
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Adinda mampir ke swalayan untuk membeli banyak kebutuhan pribadinya yang sudah habis.
Adinda membeli roti dan smoke beef, selada dan tomat segar juga saus sambal.
'*Beli satu buat siapa ya? kan enggak kayak dulu aku sama Mas Radite, aku dlsekarang sendirian. Tapi kepengen roti isi smoke beef pedas. Gimana dong*?'
'*Besok aku bawa aja lah. Aku bikin, pagi aku berikan pada Papa Shindu dan Mas Adit aja biar satu bungkus habis sekalian*.'
Adinda membeli smoke beef yang tebal agar kenyang, sliced cheese dia juga membeli thin wall kecil-kecil pas untuk ukuran roti besok.
Adinda akan memberikan untuk Shindu Radite dan Eddy.
'*Oh kalau gitu aku harus beli saus sambal yang sachet agar tidak berantakan*,' pikir Adinda.
Sebelum pulang tak lupa dia membeli pembalut. Karena dia harus bersiap mendapat tamu bulanan.
Seharusnya satu minggu lalu dia sudah menstruasi, tapi bulan ini belum.
Adinda ingat, dia terakhir berhubungan badan dengan suaminya sebelum Radite pergi ke Bengkulu itu Tepat satu bulan lalu, atau lima minggu lah.
'*Apa jangan-jangan … jangan-jangan*,' Adinda galau.
'*Tapi kan kemarin hasil test nya mas Adit dia mandul! Enggak mandul sih, cuma sangat lemah*.'
'*Kalau iya gimana*?' Adinda iseng mampir ke Apotek.
"Minta yang akurasinya bagus ya Mbak," pinta Adinda.
"Ini yang terbaru Bu dan akurasinya bagus, expire date nya juga masih lama," jawab penjaga Apotek.
"Baik terima kasih," Adinda dia pun meninggalkan apotek.
"Aku harus ngetes besok pagi."
\*\*\*
"Kamu berikan ini ke ruangannya Pak Shindu dan yang ini kasih ke Pak Radite ya di administrasi gudang."
"Baik Bu."
"Bilang saya memberikan buat kamu, Pak Radite dan Pak Shindu bukan hanya ke Pak Radite. Ingat ya," kata Adinda pada satpam. Dia memang juga memberikan satu bungkus roti isi smoke beef untuk satpam itu, selain untuk Shindu dan Radit.
"Baik Bu, terima kasih sarapan ya," jawab si satpam.
\*\*\*
Adinda langsung menuju ruangannya meletakkan tas juga roti miliknya. Tadi di rumah dia sudah makan lalu dia membawa bekal di thinwall juga untuknya, selain yang dia buatkan untuk Eddy.
__ADS_1
"Selamat pagi Pa," sapa Dinda.
"Hei, pagi Dind, tumben pagi-pagi ke ruangan Papa." Sapa Eddy yang baru tiba.
"Aku bikinkan roti korned kesukaan Papa," Adinda meletakkan thinwall di meja Eddy. Eddy kurang suka roti isi smoke beef, dia lebih suka roti isi kornet atau isi daging giling yang dimasak sendiri seperti daging isi burger.
"Aku mau bicara boleh Pa?"
"Ada apa Dind?" Eddy balas bertanya.
"Apa bicara harus pakai alasan?" Adinda kembali bertanya.
"Aku mengalami big trouble Pa," keluh Adinda.
"Kamu kenapa?" Eddy cukup kaget mendengar "putri" kesayangannya menghadapi persoalan besar.
"Papa sarapan dulu aja," jawab Adinda. Dia bingung harus memulai dari mana.
"Jadi maksudmu bagaimana?" setelah Adinda cerita panjang lebar maka Eddy bertanya apa langkah mereka selanjutnya.
"Aku mau Papa temani aku ke dokter kandungan yang memberi keterangan ini pada Papa," kata Dinda sambil memegang copy surat keterangan kesuburan Radite minggu lalu.
"Oke baik," jawab Eddy, dia langsung menghubungi dokter itu menggunakan ponselnya.
"Kita dapat jadwal konsultasi jam 01.00 siang. Pas habis makan siang." Ujar Eddy.
"Oke," Eddy tak keberatan. Eddy tak menyangka akan menghadapi persoalan seperti ini, di luar dugaannya.
"Aku kerja dulu Pa. Jam sebelas kita keluar ya, biar enggak telat," Adinda pun pamit dari ruangan mertuanya.
\*\*\*
"Apa khabar Pak Eddy?" Tanya dokter kandungan itu. Dia sangat mengenal Eddy karena ayahnya teman baik Eddy saat sekolah dulu.
"Baik, sangat baik," kata Eddy.
