
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Pagi ini Radite dan mbok Marni jaga berdua karena Eddy nggak datang saat jam kerja kantor.
Tak ada sesuatu yang spesial satu hari itu. Dinda masih tetap seperti biasa. Diam tanpa reaksi.
Radite dan mbok Marni tetap berupaya mendekatkan si kembar pada Dinda. Terlebih saat mereka menangis.
"Den Mamas dan Den Ade jarang nangis ya?" mbok Marni menilai kedua majikan kecilnya jarang menangis.
"Mungkin mereka mengerti bahwa Bundanya sedang tidak sehat. Tapi biarkan aja. Tetap rangsang Dinda Mbok. Tengkurapin mereka gantian diselangkanya Dinda."
"Biar Dinda merasa ada sesuatu yang harus dia dekap."
"Iya tadi juga tangan yang bebas dari infus saya atur untuk memeluk den Ade," kata Marni.
"Iya Mbok, seperti itu aja terus. Kita harus rangsang Dinda."
\*\*\*
"Bund, anak-anak mau mandi loh. Bunda nggak mandiin mereka?" bisik Adit.
"Ayo bantuin Ayah mandiin anak-anak yuk," ajak Radite sore ini.
__ADS_1
"Bun anak-anak mau mimi nih. Ayah udah bikin mimiknya nanti kita buang anginnya ya. Kita bikin mereka sendawa supaya enggak kembung ya Bun," kata Radit lagi.
Begitu terus dia mengajak Dinda berinteraksi tanpa pernah bosan atau lelah.
\*\*\*
Jam kantor usai, Eddy selalu menyempatkan diri datang menengok menantunya. Terlebih sekarang ada cucunya.
Eddy datang hampir bersamaan dengan mbok Asih, yang baru datang dari kampung.
"Wah kok barengan," kata Radit.
"Pa, ini mbok Asih yang dulu pernah kerja sama aku ngerawat Bram. Mbok ini papaku," Radit pun memperkenalkan mbok dengan Eddy dan juga para mbok saling berkenalan antara sesamanya.
"Jadi nanti tugas kalian adalah menjaga anak-anak kami. Enggak usah mbok bertanggung jawab pada Mamas atau bertanggung jawab pada Ade pokoknya kalian saling mengisi," kata Radit.
"Nanti mungkin kalau Dinda sudah sehat dia akan mulai bekerja. Sama seperti aku tapi aku yakin Dinda akan terus merawat anak-anak tidak seperti Shalimah."
"Mbok Marni nanti cerita tentang Dinda dan Shalimah, kalian ceritain aja aku nggak sempat."
"Malam ini mbok Asih mulai tidur di rumah sakit denganku. Mbok Marni di rumah. Karena mbok Asih belum biasa bila dia yang harus di rumah."
__ADS_1
"Besok pagi mbok Marni datang kesini bawa sarapan dan makan siang kita bertiga."
Malam ini mbok Marni pulang bersama Eddy.
"Besok mbok Marni kesini biar kalian terbiasa pegang Mamas dan Ade. Tapi tetap aku dan Dinda akan pegang mereka juga."
"Saya tahu den Radite selalu pegang anak dengan *gemati* dengan *telaten*, saya tahu itu. Shalimah yang tak pernah pegang apa pun bahkan gantiin popoknya aja nggak pernah kalau ada saya atau ada den Radite. Memberi sussu juga nggak pernah."
"Kalau non Dinda sehat, itu tak akan pernah terjadi. Non Dinda pasti akan pegang semuanya," kata mbok Marni.
"Benarkah?"
"Iya makanan untuk bapak aja dia yang atur. Sebagai menantu non Dinda sangat perhatian dan sayang pada bapak."
"Kesehatan mertuanya dia utamakan. Padahal Shalimah itu kan anak angkatnya bapak."
"Seharusnya Shalimah lebih *gemati* pada bapak karena dia hidup dari bayi itu uangnya Bapak. Tapi nggak pernah perhatian sama sekali ke Bapak," kata mbok Marni.
"Ya ampun," mbok Asih tak percaya kalau Shalimah adalah adik angkatnya Radite.
"Makanya kalian berdua nanti bergosip rialah daripada dapat sumbernya dari aku," kata Radite sambil tertawa.
Tak lama mbok Mirna dan Eddy pulang.
__ADS_1
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang baru rilis dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY!