
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
"Papanya kak Ina punya 3 anak, yaitu Ina dan dua adik kembarnya."
"Ibu Tante punya empat anak, tiga anak pertama perempuan, Tante nomor 3 dan sibungsu laki-laki," kata Mintarsih.
"Kalau Lilis dia dua bersaudara. Lilis yang bungsu." Mintarsih menjelaskan silsilah kekerabatannya dengan mama ya Adit.
"Oh gitu ya Tante."
"Iya kalau di keluarga Ibuku nggak ada yang kembar. Kakaknya Lilis nomor 2 kembar tapi meninggal saat di kandungan."
"Tante kenapa jarang ke sin" tanya Dinda.
"Tante punya kisah sedih dengan Adit jadi aku malas ke sini," jawab Mintarsih lirih.
"Loh kisah sedih apa Tante? Emang Mas Adit nakalin Tante?"
"Enggak sih cuma secara kebetulan enggak sengaja Aditlah yang membuat Tante sering sedih sehingga Tante malas ketemu atau melihat Adit."
"Oh gitu kirain mas Adit nakal sama Tante sampai Tante nggak suka sama Mas Adit."
"Adit nggak nakal cuma dia menoreh luka teramat dalam ke Tante." wajah Mintarsih langsung sedih saat dia bicara seperti itu.
"Tante kok sampai punya persoalan yang menoreh luka seperti itu. Kalau begitu Tante bukan saingan tante Lilis buat dapetin papa ya."
__ADS_1
"Enggak mungkin kan Tante jadi ibu sambungnya mas Adit sedang tante terluka sama mas Adit?"
"Emang cerita lukanya seperti apa sih?"
"Anak kakak sulung Tante dulu main sama Adit, entah bagaimana kepala Adit bocor."
"Adit yang terluka dibawalah ke rumah sakit sama Ina. Keponakan Tante ketakutan karena dia yang dorong Adit."
"Padahal Ina sama Eddy enggak marah, namanya anak-anak bermain. Saking takutnya keponakan tante sampai demam."
"Keponakan Tante benar-benar trauma main sama Adit. Itu yang bikin Tante jadi sedih."
"Iya sih."
"Kalau keponakan Tante sampai ketakutan sendiri, itu berarti bukan salah Mas Adit. Karena mas Adit, mama Ina dan papa kan enggak marah ke keponakan Tante. Jadi harusnya Tante enggak perlu terluka kalau lihat mas Adit," Dinda berupaya bersikap netral.
Aneh aja, keponakannya yang ketakutan, kenapa Mintarsih terluka ama Adit?
Kan Adit, mamanya juga papanya enggak marah apalagi minta ganti biaya rumah sakit.
"Iya bukan salah Adit tapi kan karena ketakutan, keponakan Tante jadi demam."
"Udah Tante, cuma demam saat anak-anak gitu lupain aja Tante. Mas Adit, mama Ina sama papa kan enggak marah atau minta ganti biaya rumah sakit."
__ADS_1
"Iya mereka terlalu baik." Sahut Mintarsih.
"Iya papa sangat baik makanya dapat mama Ina yang baik. Semoga aja papa tetap baik kalau nanti nikah sama tante Lilis." Dinda terus mengajuk hati Mintarsih.
\*\*\*
"Sekarang Tante permisi dulu ya." Mintarsih bersiap pamit.
"Eh boleh tahu papamu suka apa?" tanya .Mintarsih.
"Wah kalau aku sih nggak terlalu deket sama papa Tante. Enggak enak dekat-dekat sama mertua laki-laki. Nanti jadi bahan omongan orang."
"Kalau Tante mau tahu soal papa, sebentar aku panggil Mbok Marni yang dari dulu sudah lama kerja di sini."
"Mbok yang lainnya baru Tante jadi belum hafal kebiasaannya papa."
"Pak Dadang tolong panggilin mbok Marni," kata Dinda, kebetulan di situ ada Dadang.
Memang Adinda menugas kan ada orang yang tak jauh dari dirinya.
"Ya Mbak Dinda," jawab Dadang yang segera berlalu guna memanggil Marni.
Semua sudah ada dalam skenario yang Dinda susun.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY !
__ADS_1