
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
Selanjutnya video beralih.
“Iya sini sayang sini, kalian bisa kok, kamu bisa,” suara Dinda terdengar membantu Ghibran saat belajar tengkurap. Lokasi masih dirumah Eddy.
Lalu terlihat saat Ghibran dan Ghifari yang sedang merangkak. Adit dan Eddy menyadari ketika melihat video itu. Rupanya sejak dulu selain membuat foto, Dinda selalu membuat video.
Tentu saja video itu sudah diedit tiap potong ada beberapa bagian yang tidak lengkap. Ada bagian yang Dinda sembunyikan.
“Kayaknya dia mengambil banyak video ini dari rekaman CCTV yang selalu stand by sehingga terlihat semua gerakan Ghibran dan Ghifari Pa,” komen Adit melihat semua hal itu.
Eddy dan Adit melihat saat si kembar bangun tidur dan uyel-uyelan berdua tanpa kehadiran Dinda. Lalu berikutnya Dinda memperlihatkan bagaimana keduanya tumbuh gigi dan terlihat menggigit TEETHER dan liurnya ngences. Air mata Adit meluncur bebas tanpa bisa dibendung melihat perkembangan kedua buah hatinya.
“Ma ma ma ma,” kata Ghifari. Semakin besar perbedaan Ghifari dan Ghibran makin jelas. Yaitu perbedaan jenis rambut keduanya. Ghifari berambut tebal lurus seperti Radit sedang Ghibran agak tipis tapi berombak seperti rambut Dinda.
Lalu terlihat video bagaimana mereka tertatih-tatih merambat, Eddy dan Adit hanya bisa menatap bahagia bahwa perkembangan anak atau cucu mereka sehat.
Dinda juga mengirim saat mereka rewel diimunisasi. Satu menangis dalam gendongan Dinda dan yang satunya terbaring didahi keduanya ada kompres instan.
“Kenapa? Sakit ya? Giginya mau nambah ditambah tadi habis imunisasi. Jagoan- jagoan Bunda rewelnya koq gitu,” terdengar suara Dinda membujuk keduanya dengan penuh kelembutan.
Adit dan Eddy melihat bagaimana telatennya Dinda yang wajahnya disamarkan, dibuat blur oleh Dinda.
\*\*\*
“Ini siapa?” terdengar suara Dinda memperlihatkan foto yang tak terlihat oleh kamera. 2 bayinya sedang tiduran terlentang saat melihat foto itu dan Dinda berbaring disisi mereka.
Tentu wajah Dinda kembali di blur
“TEK,” kata Ghibran dengan cepat.
“Ya betul, ade Iban bilang Kakek.”
“Siapa Mas?”
“YAK.” jawab Ghifari dia belum menyebut YAH dengan belakang H, tapi hanya dengan penekanan diakhir kata dengan huruf K sebagai akhiran kata.
__ADS_1
“Bukan Mas, ini bukan ayah, ini kakek. Kan udah Bunda kasih tahu. Ini kakek,” kata Adinda.
Eddy tentu otomatis meneteskan air mata dengan deras, dia tak percaya Dinda memperkenalkan dirinya pada kedua cucunya sejak awal.
“Ya itu kakek. Siapa Mas Fari?”
“Tek.”
“Ya benar, ini kakek,” kata Dinda lagi.
“Kan sudah Bunda kasih tahu berapa kali bawa itu kakek. Kalian kangen ayah? Ini kan foto ayah,” Adit dan Eddy melihat Dinda menukar foto.
“Siapa ini?”
“YAH,” Ghibran dengan cepat menjawab. Rupanya Ghibran itu responsif. Dia cepat menjawab. Ghibran rambut mirip Dinda tapi kalau respon seperti Adit.
Sedang Ghifari seorang pemikir. Dia memilih berpikir dulu baru bicara. Persis seperti Adinda yang selalu memikirkan tiap langkah yang mau dia ambil. Tapi rambut kepala mirip Adit.
“Ya ini Ayah,” kata Dinda.
“Siapa tahu kalian bertemu dengan dia,” lanjut Dinda lagi.
Eddy dan Adit tak malu menangis berdua ya mendengar bahwa Ghifari dan Ghibran mengenal dirinya lewat foto yang diberikan oleh Dinda.
