REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
BERHARAPLAH YANG TERBAIK


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



Pagi ini Adinda masak lontong opor.  Iseng dia bawa ke kantor karena dia pikir dia masak sedikit sama  capeknya dengan masak banyak. Juga sekalian dia bawa buat *brunch* ( makan antara sarapan dan makan siang ) dirinya yang selalu kelaparan di waktu itu.



Tadi malam dia sudah minta bikin lontong kepada pembantunya melalui pesan. Adinda tinggal di apartemen sendirian, ada pembantu pergi pulang yang datang hanya untuk bersih- bersih saja. Karena baju dimasukan di laundry.



"Pa, aku bikin lontong opor banyak banget. Aku bawain buat Papa makan pagi atau makan siang terserah." Adinda meletakkan tumpukan thinwall berisi lontong dan kuah opor yang masih terpisah."



"Kenapa masak banyak seperti ini?" Eddy melihat tiga porsi lontong opor ada di mejanya.



"Enggak tahu Pa. Bawaannya  pengen masak aja." Jawab Adinda .



"Walah perempuan ini," goda Eddy.



"Papa enggak suka kalau mereka  perempuan?"



"Papa tentu suka. Laki-laki mau pun perempuan, Papa tetap suka."



"Enggak tahu Pa, pengennya makan dan masak aja.  Laki-laki juga banyak yang jadi chef kok Pa."



"Apa memang wajib laki-laki karena Papa butuh pewaris?"  Adinda jadi tak enak bila anaknya tak memenuhi keinginan papa mertuanya.



"Lelaki atau perempuan tetap sama. Buktinya kamu lebih hebat dari Radite." Hibur Eddy. Dia tak ingin Adinda galau karena ucapannya tadi.



"Ya udah kalau gitu Pa. Aku pamit. Itu buat Shindu dan mas Adit juga. Tapi terserah Papa sih mau kasih siapa aja. Bilang aja aku lagi demam masak gitu aja nggak usah cerita apa pun."



"Oke siap boss," goda Eddy sambil mengangkat tangan di atas alisnya seperti melakukan hormat bendera.


\*\*\*



"Shindu kamu kesini," pinta Eddy pada sekretarisnya.



"Iya Pak," dengan cepat Shindu bergegas ke ruangan bosnya.



"Panggilkan Radite. Aku ingin bicara."



"Baik Pak."



'*Kenapa sih bukan telepon ke pak Usman sendiri? Tinggal pencet nomor gudang kalau enggak mau langsung ke hape nya Radite*,' Shindu hanya bisa menggerutu dalam hati sambil masuk ke lift untuk turun ke gudang.


__ADS_1


"Pak Usman, saya diminta memanggil pak Radite," kalau hanya berdua Shindu tetap menyebut Radite dengan Pak. Rasanya tak sopan dia menyebut langsung nama anak tunggal bos nya itu.



"Silakan pak Shindu."



"Dipanggil Bapak," Shindu tak menyebut nama Radite saat berdiri di depan kubikel pria itu.



"Oke baik, saya pamit dulu ke pak Usman," jawab Radite.



"Pak Usman, saya dipanggil pak Eddy," Radite tak tahu mengapa pagi ini papanya kembali memanggil dia. 



"Iya Dit. Silakan,"  dengan tidak enak hati pak Usman menyebut Radite tanpa embel-embel Pak didepan namanya, karena biar gimana pun Radit adalah anak pemilik perusahaan tempatnya bekerja.


\*\*\*



"Kamu ke ruanganku dulu Ndu," saat akan masuk lift Shindu menerima telepon dari pak Eddy.



"Iya Pak."


\*\*\*



"Ndhu, ini dari bu Dinda," Eddy memberikan thinwall berisi lontong opor yang masih hangat untuk Shindu.



"Terima kasih Pak, wah masih hangat."




"Duduk Dit, Papa mau tanya gimana hasil kamu dari dokter kemarin?" 



"Aku tuh bukan mandul Pa. Aku lemah," jelas Radite dengan wajah berbinar.



"Kan Papa udah bilang kamu lemah bukannya mandul. Terus Dokter bilang apa lagi?" Pancing Eddy.



"Jadi kata dokter memang kalau memang nggak jodoh walau udah dibikin tiap hari pun nggak akan jadi karena peluruku enggak kuat sprint untuk mencapai garis finish!"



