
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
"Pak Shindu kemarin saya lihat ada tamu dia cari CEO atau marketing, siapa dia dan dari mana?" Dinda yang baru saja tiba di kantor bertanya pada Shindu yang bertemu di lobby. Shindu membawa berkas untuk ke ruangannya Pak Eddy.
"Oh itu Viola Bu, dari PT Kharisma Sejahtera. Dia mau minta bertemu dengan Ronald atau Pak Eddy."
"Pak Eddy tidak mau kalau belum ada rekomendasi dari saya kalau sekarang kan dari Ibu."
"Terus kemarin ketemu Ronald-nya enggak Pak?"
"Belum Bu. Kemarin Ronald kelapangan. Hari ini saya jadwalkan untuk bertemu langsung dengan pak Eddy kalau Ibu kasih ACC," Shindu menjawab lugas.
"Jadwalkan ketemu saya jam 09.00 pagi kalau nggak bisa, batal tak perlu datang lagi kapan pun," Dinda memberi instruksi tanpa belas kasihan.
"Tapi Bu tinggal 20 menit lagi," kata Shindu. Dia prepare dimarahi calon klien.
"Makanya jangan buang waktu, langsung hubungi dia. Dia bisa syukur nggak bisa ya sudah. Saya nggak butuh," kata Dinda lalu masuk ke lift bersama Adit yang hanya bisa nyengir pada Shindu.
Shindu hanya bengong sesaat, dia langsung mengontak PT Kharisma Sejahtera dari telepon resepsionis di lobby. Akan buang waktu bila dia harus menghubungi dari ruangannya atau dari ruang pak Eddy.
Shindu mengatakan pada PT Kharisma Sejahtera bahwa Ibu Wakil CEO bisa menemuinya jam 09.00 atau tidak bertemu sama sekali untuk seterusnya.
\*\*\*
Sampai di ruangan Dinda langsung mengutak-ngutik mencari data Viola dan PT Kharisma Sejahtera.
Setelah mendapat nama Kharisma Sejahtera, Dinda mencari jati diri Viola Ferianti.
Dinda tersenyum kala melihat jati diri perempuan itu.
Juga track record kerjasama PT Kharisma Sejahtera dengan perusahaan lain.
Dinda juga langsung mencari media sosialnya Viola.
"Bingo! Dapat!" kata Dinda dengan senyum mengejek.
Di media sosialnya Viola, Dinda melihat banyak foto-foto yang memukau buat pria.
"Oke sudah dapat," kata Dinda lalu dia pun membuat kumpulan data langsung dia print.
__ADS_1
Adit melihat senyum puas di wajah istrinya saat menghampiri mesin print yang sedang bekerja. Adit kembali memperhatikan data di komputer yang kemarin Dinda minta untuk dia revisi.
"Pak Shindu jangan lupa meeting kita jam 10.00 nggak boleh terlambat dan snack jangan telat," kata Dinda di intercom.
"Iya Bu baik," jawab Shindu.
"Bu ini orang Kharisma Sejahtera, Ibu Viola dan pak Krisnawan sudah hadir," lapor Shindu sekalian.
"Terlambat sepuluh menit, silakan masuk saja. Waktu mereka hanya tiga puluh menit karena saya akan meeting." Viola dan Krisnawan mendengar apa yang ibu Dinda katakan pada Shindu. Mereka sudah berjuang naik motor agar bisa datang tepat waktu.
"Silakan!" Adit melihat Dinda sudah siap dengan amunisinya
Adit tenang saja di meja kerjanya.
"Eh, Adit ada di sini?" Viola melihat Adit ada dalam ruangan itu.
"Silakan duduk Bu. Ibu perlu bertemu dengan wakil CEO kan?" tanya Adit sambil bicara datar.
"Iya aku ada butuh dengan wakil CEO, kemarin CEO nggak mau bertemu aku kalau belum di ACC wakil CEO."
"Oh wakilnya perempuan?" Viola memandang rendah calon yang akan ditemui.
"Sama seperti kamu kan, kamu wakil ayahmu, perusahaan milik pamanmu kan?" kata Adit.
"Iya aku kan anak tunggal Ayahku," kata Viola dengan bangga.
"Bu Dinda waktunya mepet dia banyak yang akan dikerjakan, jadi nggak usah kebanyakan mulut," kata Adit, Krisnawan hanya melihat Adit dengan sinis.
\*\*\*
Setelah berkenalan dengan basa-basi Dinda bertanya : "Mau menawarkan proyek jiplakan apa?"
"Maksud Ibu apa ya?" kata Krisnawan sengit karena perusahaannya diejek seperti itu oleh Dinda.
"Saya sudah melihat rekam jejak perusahaan anda. Perusahaan anda hanya membuat replika atau jiplakan untuk semua proyeknya."
__ADS_1
"Saya sudah cek data perusahaan anda dari 5 tahun lalu. Semua sudah ada di tangan saya."
"Semua adalah hasil jiplakan. Saya bisa tunjuk proyeknasli yang dijiplak. Maka saya tanya apalagi yang ingin anda tawarkan buat kami?"
"Tak ada otak original buat bikin proyek baru? Bahkan masalah kampus aja berbohong ngaku pernah satu kampus dengan Adit padahal hanya teman satu SMP." Jelas Dinda santai. Adit tak menyangka kalau Dinda bisa melihat data Viola.
Viola langsung menggebrak meja kerja Dinda.
"Kamu pikir kamu siapa?" Bentak Viola.
"Saya pemilik semua saham di perusahaan ini, walau sekarang saya masih wakil CEO perlu buktinya?" tanya Dinda. Viola langsung kaget mendengar itu.
"Saya juga punya banyak foto jual diri anda lho. Apa proyek jiplakan bisa terjadi karena anda jual diri ya?" Dinda membeberkan kertas yang sejak tadi ada di meja secara terbalik.
"Kalau semua yang saya katakan salah dan tak ada buktinya, silakan tuntut saya dan bicara dengan pengacara saya."
"Saya punya rekaman anda menggebrak meja kerja saya. Saya bisa ajukan ke lembaga hukum dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan karena membuat saya merasa tak aman. Semua terekam di CCTV."
Viola ingat bahwa Adit pernah menjebak Phillipus dan Lianee dengan bukti CCTV. Dia pun langsung keluar tanpa pamit.
Dinda tersenyum sinis.
"Ternyata hanya segitu mental orang Kharisma Sejahtera keluar dari ruangan orang tidak pamit," Viola mendengar itu langsung keluar dengan membanting pintu.
Adinda tak mau membahas tentang Viola pada Adit.
Adit pun nggak mau peduli lagi, wong dia juga nggak punya hubungan dekat dengan Viola.
'*Benar kata Papa. Salah melangkah aku akan langsung masuk jurang dan tak bisa lagi tertolong*.'
Kemarin setelah Dinda pulang memang Adit dan Eddy bicara berdua.
Eddy menasehati Adit panjang lebar soal Dinda.
Sekarang terbukti semua yang Eddy bicarakan kemarin sore benar adanya. Hanya karena mendengar Viola bilang mereka lebih akrab dari pacar, Adinda langsung mencari semua data tentang Viola.
Benar-benar sosok yang tak bisa dipandang sebelah mata.
__ADS_1
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul JINGGA DARI TIMUR