
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
"Sejak Mas belum tahu kalau dia bukan anak Mas aja, foto Bram enggak ada di ponsel ini. Mas selalu minta simpan di ponsel Shalimah aja."
"Takut ketahuan aku ya Mas?" Tanya Dinda serius.
"Jujur salah satu alasannya itu. Tapi kalau boleh jujur, bahkan sejak dia lahir Mas enggak punya greget langsung menghampiri. Mas datang dua hari setelah Bram lahir."
"Mas bahkan enggak punya niat buat aqiqahin dia sama sekali. Lalu ada beberapa foto yang Shalimah kirim, tapi sejak tahu dia bukan anak Mas, langsung Mas hapus semuanya."
"Padahal aku pengen lihat wajah Bram seperti apa."
"Dia putih, wajahnya bulat dan matanya sipit. Sepertinya Mas curiga dia anak lelaki yang sering menginap di rumah."
"Mas tahu ada lelaki menginap di rumah?"
"Mbok Asih cerita saat Mas mau keluar rumah. Mbok cerita hampir tiap malam lelaki itu ada. Sebelumnya mbok enggak berani cerita karena dia diancam Shalimah."
"Padahal kalau mbok Asih bocorin lalu tinggalin Bram, kan enggak ada yang urus anak itu."
__ADS_1
"Mbok Asih kasihan ke Mas kalau dia pergi. Pasti Mas yang harus urus Bram full. Begitu pikiran dia. Karena mbok Asih tau Shalimah enggak pernah satu kali pun pegang Bram apalagi mengurusnya."
"Shalimah enggak pernah mau pajang foto kami bertiga apa lagi hanya berdua dengan Bram. Jadi kalau kita cari di semua media sosialnya enggak bakal ada. Mungkin mbok Asih menyimpan foto anak tak bersalah itu," ucap Adit.
"Pernah satu kali Mas datang agak pagi karena habis ketemu klien dan posisi dekat rumahnya. Saat itu Mas ketemu sama bule mata sipit perut gendut yang siap keluar rumah Mas."
"Saat Mas tanya siapa dia, Shalimah bilang orang nawarin ganti mobil."
"Ya udah enggak usah dicari fotonya Bram enggak apa-apa Mas, yang penting jangan diulangi lagi ya."
"Iya Yank. Hati dan pikiran Mas udah berantakan merasakan pembalasanmu. Sudah Mas bilang kan kalau bicara itu hati-hati. Waktu kamu bilang balas dendam Mas merasakan takut."
"Dunia Mas terbalik, rasanya cukup pembalasan dendammu ya Yank. Jangan lagi. Mas sampai enggak punya keinginan buat hidup saat kamu koma."
Dinda melihat memang wajah Adit sangat tirus dan pucat.
"Begitu besar balasan yang kamu lakukan Yank. Kalau tidak dilarang papa, Mas ingin bunuh orang yang menabrakmu. Tapi papa bilang jangan. Dalangnya aja yang harus dihancurkan."
"Dalang? Maksud Mas apa?"
__ADS_1
"Jadi kamu bukan korban tabrak lari. Melainkan target pembunuhan, paling tidak celaka lah. Dari CCTV pelaku tertangkap. Itu pertama Mas keluar dari rumah sakit. Buat urus dia."
"Lalu dia ngaku, yang nyuruh Muchtar, dulu team Mas di marketing. Sepertinya dia dendam pada papa karena diturunkan jadi office boy."
"Lalu kamu lah yang jadi target. Atau bisa juga dia dendam padaku karena aku enggak belain dia."
"Sampai sekarang Muchtar belum tertangkap. Itu sebabnya penjagaan kamar bayi dan kamar ini sangat ketat."
"Bahkan Mas belum sempat ke apartemenmu buat bilang terima kasih. Mas rasa, sakit yang Mas rasa saat kamu balas dendam kemarin, cukup membalas semua kesalahan Mas masa lalu ya?"
"Mas akan selalu jujur padamu. Kebersamaan dengan Shalimah kan terjadi sebelum kita nikah dan yang kebelakang itu buntut jebakan dia aja. Please maafin Mas. Mas enggak sanggup lagi kalau kamu terusin balas dendam lagi."
"Mas takut kehilangan kamu." Ucap Adit dengan sangat lirih
"Mas ingin anak-anak kita bahagia." Lanjut Adit, Adinda hanya tersenyum tanpa menjawab apa pun.
\*\*\*
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel keren karya teman yanktie yang bernama LICHALIKA
dengan judul novel CINTA UNTUK TUAN ARGA ya
__ADS_1