REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
INGIN LIHAT DIA MASUK SUMUR!


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




"Apa yang akan terjadi Pa?" Adinda tak bisa membayangkan apa yang terjadi sebentar lagi.



Sudah setengah bulan berlalu sejak pengusiran Radite dari rumah dinas milik Dinda. Pagi ini Eddy meminta Shindu memanggil Radite ke ruangannya.



"Kita lihat aja dia mau pingsan atau mau bunuh diri setelah mengetahui semuanya." Jawab Eddy.



"Iya Pa. Terima kasih Papa selalu dukung aku."



"Sejak kecil Radite memang anak bodoh. Mungkin karena susah keluar saat melahirkan lalu dia ditarik dengan forcep, tapi mungkin juga bukan. Yang pasti dia agak lemah dalam pelajaran."



"Radite '*menutupi*' kekurangannya dengan berlaku nakal agar dia bisa kelihatan oleh Papa dan mama karena tak punya prestasi apa pun yang bisa dibanggakan."



"Andai saja dia rajin, mungkin nilai yang ia dapat tak akan jeblok. Tapi dia malas dan lebih sering main."



"Mamanya tak pernah melarang dan menghukumnya, mungkin karena merasa hanya Radite yang bisa dia lahirkan."



"Saat dia masih kuliah, mamanya minta papa masukkan dia di kantor. Walau tak punya kemampuan apa pun."



"Kalau Papa enggak minta bantuanmu membimbing dia menulis skripsi entah apa jadinya, mungkin akan jadi mahasiswa abadi saja."



"Dia tak ada prestasi dimana pun baik olah raga, seni atau lainnya. Sampai mamanya meninggal, Papa masih menerima dia, tapi sejak mamanya meninggal Papa merasa percuma punya anak tak berguna seperti Radite."



"Sekarang ditambah lagi kelakuan minusnya. Papa sudah tak bisa memaafkan dan menerima dia kembali." 



"Sudah bagus bisa diterima kerja karena ini perusahaan Papa, tapi dia malah salah jalan. Kalau dia terus denganmu nggak akan begini."

__ADS_1



"Kenyataannya dia harus cari solusi terbaik sendiri. Tapi sudahlah, nasi sudah jadi bubur. Dia yang memilih sumur untuk dirinya sendiri."



"Papa benar-benar ingin melihat dia nanti nyemplung ke sumur saat dia datang," jawab Eddy dengan sedih.


\*\*\*



"Pak Radit, ditunggu pak Eddy sekarang juga." Shindu mendatangi cubicle Radite setelah minta izin pada Usman sebagai kepala gudang.



"Ada apa Pak?" Tanya Radite,  saat Shindu datang.



"Saya tak tahu, saya hanya diminta mengatakan kalau pak Radite dipanggil Pak direktur untuk menghadap," jawab Shindu.



"Baik Pak," jawab Radite. Lelaki itu  pun mengikuti Shindu. Shindu sudah izin lebih dulu pada Usman untuk membawa Radite ke luar karena dipanggil oleh Pak Eddy.



"Pak Usman, saya permisi," pamit Shindu.




"Permisi Pak Usman saya dipanggil oleh Pak direktur." Pamit Radite pada atasan langsungnya.



"Iya Dit monggo," sahut Usman dengan rikuh.


\*\*\*



"Iya Pa, Ada apa?" Radite yakin ini menyangkut masalah keluarga karena dia lihat Dinda ada di ruangan itu.



"Silakan duduk," Eddy mengeluarkan sebuah map bertulisan pengadilan agama.



"Ini buat kamu," sodor Eddy. Radit kaget melihat itu. Dia melihat wajah Dinda santai saja.



"Secara hukum agama dan negara kalian sudah resmi bercerai." Jelas Eddy.

__ADS_1



"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Saya tidak menerima permohonan cerai dari Dinda dan saya juga tidak mengajukan cerai!" Ngotot Radite tak menerima kalau dia dan Dinda sudah resmi bercerai.



Radite melihat akta cerai dari Pengadilan Agama untuk dirinya!



"Enggak perlu ada permohonan. Uang bicara. Seperti itu kan yang kamu lakukan selama ini?"



"Uang bicara saat kamu menipu semua orang, menipu perusahaan. Uang bicara kan saat kamu membelikan batik Cilacap yang Papa pesan pada Shalimah saat dia di Bengkulu?"



"Yang penting semua tercapai kan? Papa belajar dari kamu soal kelicikan. Jadi terima itu."



"Langkah kedua kamu buka amplop laboratorium klinik!" Perintah Eddy. Radite melihat amplop putih dengan logo laboratorium klinik.



"Tidak mungkin, ini tidak mungkin!" Radite membantah dengan suara agak keras dan menggeleng.



"Bagaimana tidak mungkin kalau sampelnya adalah rambutmu dan rambut Bramantyo yang kamu akui sebagai anakmu?"



"Sejak mamamu ada, Papa tahu kelakuan Shalimah. Dia penyuka \*\*\*\* seperti  ibu kandungnya yang sampai jual diri!"



"Papa dan mama pikir kami bisa mendidiknya dengan benar, ternyata sejak SMA dia sudah seperti piala bergilir."



Radite masih tak percaya kalau Bramantyo bukan anaknya. Tepatnya bukan anak kandungnya.



"Papa harus memastikan siapa Bramantyo, karena akan berkaitan dengan surat waris di depan notaris."



"Sekarang setelah jelas kalau dia bukan apa apa kamu, Papa lega bikin surat waris karena Shalimah dan anaknya tak bisa menggugat keputusan Papa."



"Dan ini tambahan surat dariku," Adinda menyodorkan amplop surat dengan logo rumah sakit internasional tempat Radite dan Dinda pernah kontrol kesehatan atas perintah papanya.


__ADS_1


Tangan Radite bergetar membaca hasil test kesehatan itu. Matanya berkunang-kunang karena disana tertulis dirinya MANDUL!


__ADS_2