REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
KEHILANGAN


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


Empat bulan sudah Dinda pergi dari sisi Adit dan Eddy tak ada kabar berita apa pun.



Eddy semakin kurus.  Tubuhnya semakin lemah tapi dia tak mau kalah. Dia terus melawan dia tak mau berpisah dengan cucu-cucunya.



Hari ini jadwalnya gajian bagi semua karyawan perusahaan.  Kembali Adit dan perusahaan mentransfer uang gaji ke rekening Dinda.



Satu bulan sejak mereka tahu bahwa rekening itu tak pernah dibuka.



"Empat bulan kamu ngilang Yank. Empat bulan kalian tinggalin Ayah Nak,"  begitu Adit bicara setelah mengirim doa untuk keselamatan dan kesehatan istri dan anak-anaknya.



Adit menangis di sajadah. Dia sedih memikirkan anak-anak dan istrinya yang hilang.



"Apa kalian selamat? Apa kalian sehat?" Adit makin keras menangis dia tak sanggup menahan rasa sakit yang diderita saat ini.



Benar-benar balas dendam yang menyakitkan dari Dinda.



Balas dendam yang tak pernah terpikirkan oleh Adit.


\*\*\*



Adit memandang wajah tanpa ekspresi itu.



Wajah Eddy sang papa yang telah membeku.



"Papa tega Pa tinggalin aku sendirian. Aku butuh dukungan Papa. Aku butuh Papa mendampingi dan berjalan bersama bergandengan tangan untuk mencari Dinda dan anak-anak Pa. Papa kok tega sih?"



"Dinda dan anak-anak belum ketemu Pa. Gimana aku bisa cari sendirian tanpa Papa? Adit melihat wajah papanya yang telah berpulang.



"Sabar Pak, sabar," kata Shindu berusaha menghibur Adit setelah kepergian Eddy.



"Bagaimana mau sabar? Saya sekarang sendirian, anak dan istri juga nggak ada semua gara-gara perempuan nggak benar itu. Aku akan membalas dendam pada dia. Dia telah menghancurkan hidupku." Adit menjawab keras sehingga para pelayat mendengar dengan jelas perkataannya.



Usman yang mendengar itu hanya bisa terdiam memang semuanya adalah ulah keponakan istrinya yaitu Merrydian yang menggoda Adit walau pun sudah diberitahu bahwa Adit telah mempunyai istri sehingga membuat Dinda marah. 

__ADS_1



Karyawan lain hanya bisa terdiam mereka tahu bagaimana penderitaan Adit setelah ditinggal oleh Dinda dan anak-anaknya. Mereka juga tak menduga kepergian tiba-tiba dari Eddy saat ini.



Mbok Marni dan Mbok Asih hanya menangis di sudut dapur. 



Semua di rumah itu adalah wajah duka. Tak ada semangat dan tak ada senyum. Seakan kepergian Eddy adalah akhir segalanya.



Sampai malam suasana penuh duka, hanya ada gema suara orang mengaji.  Malam ini memang jenazahnya Eddy masih di rumah. Dia meninggal sore tadi. Adit terus menangis tak bisa berhenti.



Adit memikirkan bagaimana dia seorang diri tanpa anak, istri dan papanya.



"Papa kok tega sih Pa?" Hanya itu yang berkali-kali diucapkan Adit. 



"Aku enggak siap berdiri sendirian tanpa Papa. Gimana aku nyari anak anak dan Dinda?  Jangan tinggalin aku Pa.  Aku nggak sanggup." Engek Adit.



"Belum lagi urusan perusahaan. Aku nggak ngerti ngejalaninnya Pa. Aku takut salah padahal ini bukan punya aku tapi punya anak-anak," ucap Adit.




Tentu mereka tahu bagaimana takutnya Adit salah mengelola sehingga perusahaan menjadi bangkrut.



Para karyawan saling pandang dan yang makin tertusuk adalah Usman. Usman datang bersama istrinya biar istrinya tahu bagaimana kelakuan keponakannya membuat anak bosnya terpuruk.



Yang Usman tahu sekarang Merry sudah dibuang oleh kedua orang tuanya.



Merry ketahuan seorang perempuan yang suaminya sedang kencan dengannya. Merry dilabrak di mall dan di viralkan. Orang tuanya malu dna mengusirnya.



Sekarang nggak ada yang tahu bagaimana nasibnya Merry.


\*\*\*



Sampai malam masih banyak karyawan yang setia di ruangan itu menemani Radit termasuk Sindhu dan Rizal. mereka paling setia. Bahkan mereka sudah membawa baju untuk menginap karena tak mungkin membiarkan Adit sendirian tanpa Pak Eddy lagi.


\*\*\*



"Mas Adit makan dulu, sejak kemarin sore Mas Adit belum makan," kata mbok Asih.

__ADS_1



"Enggak Mbok terima kasih," jawab Adit lemah.



"Jangan seperti ini Mas. Mas Adit udah sendirian kalau Mas Adit sakit siapa nanti yang mau cari Mbak Dinda dan anak-anak?"



"Mas Adit nggak boleh sakit. Mas Adit harus kuat," kata Asih.



"Iya tapi saya nggak bisa nelan. Rasanya nggak kebayang aja saya hidup sendirian," jawab Adit.



"Mas nggak sendirian masih ada Mbak Dinda dan anak-anak cuma bukan dalam suatu ruang yang sama," kata Asih berusaha bijak.



Adit membenarkan kata-kata itu.



"Benar!  Mereka masih ada. Aku harus bangkit dan tak boleh terpuruk," kata Adit.



Adit lalu mengambil  dua buah lemper dan memakannya sebagai ganjel perut pagi ini.



"Jenazah mau dibawa jam berapa Mas Adit?"  kata Pak Miswan tetangga sebelah sekaligus pak RT.



"Jam  09.00 Pak.  Kemarin meninggalnya sore Jadi kita mau makamkan sebelum adzan zhuhur. Jam 10.00 tiba di pemakaman."



"Oh iya baik Mas," Pak Miswan pun memberitahu pada semuanya bahwa jenazah akan dibawa dari rumah jam 09.00.


\*\*\*



Ambulans dan mobil iringan jenazah tiba di pemakaman umum.  Lubang yang akan digunakan sudah ada dengan tenda dan beberapa kursi untuk yang tidak kuat berdiri. Rangkaian bunga serta bunga tabur juga sudah siap.



Adit ikut turun ke dalam liang untuk  mengantar papanya. Setelah naik dari liang lahat perlahan para penggali kubur mulai menutup liang dengan tanah sesikit demi sedikit.



"Papaaaaaaaaaaaaa …," teriak Adit.



Sampai tamat, Dinda enggak hadir yaaaa, Dinda hadir di novel judul baru GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN.


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN


__ADS_1


__ADS_2