“Ini ayah. Kalau kalian suatu saat ketemu kalian akan tahu ini ayah. Walau dia bawa anak orang lain atau dia bersama orang lain tetapi kalian tahu ini ayah kalian semoga kalian sempat bertemu dengannya walau tak perlu kalian perkenalkan diri padanya. Cukup kalau kalian tahu dia ayah kalian.” kata Dinda saat itu.
Eddy kaget mendengar Dinda mengucapkan kata-kata itu pada kedua cucunya, Adit hanya diam.
“Ini siapa?” kali ini Dinda memperlihatkan satu foto lagi/
“NDA,” kata Ghibran cepat.
“Benar ini Bundanya Mas Fari sama De Iban.”
“Rupanya dia dipanggil Iban ya Pa,” komentar Adit.
__ADS_1
“Ya mungkin mereka berdua masih sulit kan menyebut Ghibran.”|
\*\*\*
“Akhirnya cukup kiriman saya kali ini. Saya sudah memperingatkan. Begitu saya lihat anda masih mencari diri saya, akan saya putuskan kiriman foto maupun video tentang kegiatan atau perkembangan anak-anak saya.”
“Pilihan ada di tangan anda Pak Eudyanto Alkav. Silakan pilih dengan cerdas. Selamat tinggal.” Video berakhir dengan Ghibran dan Ghifari yang saling suap es krim dan wajah mereka belepotan.
Dinda hanya tertawa melihat kelakuan keduanya.
“Kalian maem sendiri aja kenapa sih pakai saling suap gitu? Sayang ya sama Mamas sama Ade?” kata Dinda sambil menghapus sedikit kotoran dimulut kedua anaknya untuk mengurangi sedikit blepotan di wajah kedua anak kembarnya lalu video selesai.
\*\*\*
“Berat Pa. Ini sangat berat. Ancaman Dinda itu tak bisa dianggap enteng. Kita tahu sejak dulu dia harus dipatuhi.”
“Tapi di lain pihak aku sangat takut kehilangan dia jadi tak mungkin aku tak mencarinya.
“Kita pasti akan kehilangan dia kalau kita terus mencarinya. Lebih baik kita menyerahkan pada Allah. Bagaimana caranya kalian bisa bertemu lagi.” Eddy pasrah.
“Kita nyari berdua aja pura-pura kita lagi jalan-jalan jangan nyuruh detektif lagi karena rupanya dia tahu Pa. Enggak mungkin Dinda nggak tahu lalu bilang seperti itu pasti dia bilang seperti itu karena dia tahu kita cari posisi dia.” Adit memberi analisa apa yang Dinda katakan di video.
“Kalau dia tahu Pa, berarti dia ada di dua lokasi yang kita cari itu.”
“Ya betul,” kata Eddy setuju.
“Jadi sekarang bilang pada kedua team pencari untuk berhenti mengikuti atau mencari Dinda karena dia tahu. Sekarang kita aja yang bergerak pura-pura jalan atau apa kita yang berdua cari kalau kita yang cari kan ada alasan teman atau saudara.”
“Oke Pa, betul,” kata Adit.
“Kita menyudahi pencaharian seperti permintaan Dinda. Dengan terpaksa aku setuju seperti itu. Walau akan lebih lambat menemukannya karena kan kita nyarinya pasti saat week end saja. Karena Dinda tak pernah keluar malam, jadi kita tak mungkin mencarinya sepulang kerja.”
Sesuai dengan perintah Dinda, Adit menyudahi mencari anak dan istrinya dengan bantuan detektif.
Penerimaan Adit atas balas dendam istrinya sudah mencapai titik tertinggi dia sudah pasrah tak akan pernah lagi mencari ketiganya dengan terbuka dengan detektive. Adit akan telaten METANI atau seperti mencari kutu, harus sabar dan telaten agar tak membuat Dinda marah padanya.
Sampai sini cerita balas dendam Dinda buat Adit TAMAT. Kita ketemu di cerita berikut yaitu tentang Ghifari dan Ghibran dengan judul GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN. Novel sudah rilis sejak kemarin loh.
__ADS_1