"Tapi kadang bisa aja satu kali nembak bisa jadi walau kemungkinannya emang kecil kalau aku enggak berobat!"



"Jadi kemungkinan kalau aku jajan lalu nggak pakai pengaman karena merasa enggak bakal punya anak, itu salah besar. Karena tetap bisa jadi anak Pa."



"Kamu suka jajan?" Eddy tak percaya putranya punya kelakuan buruk.



"Enggak ini kan bicara kemungkinan. Yang ngomong seperti itu dokter Pa. Aku cuma menyampaikan yang dia bilang. Makanya Dokter bilang jangan sembarangan tebar benih." Sejak berhubungan dengan Shalimah, tak pernah Radite main dengan perempuan lain. 



Terlebih dia kemudian punya istri resmi. Tak pernah satu kali pun ada niat buat jajan dalam pikiran Radite. Bahkan dia tak pernah punya niat berselingkuh dari Dinda dengan orang baru. Dengan Shalimah kan sudah sejak dia kuliah tingkat awal. Sudah tujuh tahun dia nyelup Shalimah! Baru rutin dan tinggal bersama dua setengah tahun terakhir.

__ADS_1



 Dua perempuan sebelum Shalimah dia cicipi karena sama-sama cari pelarian dan tak ada dasar keterikatan apa pun.



Kalau butuh ya janjian lalu buang sampah. Begitu saja sebelum ada Shalimah. 



Sesudah dengan Shalimah, Radite tak pernah mendua. Sejujurnya Radite type setia bila tak diracuni Shalimah. 



Awal dia mendekati Adinda juga karena Shalimah tahu Eddy hanya mau punya menantu Adinda. Jadi Shalimah membujuk Radite mulai mendekati Adinda agar jalan mereka menguasai harta Eddy semakin mulus.



Seiring berjalannya waktu Radite mulai jatuh cinta pada kelembutan dan kepandaian Adinda



"Kalau seandainya sekarang ada perempuan yang hamil akibat perbuatanmu gimana?" Pancing Eddy.



"Maksud Papa gimana?" Selama ini aku nggak pernah jajan dan satu-satunya perempuan di luar istriku cuma Shalimah itu pun sekarang dia sedang tidak nggak hamil karena saat aku tinggal dia baru selesai menstruaasi." 



"Aku enggak mau juga kalau benih aku ternyata jadi sama Shalimah setelah tahu sepak terjangnya seperti itu Pa." Radite menyesal pernah percaya Bram adalah benihnya.



"Seandainya sekarang Dinda hamil gimana?" 



"Aku beryukur bangeeet Pa. Tapi gimana Pa, kan kami sudah cerai. Kalau dia hamil mana mau dia pertahanin karena itu anak aku. Tentu dia malu janda punya anak."



"Kali aja perjuanganmu kemarin sebelum Dinda tahu kamu sama Shalimah jadi."



"Alhamdulillah kalau emang ada keajaiban bibitku jadi Pa. Paling aku mikir gimana caranya buat melakukan pernikahan ulang. Tapi mungkin nggak ya Pa?"



"Tanpa dia hamil pun aku ingin kembali dengan dia Pa." Radite sangat menyesal setelah '*membuang*' Dinda. 



"Di kantor ini tak ada satu pun yang tahu kalian sudah bercerai. Tak ada, termasuk Shindu. Papa enggak ingin nama baik Adinda tercemar. Walau pasti banyak yang tahu kamu selingkuh dan punya anak. Karena mulut team-mu kan enggak bisa di stop."



"Kalau dengar keterangan dokter, mungkin aja kan titipanmu jadi. Walau kamu sudah bersama Shalimah lama tapi tak pernah jadi?"



"Wah aku senang banget Pa kalau titipan ku jadi. Aku berharap ada keajaiban seperti itu."



"Kalau ada keajaiban seperti itu lalu Dindanya mau nggak terima kamu yang sudah pernah selingkuh?"



"Iya Pa, aku sudah terlanjur salah pada Dinda. Aku berharap dia mau maafin aku." Radite berharap Dinda bisa memaafkannya, walau dia tahu itu sulit.



"Ya berharap lah yang baik-baik. Semoga aja harapanmu terkabul," kata Eddy.


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY


__ADS_1


__ADS_2