"Saya mau tanya tentang hasil lab anak saya ini," Eddy memberikan hasil pemeriksaan lab yang dikirim oleh dokter tersebut untuknya. Hasil test dari laboratorium di rumah sakit itu."
"Ada apa dengan hasil test ini? Apa yang mau ditanya?" Tanya sang dokter.
"Benar, saya ingin tanya prosentase dia bisa membuahi itu berapa persen ya Dok?"
"Pak Eddy di sini jelas tertulis putra Bapak bukan steril ya. Dia tidak steril, dia lemah. Dan kemarin dia sudah datang lagi sendiri atas perintah Bapak katanya."
"Dia bukan steril tapi memang probabilitasnya sangat kecil. Walau tiap hari *coitus* atau making love, belum tentu akan berhasil membuahi karena kelemahannya itu."
"Sekitar 30% kasus infertilitas adalah disebabkan oleh masalah ketidak suburan pada pria. Penyebab infertilitas pada pria umumnya disebabkan oleh gangguan hormonal, fisik, serta fisiologis."
"Tapi tidak menutup kemungkinan bisa terjadi pembuahan walau pun hanya satu kali *coitus*. Itu kuasa Allah yang kita enggak tahu kapan ada spermatozoa yang bisa survive menemui ovum atau sel telur." Kata dokter itu dengan rinci dan pelan agar pasien tidak salah menangkap keterangan yang dia berikan.
__ADS_1
"Ada apa sebenarnya?" Tanya Dokter tersebut.
"Saya takut suami saya menuduh saya selingkuh karena dia sudah menerima keterangan itu dengan asumsi dia mandul bukan lemah."
"Padahal sekarang ini hasil yang saya miliki," kata Adinda sambil menyerahkan dua testpack yang dia gunakan tadi pagi.
"Papa sudah bilang dia lemah Dind, bukan mandul koq," Eddy berupaya terus menghibur Dinda yang sejak pagi merasa sangat ketakutan dibilang sama dengan Shalimah karena hamil setelah bercerai dengan Radite.
"Oh itu nggak apa-apa sudah tenang aja Kalau memang dia merasa bukan ayah bayi ini, ngapain kita mikirin kayak gitu?"
"Sekarang fokus kita pada bayi yang ada aja Bu. Ibu sudah satu tahun menikah kan? Seharus nya ini anugrah terbesar buat Ibu."
"Ibu sedang hamil kalau dari hasil testpack ini, belum saya periksa tapi saya tekankan ibu harus bahagia agar janin Ibu bisa tumbuh sehat."
"Mari kita lihat benar enggak hasil test itu."
"Sust, bantu Ibunya ke bed pemeriksaan," pinta dokter pada suster.
"Ibu, Bapak, ini benar Ibu positif. Di rahim Ibu ada malaikat kecil berusia enam minggu."
Adinda dan Eddy tak bisa berkata-kata. Mereka kaget dan bahagia mendengar hasil pemeriksaan Adinda.
"Enam minggu kan masih ada Radit," kata Eddy.
"Betul Pa, sebelum berangkat ke Bengkulu memang seperti biasa Mas Radit pasti setor. Kalau enam minggu berarti satu minggu sebelum dia berangkat Pa," sahut Adinda.
"Berarti memang ini punya Radit. Kenapa kamu takut dan ragu?"
"Aku takut dia tak percaya Pa."
"Ibu ini sudah enam minggu dan mereka sehat. Ibu tak merasa keluhan apa pun?"
"Mereka Dok?" tanya Eddy cepat tanggap.
"Betul, ini MEREKA, Pak Eddy. Lihat ini mereka," jawab dokter sambil menunjuk dua lingkaran super kecil di layar monitor.
Adinda dan Eddy tentu saja bahagia tak terkira.
"Terima kasih Dok," Eddy menerima resep untuk kekuatan kehamilan Adinda juga vitamin karena Dinda tak mengalami keluhan.
\*\*\*
"Tadi dokter bilang walau tiap hari, karena lemah memang bibit Radite tak selalu bisa membuahi. Untungnya kita uji test DNA berkaitan dengan rencana Papa membuat warisan. Papa takut kalau Bram anak Adit maka biar bagaimana pun Papa wajib nafkahi dia."
"Begitu hasil keluar ya Papa plong enggak punya cucu dari sampah seperti Shalimah."
"Aku minta, kita keep secret Pa. Aku tak ingin memberitahu dia dulu. Biar aku memiliki mereka sendirian dulu." Pinta Adinda.
"Kamu enggak sendirian, ada Papa, eyang mereka!" Jelas Eddy tak mau Adinda sendirian. Dia akan menjaga calon cucu-cucunya.
Eddy tahu bayi kembar ini keturunan dari gen ibu mertuanya. Adik iparnya kembar. Dan keponakannya juga kembar. Jadi tak aneh bila anak Radite pun kembar.
__ADS_1