
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
Saat itu tiga orang polisi perempuan masuk ke ruangan.
Tasih tentu tak mau ditangkap begitu saja dia langsung menarik Lilis yang berada didepannya.
Lilis tentu tak mau menjadi tameng oleh Tasih.
Petugas polisi juga cepat bergerak. Tanpa kesulitan mereka bisaa melumpuhkan Tasih yang langsung diborgol di depan seluruh keluarga besarnya.
Tasih tak menyangka tertangkap didepan semua yang ada di situ. Langsung didepan kakak kakak nya. Malu tak terhingga dan tak bisa berkelit kalau seperti itu.
"Maaf Pakde, Bude Om, saya terpaksa mengatur kejadian ini pada acara pertemuan semua keluarga seperti ini, karena saya tidak ingin Dinda dibilang menzholimi tante sendiri karena membuatnya di penjara."
"Saya ingin semua tahu bahwa istri saya tak pernah mau menyakiti orang lain. Dia penuh kasih sayang."
"Saya tak mengerti mengapa tante Tasih ingin membunuh saya dan akhirnya mengalihkan pada dia. Jadi mohon maaf saya harus membuka di depan semua orang agar tak ada dugaan buruk lagi pada kami."
"Saya tak ingin ada keluarga yang menuduh saya, terutama istri saya tercinta telah menuduh tante sendiri. Kami bertindak begini karena bukti sudah kami miliki secara lengkap," Adit menutup pertemuan itu setelah meminta maaf.
Akhirnya semua mengerti bagaimana Tasih mencoba membunuh Adit tapi dialihkan ke Dinda. Semua tak percaya Tasih sedemikian dendam pada Adit karena kematian dari keponakannya, saat ayah dan ibunya Irwan sama sekali tidak marah pada Adit.
Orang tua Irwan malah merasa bersalah karena Irwan yang membuat Adit celaka, Eddy dan Ina tidak marahi mereka apalagi memarahi Irwan saat itu.
Jadi kematian Irwan karena dia sendiri yang ketakutan bukan karena keluarga Eddy dan Ina.
Selesai sudah permasalahannya sekarang tinggal pengajian untuk umum semua bahagia karena pengajian untuk umum selesai dengan baik.
Hari ini si kembar dan juga dengan ayah dan bundanya serta kakek menggunakan baju biru langit.
Saat memesan kemarin yang ada untuk bayi warna biru langit lalu saat hari Sabtu acara untuk anak-anak pengajian anak-anak mereka menggunakan hijau tosca seperti keinginan Adit yang kebetulan ada stoknya.
__ADS_1
Seperti permintaan Dinda, amplop untuk anak-anak juga diberikan dari uang pribadinya Dinda sesuai dengan keinginannya yaitu mengucapkan syukur karena dia selamat dari kecelakaan.
Adit tak berkeberatan begitu pun Eddy pada saat Dinda memberitahu apa yang dia inginkan pada Eddy.
\*\*\*
"Jadi mulai hari Senin kamu beneran mau kerja?" Tanya Eddy. Mereka baru saja selesai mengadakan pengajian dengan anak yatim.
"Iya Pa, aku akan mulai kerja," jawab Dinda mantab.
"Apa nggak berhenti aja total?"
"Oh nggak bisa Pa, jangan suruh aku berhenti total nanti aku jadi emosian."
"Benar menjaga dan mengasuh anak nggak akan ada selesainya dan tugas sangat mulia. Tapi kalau aku cuma diam di rumah itu mematikan semangat hidupku."
"Lebih baik aku kerja tapi juga menjadi ibu rumah tangga secara bersamaan. Aku janji nggak akan menelantarkan anak-anakku."
"Enggak bisa Pa. Pekerjaan adalah juga inspirasiku untuk mengasuh anak-anak."
"Biarkan aku menjalaninya, kalau sudah tak sanggup aku akan mengangkat bendera," kata Dinda.
"Ini bukan soal penghasilan yang aku beratkan, tapi aku nggak mau dirumah gitu aja."
"Kalau Papa enggak izinkan aku kerja dikantor Papa, aku akan resign dan aku cari pekerjaan di tempat lain." Jelas Dinda.
Adit diam saja. Masalah ini sudah dia bahas dengan Dinda jadi dia sudah tahu soal keputusan istrinya.
Adit tak ingin Dinda bekerja di perusahaan lain.
"Maksud Papa bukan kamu keluar, karena perusahaan itu milikmu. Kamu yang berhak mengelola. Saat anak-anak butuh attensimu penuh kamu vakum dulu."
__ADS_1
"Nanti anak-anak agak besar baru kamu kembali bekerja."
"Kapan anak-anak bisa ditinggal? Saat kecil seperti sekarang mereka butuh attensi, lebih besar attensi akan butuh semakin besar. Lalu saat remaja mereka harus dalam WASKAT agar tak tergelincir, dan saat semakin dewasa mereka full harus didampingi karena mereka sedang mencari jati diri."
"Kita harus full sejak mereka dalam kandungan Pa. Tapi bukan berarti kita dekat sepanjang hari secara fisik!"
"Mereka lebih butuh kedekatan emosional," jawab Dinda bijak.
Eddy diam. Dia membenarkan semua yang Dinda katakan.
"Dan kalau aku lama enggak kerja, saat masuk lagi aku kana banyak *miss*, banyak kehilangan, banyak yang harus aku kejar karena aku sudah enggak ngerti perkembangan."
"Sejak Adit melakukan kesalahan, perusahaan itu milik kamu. Tapi begitu kedua anak ini hadir, Papa mengalihkan kepemilikan menjadi milik keduanya."
"Pengelolaan dan pengawasan menjadi tanggung jawab kamu sepenuhnya hingga mereka siap menerima tongkat estafet."
"Jadi Papa sudah ubah lagi?" tanya Dinda tak percaya.
"Memang kamu tahu sebelumnya sudah diubah?"
"Tahu Pa, waktu itu aku pernah denger tapi aku nggak peduli pada harta. Aku pernah dengar saat Papa bicara dengan team pengacara bahwa semuanya jadi milik aku."
Sedang Adit tak peduli mau harta ini buat anak-anak atau istrinya. Dia yakin dia nggak sanggup mengelola perusahaan bila diberikan padanya.
Menurut Adit harta warisan itu harusnya dikelola agar lebih besar, bukan untuk dihabiskan.
Maka Adit tak keberatan harta itu jatuh ketangan istri atau anaknya sekali pun.
Selama Dinda yang bisa mengembangkannya, kenapa harus atas nama dia? Toh dia nggak butuh. Yang penting anak-anak dan istrinya terjamin.
\*\*\*
__ADS_1
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY