
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
"Mbak Dinda ada tamu," lapor bik Siti pagi ini. Masih jam 08.12, Eddy dan Adit sudah berangkat kerja tentunya.
"Siapa?" Dinda sedang merapikan baju putra-putranya yang baru di setrika.
"Seorang ibu, tapi lupa saya tanya namanya." Bik Siti menjawab.
"Jangan pernah lupa. Itu hal penting karena kita harus mempersiapkan apa yang perlu bila tahu namanya."
"Suruh tunggu sebentar ya," Dinda berganti pakaian yang pantas. Tadi sehabis mengantar suaminya bekerja dia memang mandi dan hanya mengenakan daster saat di rumah.
Kalau ada Adit dia akan berpakaian yang pantas. Tak ribet tapi bukan daster.
Dinda memanggil mbok Asih dan mbok Marni melalui intercom dari kamarnya, untuk menjaga kedua baby-nya sementara dia menemani tamu.
\*\*\*
"Assalamu'alaykum," sapa sang tamu.
"Wa'alaykumsalam dengan siapa ya Bu?" Tanya Dinda ramah sambil mengulurkan tangannya.
"Saya sepupunya Ina."
"Oh dengan Tante siapa? Kok saya baru tahu ya," kata Dinda.
__ADS_1
"Saya Mintarsih, memang sudah lama nggak ke sini."
"Oh gitu Tante. Kenapa enggak pernah kesini kalau memang saudaraan sama mama?" Dinda bertanya karena memang sejak menikah dengan Adit dia belum pernah bertemu dengan ibu yang baru datang ini.
"Enggak enak aja sejak Ina enggak ada." Mintarsih menyebutkan alasannya.
"Sayang nggak pernah main ke sini Padahal tante Lilis sering ke sini loh Tante. Malah hampir setiap hari. Tante Lilis juga saudara mama 'kan?"
"Kayaknya tante Lilis dan papa semakin dekat aja. Lama-lama papa juga luruh kali mau jadian sama tante Lilis." Ujar Dinda. Sejak tadi ponselnya dia taruh di meja ruang tamu dengan posisi terbalik.
"Maksudnya mau jadian bagaimana ya?" Mintarsih minta diperjelas apa yang Dinda maksudkan.
"Silakan minum Tante," Dinda membantu bik Siti yang menaruh sirop dan cemilan di meja.
"Lho tanggapan kalian gimana sebagai anak-anaknya?"
"Kami enggak bagaimana-bagaimana Tante. Kami tuh manut aja, yang mana pilihan papa. Mas Adit nggak masalah tuh. Kalau papa mau nikah."
"Mas Adit enggak masalah kalau hartanya papa nanti buat istrinya. Karena sejak dulu mas Adit kan memang sudah dapat semua harta mamanya dan jatah dia sendiri."
"Kalau papa menikah lagi harta mas Adit enggak akan terganggu."
__ADS_1
"Saya sih cuma jadi mantu ya manut aja." Jawab Dinda santai.
"Jadi Lilis mau nikah sama mas Eddy?" wajah Mintarsih terlihat pias.
"Belum. Belum mau nikah Tante, cuma kayaknya mengarah ke sana."
"Tante Lilis dari mulai sarapan pagi sampai makan malam paling rajin ke sini. Makanya saya kenal dengan tante Lilis."
"Kalau Tante saya nggak kenal, baru sekali ini datang. Padahal saya sudah menikah lebih dari dua tahun," kata Dinda.
"Memang kalau Lilis ke sini ngapain aja?"
"Tante Lilis itu kan nggak bisa masak Tante. Kayaknya memang sebenarnya malas masak. Demi Papa dia belajar masak sama para bibik."
"Tante Lilis belajar masak kesukaan makanan papa, dia juga belajar kesukaan pakaian papa warnanya apa, pokoknya ya belajar jadi istri idaman papalah."
"Tante Lilis tuh belajar sama mbok Marni di belakang. Dia ikutin ke mana aja mbok Marni, dia belajar di rumah ini gimana caranya jadi nyonya rumah yang sesuai kemauan papa."
"Kalau pembantu yang lain kan orang baru. Ada yang baru beberapa tahun bahkan beberapa bulan aja. Hanya mbok Marni yang biasa di tanya tante Lilis sebagai acuan belajarnya."
"Iya, Marni itu sudah lama sekali ya disini."
"Dari mas Adit kecil. Entah umur berapa. Tapi memang sudah sangat lama."
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIED
__ADS_1