nasi goreng, mbok Marni membuat ayam goreng tepung.



Marni akan mengantar kopi dan teh ke ruang belakang.



Biasanya majikannya memang berkumpul disana sebelum ke  ruang makan.



Sedang sussu untuk Dinda langsung diantarkan ke kamar Dinda.



"Apa khabar Mas?" sapa Mintarsih saat melihat Eddy hendak ke ruang belakang.



"Maaf siapa ya?" kata Eddy, karena sudah sangat lama dia tidak berjumpa dengan sepupu istrinya itu.



"Saya Mintarsih Mas," jawab Tasih.



"Oh apa khabar?" tanya Eddy berupaya terlihat ramah.


__ADS_1


"Baik Mas."



"Silakan, silakan ada perlu apa ini pagi-pagi?"



"Enggak cuma main."



"Oh main. Silakan," kata Eddy.



Eddy biasa olahraga pagi dulu jalan tanpa alas kaki di bebatuan belakang rumahnya.



Eddy memang membuat satu kotak khusus berisi bebatuan untuk dia jalan pagi.



"Saya olahraga dulu ya. Saya nggak sempet bergerak lama jadi kalau pagi harus olahraga." Ucap Eddy.



"Silakan Mas."



Eddy langsung menuju kotak kecil berisi bebatuan dia membuka sandalnya dan mulai sedikit jogging di lokasi yang buat olah raga ringan itu.



'*Ah dia makin ganteng setelah makin bertambah umur*,' kata Tasih dalam hatinya melihat kakak sepupu iparnya itu sedang olahraga pagi.



Marni meletakkan kopi dan teh di meja teras silakan minum Bu. Ini ada tehnya," kata Marni.



"Oh ya terima kasih,"  katanya Tasih. Dia melihat ada dua teh di sana. Satu dengan gelas spesial dan satu menggunakan cangkir tamu.



'*Ah aku jadi lupa belum bikinkan kopi pahit untuk Mas Eddy*,' Tasih menyesal lupa membuatkan kopi untuk Eddy.



Tak lama Eddy berolah raga, biasanya tiap hari dia hanya membutuhkan waktu  selama 10 sampai 15 menit. Biasanya setiap pagi dia lakukan seperti itu.



Eddy melakukan pendinginan dan duduk di teras. 



Eddy mengambil teh yang ada di gelasnya, teh dengan madu.



"Loh bukan minum kopi Mas?" Tasih bingung, dia sudah menyodorkan cangkir kopi untuk Eddy.



"Enggak saya minum teh dulu aja pagi ini," jawab Eddy. Eddy sudah tahu skenario yang dibuat Dinda sehingga dia tidak bilang tidak minum kopi saat pagi. 


Untuk penggemarnya mas Sonny dan caca Adelia di novel berjudul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE



baca sequel tentang Mukti, Vio dan Komang di cerita baru berjudul CINTA TANPA SPASI yaaaaa


__ADS_1


__ADS_2